
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- PBB di lain pihak, telah mengadakan pertemuan pertamanya untuk membahas persoalan “Automatic firearm” pada tahun 2017. Di kala tersebut, para ahli memperingatkan, di tengah pesatnya perkembangan sistem persenjataan otonom dan robotik, membuat dunia internasional kian membutuhkan sebuah konsensus untuk menetapkan batasan dalam mengatasi persoalan hukum dan etika yang mendasar.
Meski demikian, pertemuan akbar yang digelar di Den Haag pada pertengahan bulan Februari, belum membahas perihal “slaughterbots”, atau potensi AI dalam meningkatkan risiko konflik militer.
Kelompok Serangan Drone yang Dikendalikan AI
Kumpulan drone yang melancarkan serangan, seluruhnya dioperasikan oleh inovasi AI. Hal ini tentu telah mengubah esensi dari pertempuran UAV (Unmanned Aerial Vehicle) itu sendiri, dari yang awalnya menggunakan mode kendali jarak jauh, kini digantikan dengan konfrontasi antara mesin AI.
Perang Ukraina Rusia juga telah menjadi tempat pengujian bagi drone mematikan, yang mana ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Ukraina sebelumnya diketahui pernah mengklaim bahwa mereka telah meluncurkan drone untuk menyerang Armada Laut Hitam Rusia. Semenjak itulah, Ukraina akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan dana guna membentuk dan melatih “Armada Drone AL” pertama di dunia.
Di lain pihak, Iran mengklaim bahwa Rusia juga menggunakan kendaraan udara tak berawak Shahed-136 dalam melancarkan serbuan ke sarana infrastruktur utama Ukraina.
Kepada media Insider, seorang ahli di University of Southern Denmark, Ingvild Bode menyampaikan bahwa serangan drone bukanlah faktor penentu saat ini, melainkan tank dan kesiapan artileri masih mendominasi situasi peperangan di Ukraina.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri kalau dominasi pesawat drone kian meluas dari hari ke hari, baik secara skala maupun variasinya.
Hal ini tentu akan membuat perkembangan AI di dunia militer akan melesat pesat melampaui kapal selam, tank dan pendaratan tentara amfibi.
Alex Karp, CEO Palantir Technologies Inc menyampaikan, keberhasilan AI dalam perang di Ukraina telah mendorong para pemimpin dunia lainnya untuk mulai mengembangkan AI, yang mana akan mengubah aturan main di lapangan.
Otak Manusia VS AI
Inovasi AI yang berkembang sangat pesat, ternyata tidak dibarengi dengan peraturan dunia internasional, yang menentukan tingkat keterlibatan manusianya. Hal ini tentu kemudian mendatangkan keprihatinan dari para ahli, perihal bagaimana objektivitas dari manusia bersangkutan untuk mengambil keputusan dalam sebuah peperangan.
Ingvild Bode menuturkan, ia khawatir jika AI ditempatkan di medan perang, tanpa benar-benar memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.
Ada juga ahli drone yang percaya bahwa teknologi militer yang dilengkapi inovasi AI akan mempercepat peradaban manusia untuk hidup di dalam kekacauan.
James Rogers yang adalah seorang ahli drone yang sering kali memberikan nasihat kepada PBB, menyampaikan, teknologi akan segera mencapai titik di mana manusia tidak perlu terlibat sama sekali. Manusia-manusia ini nantinya juga akan menyaksikan bagaimana AI dan robot mulai memutuskan kematian dari seorang manusia.
Hal ini juga menyoroti akan pentingnya menerapkan norma terhadap penggunaan AI di sektor militer. Sama halnya dengan yang pernah dilontarkan oleh Menlu Belanda, Wopke Hoekstra di Den Haag, “Kami tengah memasuki area yang tidak kami ketahui. Area ini tidak memiliki kerangka kerja, pedoman, aturan atau bahkan kesepakatan. Namun, cepat atau lambat, kita semua pasti membutuhkannya.”
By Yunus Hendry, Rti(Taiwan, ROC) --- PBB di lain pihak, telah mengadakan pertemuan pertamanya untuk membahas persoalan “Automatic firearm” pada tahun 2017. Di kala tersebut, para ahli memperingatkan, di tengah pesatnya perkembangan sistem persenjataan otonom dan robotik, membuat dunia internasional kian membutuhkan sebuah konsensus untuk menetapkan batasan dalam mengatasi persoalan hukum dan etika yang mendasar.
Meski demikian, pertemuan akbar yang digelar di Den Haag pada pertengahan bulan Februari, belum membahas perihal “slaughterbots”, atau potensi AI dalam meningkatkan risiko konflik militer.
Kelompok Serangan Drone yang Dikendalikan AI
Kumpulan drone yang melancarkan serangan, seluruhnya dioperasikan oleh inovasi AI. Hal ini tentu telah mengubah esensi dari pertempuran UAV (Unmanned Aerial Vehicle) itu sendiri, dari yang awalnya menggunakan mode kendali jarak jauh, kini digantikan dengan konfrontasi antara mesin AI.
Perang Ukraina Rusia juga telah menjadi tempat pengujian bagi drone mematikan, yang mana ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Ukraina sebelumnya diketahui pernah mengklaim bahwa mereka telah meluncurkan drone untuk menyerang Armada Laut Hitam Rusia. Semenjak itulah, Ukraina akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan dana guna membentuk dan melatih “Armada Drone AL” pertama di dunia.
Di lain pihak, Iran mengklaim bahwa Rusia juga menggunakan kendaraan udara tak berawak Shahed-136 dalam melancarkan serbuan ke sarana infrastruktur utama Ukraina.
Kepada media Insider, seorang ahli di University of Southern Denmark, Ingvild Bode menyampaikan bahwa serangan drone bukanlah faktor penentu saat ini, melainkan tank dan kesiapan artileri masih mendominasi situasi peperangan di Ukraina.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri kalau dominasi pesawat drone kian meluas dari hari ke hari, baik secara skala maupun variasinya.
Hal ini tentu akan membuat perkembangan AI di dunia militer akan melesat pesat melampaui kapal selam, tank dan pendaratan tentara amfibi.
Alex Karp, CEO Palantir Technologies Inc menyampaikan, keberhasilan AI dalam perang di Ukraina telah mendorong para pemimpin dunia lainnya untuk mulai mengembangkan AI, yang mana akan mengubah aturan main di lapangan.
Otak Manusia VS AI
Inovasi AI yang berkembang sangat pesat, ternyata tidak dibarengi dengan peraturan dunia internasional, yang menentukan tingkat keterlibatan manusianya. Hal ini tentu kemudian mendatangkan keprihatinan dari para ahli, perihal bagaimana objektivitas dari manusia bersangkutan untuk mengambil keputusan dalam sebuah peperangan.
Ingvild Bode menuturkan, ia khawatir jika AI ditempatkan di medan perang, tanpa benar-benar memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.
Ada juga ahli drone yang percaya bahwa teknologi militer yang dilengkapi inovasi AI akan mempercepat peradaban manusia untuk hidup di dalam kekacauan.
James Rogers yang adalah seorang ahli drone yang sering kali memberikan nasihat kepada PBB, menyampaikan, teknologi akan segera mencapai titik di mana manusia tidak perlu terlibat sama sekali. Manusia-manusia ini nantinya juga akan menyaksikan bagaimana AI dan robot mulai memutuskan kematian dari seorang manusia.
Hal ini juga menyoroti akan pentingnya menerapkan norma terhadap penggunaan AI di sektor militer. Sama halnya dengan yang pernah dilontarkan oleh Menlu Belanda, Wopke Hoekstra di Den Haag, “Kami tengah memasuki area yang tidak kami ketahui. Area ini tidak memiliki kerangka kerja, pedoman, aturan atau bahkan kesepakatan. Namun, cepat atau lambat, kita semua pasti membutuhkannya.”