Dalam lingkungan orang-orang beragama, hal-hal yang bersifat atau bertalian dengan supranatural adalah hal-hal yang umum atau biasa. Bahkan, banyak orang beragama termasuk orang Kristen yang memandang bahwa keberagamaan—atau dalam hal ini kekristenan—harus diwarnai dengan hal-hal yang supranatural. Memang tidak bisa dibantah bahwa berurusan dengan Allah sama dengan berurusan dengan kuasa supranatural, tetapi hendaknya orang percaya harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam penyesatan dalam hal-hal yang menyangkut alam roh. Hal ini bisa merupakan celah atau saluran yang digunakan Iblis untuk menyesatkan gereja Tuhan di dunia. Ini merupakan sarana Iblis yang efektif dan sangat ampuh, sebab hal ini bersifat konsumtif bagi banyak orang Kristen di Indonesia, yang masyarakatnya memang sangat akrab dengan hal-hal yang bertalian dengan supranatural.
Dalam kekristenan, hal-hal yang berkenaan dengan alam roh atau supranatural, antara lain: nubuat, penglihatan, mimpi, pengalaman mendengar suara Tuhan, pengalaman dalam dunia orang mati atau pengalaman di surga dan di neraka, mukjizat, berbahasa roh, dan lain sebagainya. Membicarakan hal ini bukan berarti kita tidak setuju adanya fenomena tersebut. Kita percaya bahwa hal-hal tersebut juga ada di dalam Alkitab dan merupakan bagian dari karunia-karunia Roh. Tetapi kita harus teliti terhadap suatu fenomena alam roh dan memiliki kepekaan untuk membedakan, apakah hal-hal tersebut memang berasal dari Allah atau ternyata berasal dari kuasa gelap. Sering kali terjadi, yang diakui dan disaksikan sebagai karunia Roh ternyata hanya merupakan pengalaman jiwa seseorang yang diakui sebagai berasal dari Tuhan; padahal kenyataannya, hal tersebut hanya fenomena jiwa yang mistik. Dalam hal ini, Iblis masuk dalam jantung pelayanan gereja. Kalau Iblis tidak mampu menjangkau jantung gereja, dia bukanlah Lusifer yang pernah jatuh atau Iblis yang memberontak kepada Allah Bapa.
Harus diingat bahwa kuasa gelap mampu memalsukan dengan cerdas hal-hal yang berkenaan dengan alam roh, sampai-sampai sulit untuk membedakan mana yang berasal dari Allah dan mana yang berasal dari Iblis. Oleh sebab itu, hendaknya kalau kita melihat seseorang berbahasa roh, menyampaikan nubuat, penglihatan, mengadakan tanda ajaib, dan lain sebagainya, kita tidak gegabah meyakini bahwa itu semua berasal dari Tuhan. Pemalsuan seperti ini menggiring jemaat tidak pernah menemukan kebenaran Allah yang sejati. Penyesat-penyesat dalam gereja menciptakan kepalsuan yang sangat mirip dengan manifestasi yang benar dari Roh Allah. Hal inilah yang membuat orang percaya sulit membedakan karunia Roh yang asli dan yang palsu, sehingga orang pilihan pun bisa disesatkan. Berkaitan dengan hal ini, Paulus berkata bahwa di akhir zaman akan terdapat orang yang mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (1Tim. 4:1). Kalau dikatakan ajaran setan, bukan berarti hanya gereja setan, tetapi praktik pelayanan yang diakui sebagai pekerjaan Roh Kudus, padahal bukan.
Iblis adalah makhluk supranatural, sehingga mudah sekali memperdaya “hamba Tuhan” atau pendeta yang tidak dilengkapi dengan kebenaran Alkitab. Kemudian mereka menyesatkan jemaat yang memang tidak dapat diperdaya oleh keinginan daging atau pelanggaran moral berat tetapi membuka diri terhadap fenomena alam roh. Di antara orang-orang yang disesatkan ini, banyak orang tulus, tetapi ketulusan hati yang tidak disertai ketekunan belajar Firman, tidak membuat seseorang menjadi cerdas rohani. Orang-orang tulus akan lebih cepat menangkap kebenaran, selama nuraninya belum terlalu rusak oleh ajaran palsu. Iblis bisa saja tidak mendorong penyesat-penyesat dalam gereja untuk membunuh, berzina, atau melakukan perbuatan-perbuatan amoral lain yang nyata-nyata dianggap salah secara moral umum, tetapi Iblis mengecoh mereka dengan “pemalsuan” alam supranatural tersebut. Mereka menyangka bahwa mereka memperolehnya dari Tuhan, padahal mereka telah tertipu oleh Iblis.