Orang percaya yang setia kepada Yesus tidak mungkin disikapi ramah oleh dunia. Yesus sendiri berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh. 15:18-21).
Orang percaya pasti teraniaya oleh dunia ini. Aniaya itu bisa terjadi secara harfiah—yaitu dengan persekusi atau penganiayaan secara fisik, seperti zaman rasul-rasul dan gereja mula-mula—tetapi juga bisa secara jiwani (psikis). Dalam 2 Timotius 3:12, firman Tuhan mengatakan: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Kata ‘hidup beribadah’ dalam teks aslinya adalah eusebos (εὐσεβῶς) yang artinya piously, godly (hidup saleh, suci, atau rohani). Orang yang hidup saleh atau hidup suci adalah orang-orang yang tidak hidup menuruti hikmat dunia atau penguasa kegelapan. Orang-orang percaya yang hidup suci ini pasti hidup dalam tekanan, persekusi, dan ketidaknyamanan. Itulah kehidupan normal orang percaya yang sungguh-sungguh mengikut Yesus.
Dalam sejarah gereja mula-mula, Allah melepaskan kekristenan dari pengaruh spirit agamani dengan cara membangkitkan aniaya dari pihak pemimpin agama Yahudi kepada orang-orang percaya. Pada waktu itu, orang percaya baru disebut sebagai orang Kristen karena perilaku mereka seperti Yesus. Allah juga membuat perpisahan antara kekristenan dengan dunia atau dari pengaruh hikmat dunia dengan membangkitkan aniaya dari pihak kekaisaran Roma. Penganiayaan tersebut merupakan cara Allah memelihara gereja-Nya, seperti yang ditulis dalam Wahyu 12:6, “Maka wanita itu lari ke padang gurun, ke tempat yang sudah disediakan oleh Allah baginya. Di tempat itu ia akan dipelihara 1260 hari lamanya.” Padang gurun selalu berbicara mengenai keadaan sulit. Tetapi justru dalam kesulitan tersebut, iman Kristen terpelihara. Dalam keadaan aniaya, orang Kristen dapat menjaga kenormalannya sebagai pengikut Yesus. Dengan demikian, penganiayaan yang dialami oleh percaya adalah berkat kekal dari Allah.
Ketika gereja mulai mendapat “angin segar” dari dunia—yaitu ketika kaisar Roma memberi maklumat yang disebut sebagai maklumat Milan (edict of Milan), dimana orang Kristen diberi keleluasaan untuk menjalankan keimanannya pada tahun 313—pada dekade itu kekristenan mulai diterima oleh kekaisaran Roma dan masyarakat luas. Kaisar-kaisar Roma mulai memeluk agama Kristen. Menyedihkannya, justru setelah tidak ada aniaya terhadap orang percaya, orang-orang Kristen tidak lagi memiliki kehidupan Kristen yang benar, atau yang normal di mata Allah sesuai dengan yang Yesus jalani. Gereja malah bersahabat dengan dunia. Inilah awal kemerosotan kekristenan sampai hari ini. Kenormalan hidup orang percaya yang dikenakan rasul-rasul dan jemaat mula-mula tidak lagi dikenakan orang Kristen sejak saat itu. Kehidupan mereka menjadi berubah tidak normal di mata Allah, yaitu ketika kenyamanan hidup ada dalam kehidupan orang-orang Kristen. Orang-orang Kristen mulai tidak mengikut Yesus, tetapi mengikut penguasa dunia. Ini namanya normal baru (new normal) yang bertentangan dengan kekristenan awal yang sejati.
Pada dasarnya, kehidupan normal orang percaya yang benar adalah mengenakan gaya hidup atau cara hidup Yesus dalam segala hal. Ini adalah gaya hidup yang tidak dikenal oleh dunia. Tentu saja dengan gaya hidup yang tidak dikenal oleh dunia ini, dunia menjadi asing bagi orang percaya; atau di lain pihak,