Dalam beberapa gereja terdapat edaran kolekte beberapa kali, dengan warna kantong kolekte yang berbeda-beda. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan penggunaan atau peruntukan uang persembahan tersebut. Apakah ini benar? Tentu tidak bisa dikatakan salah, tetapi sulit untuk dibenarkan pula. Dalam kebaktian, di gereja-gereja tertentu, kantong kolekte diedarkan beberapa kali. Ada yang dua kali, sampai ada yang empat kali. Dalam gereja-gereja tertentu hal ini sudah menjadi budaya dan pola pemberian persembahan selama bertahun-tahun, puluhan tahun bahkan bisa sudah ratusan tahun. Jemaat sudah terbiasa dengan cara tersebut. Mereka tidak pernah mempersoalkan atau mempertanyakan hal persembahan ini. Mereka menganggap hal itu sudah sepantasnya atau bahkan dianggap sudah seharusnya.
Tidak jarang jemaat yang datang ke gereja, sebelum sampai ke pintu masuk gereja, sudah menukar uangnya di jalan. Mereka malu kalau tidak memasukkan tangan ke dalam kantong kolekte. Oleh sebab itu mereka harus memecah uang mereka untuk persembahan dalam beberapa lembar atau beberapa kelompok. Bukan tidak mungkin hal ini terjadi, karena mereka merasa malu jika tidak mengulurkan tangan memberi persembahan. Itulah sebabnya bisa terjadi, ada yang memasukkan tangan ke dalam kantong persembahan tanpa memberi, hanya karena mau memperlihatkan seakan-akan ia memberi persembahan, padahal ia tidak memberi persembahan sama sekali.
Seharusnya jemaat memercayai penggunaan uang persembahan yang diserahkan ke gereja. Sehingga pihak gereja dapat secara fleksibel menggunakan uang persembahan jemaat sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang bisa selalu berubah. Harus disadari bahwa kebutuhan pelayanan tidak selalu sama. Kalau uang persembahan sudah dibagi dalam beberapa “kavling”, maka penggunaannya tidak bisa fleksibel. Dengan alokasi kaku tersebut, gereja tertawan terhadap jumlah uang yang dipersembahkan jemaat. Seakan-akan jemaat dapat mengatur gereja dalam penggunaan uang persembahan yang termarjin di masing-masing lokasi.
Mengedarkan beberapa kantong tidaklah salah, terlebih kalau ada kebutuhan khusus gereja seperti: pembangunan gereja, membeli lahan parkir dan lain sebagainya. Untuk kebutuhan khusus tersebut bisa diedarkan kantong khusus atau amplop khusus. Tetapi kalau suatu gereja sudah membiasakan diri dengan cara tersebut bagi jemaat, yaitu mengedarkan bermacam-macam kantong persembahan (kolekte) untuk mengumpulkan persembahan, maka kebiasaan tersebut akan sulit untuk diubah.
Ada pula gereja yang menyediakan amplop dengan beberapa keterangan, di mana jemaat harus mencontreng salah satu pilihan. Maksudnya adalah guna menunjukkan peruntukan persembahan yang diberikan. Beberapa keterangan itu antara lain: Perpuluhan, diakonia, misi, pembangunan gereja, ucapan syukur naik gaji atau naik pangkat, istri mengandung, melahirkan anak, lulus dari sekolah atau kuliah dan lain sebagainya. Membaca tulisan amplop tersebut menimbulkan kesan lucu, tetapi itulah faktanya ada gereja memberlakukan hal tersebut.
Tanpa disadari pembagian persembahan seperti di atas, dengan berbagai keterangan tersebut, mengesankan Tuhan adalah Tuhan bayaran. Setiap kali Tuhan memberkati umat, maka Tuhan menagih uang untuk dibayar. Betapa murahannya Tuhan seperti itu. Gereja seperti ini tidak mendidik jemaat menjadi dewasa, yang belajar untuk memahami bahwa seluruh keberadaannya setiap saat adalah anugerah, berkat pemeliharaan, dan perlindungan Tuhan. Setiap tarikan nafas kita adalah berkat yang tidak bisa dibalas dengan apa pun juga, apalagi keselamatan yang Tuhan telah berikan sungguh tidak akan terbalaskan. Persembahan uang kepada Tuhan dengan berbagai keterangan bagi peruntukannya tersebut adalah sebuah pendidikan yang salah kepada jemaat.
Dengan pendidikan yang salah tersebut, jemaat mendapatkan gambaran yang salah mengenai Allah semesta alam yang benar. Mereka tidak mengenal dengan benar Bapa yang baik dan Tuhan Yesus yang kasih setia-Nya tidak berkesudahan.