Truth Daily Enlightenment

Nilai-Nilai Dan Pola Berpikir


Listen Later

Hati nurani memiliki nilai-nilai atau value dalam kehidupan ini, yaitu cara memandang sesuatu. Nilai-nilai ini terbangun sejak kecil, ketika seorang anak manusia mulai memiliki kesadaran. Orang pertama yang mengajarkan nilai-nilai adalah orang tua. Dalam hal ini keluarga adalah tempat pendidikan hati nurani yang pertama. Dalam keluarga, seorang anak manusia mulai memiliki kesadaran mengenai yang baik dan buruk, indah dan tidak indah, menguntungkan dan merugikan, membahagiakan dan tidak membahagiakan, memiliki nilai tinggi dan tidak bernilai, mulia dan hina, sopan dan tidak sopan dan lain sebagainya. Dari hal ini seorang anak manusia mulai menimbang apa yang harus dimasukkannya ke dalam roh atau neshamah-nya. Ketika masih kanak-kanak, pertimbangan-pertimbangannya belum kokoh dan citarasa jiwanya belum permanen. Dari hal ini seseorang memiliki pola berpikir. Selanjutnya lingkungan pendidikan, pergaulan, dan berbagai sumber dari berbagai media (internet, televisi, instagram dan lain sebagainya) mengisi jiwanya, yang kemudian dimasukkan ke dalam roh (neshamah). Ketika sudah mulai dewasa, seorang anak manusia sudah memiliki ukuran pertimbangan yang kokoh dan citarasa jiwa yang permanen. Semakin dewasa atau tua, pola berpikir seseorang semakin permanen dan tidak dapat diubah lagi.
Dari hal tersebut berlangsung proses pembentukan nurani. Nurani terdapat pada roh atau neshamah. Nurani merupakan inti kehidupan seseorang, sebab kualitas manusia itu terdapat pada nuraninya. Nurani seseorang pasti terekspresi dalam perilakunya. Jadi, kalau yang selalu diterima oleh jiwa bukan kebenaran, maka nuraninya menjadi rusak. Hal ini menunjukkan bahwa nurani ada di dalam neshamah; bukan sesuatu yang statis, tetapi progresif seirama dengan pertumbuhan fisik, kesadaran dalam jiwanya dan apa yang dimasukkan melalui inderanya. Hati nurani terbangun melalui perjalanan waktu yang panjang. Itulah sebabnya kalau seseorang dalam waktu lama menerima masukkan yang buruk, maka hati nuraninya terbangun buruk sampai tidak bisa diubah lagi.
Pada umumnya hati nurani diberi pengertian sebagai suatu dorongan keinsyafan batin yang dimiliki seseorang untuk mengontrol sikap dan perilaku seseorang dan yang menggerakkannya dalam mengambil keputusan. Setiap kali seseorang mengambil keputusan, pasti berdasarkan keinsyafan batinnya tersebut. Dengan demikian hati nurani menunjuk adanya suatu kemampuan khas yang ada pada manusia dari fenomena moralnya untuk menimbang dan mengukur guna mengambil keputusan. Oleh karena besar peranan hati nurani dalam kehidupan seseorang, maka orang percaya bertanggung jawab mendewasakan hati nuraninya. Mendewasakan hati nurani artinya bagaimana hati nurani memiliki keinsyafan yang berkualitas tinggi seperti Tuhan sendiri.
Kalau keinsyafan batin seseorang menjadi dewasa, yang sama artinya dengan berkualitas tinggi seperti Tuhan sendiri, maka segala tindakannya akan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah sesungguhnya tujuan keselamatan itu. Dalam proses keselamatan, hati nurani didewasakan untuk menjadi hati nurani yang berkualitas seperti Tuhan. Kalau keinsyafan batinnya berkualitas tinggi seperti Tuhan, ini berarti memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Dengan demikian, dengan sendirinya seseorang dapat berperilaku seperti Tuhan sendiri. Dalam hal ini harus dipahami bahwa hati nurani, bukan sesuatu yang statis, tetapi dapat progresif. Setiap individu bertanggung jawab terhadap keadaan nuraninya. Nurani inilah yang nantinya diperhadapkan kepada pengadilan Allah.
Faktor yang sangat penting dalam pembentukan nurani adalah lingkungan, artinya yang menjadi media di mana jiwa mendapat masukkan. Nurani memiliki warna dari apa yang diterima oleh jiwa dari lingkungannya melalui jendela inderanya, khususnya apa yang dilihat dan didengar. Dari hal ini dapat dipahami, kalau dunia (lingkungan) semakin jahat atau rusak, maka nurani manusia semakin jahat atau rusak pula.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings