Perspektif

Part 1. AI dan Strategi Perang yang Bertanggung Jawab


Listen Later

(Taiwan, ROC) --- Ada lebih dari 60 negara di dunia, termasuk Amerika Serikat dan Tiongkok berkumpul di Den Haag, Belanda, pada pertengahan bulan Februari lalu, untuk kemudian menandatangani pernyataan yang mendukung penggunaan inovasi Kecerdasan Buatan (AI) di sektor militer.

Meskipun tidak mengikat secara hukum, tetapi pernyataan di atas dianggap sebagai sebuah langkah penting bagi dunia internasional untuk membuat perjanjian di sektor persenjataan yang menggunakan inovasi AI.

 

Militerisasi AI = Tantangan Global Saat Ini

Secara bertahap, penerapan inovasi AI di sektor militer mulai memberikan tantangan tersendiri. Ada lebih dari 60 negara dunia berkumpul di Den Haag, Belanda, untuk menggelar pertemuan puncak pada pertengahan Februari lalu, guna membahas dukungan penggunaan AI di sektor militer. Tentu saja, penggunaan AI di atas harus didasari prinsip-prinsip yang mendasar dan bertanggung jawab.

Pertemuan puncak tersebut belum menghasilkan pernyataan yang mengikat. Sebagai salah satu negara besar, Rusia, tidak diundang dalam pertemuan bersangkutan. Israel di lain pihak, memilih untuk tidak menandatangani pernyataan yang dihasilkan.

Pertemuan akbar diadakan di saat minat dan perhatian warga dunia tengah tertuju pada perusahaan Open AI yang baru saja merilis situs ChatGpt.

Inovasi pemindaian wajah manusia dan sistem penargetan yang selama ini dibantu oleh AI, kian disorot banyak pihak. Pertemuan puncak di Den Haag juga adalah yang pertama bagi komunitas internasional untuk membahas perihal AI.

Menteri Luar Negeri Belanda, Wopke Hoekstra menyampaikan, “Kami mengambil langkah pertama untuk memberikan kejelasan dan komitmen perihal penggunaan AI di sektor militer secara bertanggung jawab.”

AI merupakan pengembangan sistem komputerisasi yang bisa mencakup banyak sektor kehidupan umat manusia. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah membuka lebih banyak peluang AI di sektor militer.

AI disinyalir mampu memberikan potensi besar untuk mendukung para prajurit dalam menjalankan misi mereka. Dengan demikian, keunggulan militer suatu negara tidak akan lagi ditentukan oleh ukuran kekuatan, melainkan datang dari kinerja algoritma.

Dalam berbagai kesempatan, AI tentu dapat mendatangkan manfaat lebih bagi sektor militer. Misalnya, penggunaan AI dalam simulasi pertempuran, guna meningkatkan efisiensi operasional, yang mana akan mengurangi ketergantungan pada input manusia.

Selain itu, inovasi AI juga dapat mengurangi angka korban manusia, serta lebih menghemat uang dan waktu.

 

Robot Mampu Membunuh Tanpa Perlu Campur Tangan Manusia

Meski dunia mulai memprioritaskan pemahaman terhadap potensi AI di sektor operasi militer modern, tetapi penting juga untuk menyadari risiko keamanan dan masalah etika yang mungkin akan mencuat pada saat yang sama.

Negara-negara yang pernah menandatangani “Konvensi PBB Tentang Persenjataan Konvensional” pada tahun 1983, telah membahas kemungkinan pembatasan pada sistem senjata otonom yang mematikan.

Negara-negara anggota bersangkutan percaya jika senjata tersebut dapat membunuh meski tidak mendapat campur tangan manusia.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

PerspektifBy Yunus Hendry, Rti