Dalam beberapa ayat, Alkitab menunjukkan bahwa hati nurani juga berfungsi sebagai pengawas dan pengontrol kehidupan seseorang. Hati nurani adalah polisi kehidupan yang menunjukkan kesalahan dan langkah yang harus ditempuh. Dalam Roma 13:5 tertulis: Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Hati nurani dalam teks ini adalah suneidesis (συνείδησις) yang sama artinya dengan suara hati. Dalam teks ini Paulus menasihati agar orang percaya untuk menundukkan diri kepada pemerintah, bukan saja karena takut kepada murka Allah, tetapi juga karena suara hati atau hati nurani dalam diri manusia. Hati nurani dapat menekan seseorang agar menaklukkan diri kepada pemerintah, tentu hati nurani yang sejak kecil diasah untuk mematuhi hukum negara. Kalau hati nurani dapat diasah untuk mematuhi hukum negara, maka hati nurani juga dapat mematuhi kehendak Tuhan. Paulus berbicara ini kepada mereka yang hati nuraninya bisa dipercayai searah atau seiring dengan suara Tuhan.
Roh Kudus menggunakan saluran hati nurani manusia untuk berbicara kepada manusia itu sendiri, tentu hal ini terjadi dalam kehidupan orang-orang yang hati nuraninya diisi dengan kebenaran Firman Tuhan. Kalau jiwa -di mana ada pikiran dan perasaan- adalah sarana untuk berinteraksi dengan lingkungan melalui mata dan telinga, sangat besar kemungkinan Roh Kudus berinteraksi dengan manusia melalui hati nurani dan jiwanya. Dalam hal ini hati nurani dapat menjadi pengontrol atas kehidupan seseorang dalam perilakunya oleh pimpinan Roh Kudus. Hati nurani bisa merupakan pikiran dan perasaan roh manusia. Dengan ini kita mengerti mengapa dikatakan bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 29:27). Roh manusia dalam teks ini adalah “neshamah”. Kata ini juga ada dalam Kejadian 2:7. Ini adalah komponen yang memungkinkan manusia dapat memiliki kecerdasan seperti Allah untuk memahami apa yang baik dan jahat dari perspektif Allah. Kata neshamah ternyata juga bisa berarti divine inspiration (inspirasi Ilahi) dan intellect (kecerdasan; tentu kecerdasan sesuai dengan pikiran Allah). Roh manusia (neshamah) bisa menjadi pelita Tuhan, kalau hati nuraninya didewasakan oleh kebenaran Firman Tuhan secara memadai.
Hati nurani yang dapat dipercaya adalah hati nurani yang dewasa, sehingga memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Hati nurani seperti ini adalah hati nurani yang satu chemistry atau satu unsur dengan Allah. Sangatlah mungkin maksud pikiran Kristus dalam Filipi 2:5-7 (Yun. phroneo) menunjuk pada pikiran dalam hati nurani atau yang sama dengan cara berpikir atau mindset. Mindset yang cerdas dapat menjadi pengawas yang cerdas pula, yaitu kalau hati nuraninya telah didewasakan oleh kebenaran Firman Tuhan. Dalam hal ini, hati nurani bisa menjadi pengawas yang “mengancam” dengan keras pada waktu seseorang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Setiap kesalahan yang dilakukan yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan yang dipahami akan membangkitkan ancaman terhadap diri orang tersebut. Ancaman tersebut adalah teguran.
Kalau suara hati nurani tidak didengar, maka ia akan memberi hukuman, yaitu suasana jiwa orang tersebut menjadi tidak sejahtera; merasa kehilangan perasaan damai dan ketenangan. Jadi kalau kita berbuat sesuatu yang membuat sejahtera kita hilang, maka kita harus mulai mengoreksi diri: apakah ada tindakan yang kita lakukan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan? Kalau kita menyadari kesalahan kita, maka kita harus segera melakukan pertobatan. Kalau hukuman ini tidak dipedulikan, artinya tidak mau dikoreksi dan tidak mau bertobat, maka seseorang akan menjadi keras kepala dan tidak bisa diubah lagi. Kadang-kadang untuk menyadarkan seseorang Tuhan terpaksa menegur melalui suatu kejadian, tetapi kalau melalui suatu kejadian masih tidak mau bertobat maka Tuhan membiarkannya. Ini berarti tahapan menuju kondisi menghujat Roh Kudus.