“Yesus yang lain” mengajarkan bahwa karena pembenaran dapat terjadi atau berlangsung hanya oleh karena iman,perbuatan pun tidak terlalu perlu lagi dipersoalkan. Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus berjuang masuk jalan sempit untuk diselamatkan (Luk. 13:23-24),sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14),orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar sebab orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-12), danbanyak ayat yang menunjukkan bahwa ada panggilan bagi orang percayauntuk berjuang mengisi keselamatan yang Allah telah berikan agar memenuhi keselamatan tersebut dalam hidup masing-masing individu. Pengertian keselamatan hanya oeh anugerah bukan berarti menghilangkan tanggungjawab manusia dalam merespons anugerah yang Allah sediakan tersebut. Respons tersebut tidak boleh dimengerti sebagai jasa. Hanya oleh darah Yesus manusia dapat dibenarkan. Dalam pembenaran tersebut, manusia yng berdosa dapat diperhadapkan kepada Allah menjadi seakan-akan tidak berdosa.
Berbicara mengenai pembenaran,hal itu langsung menunjuk bahwa manusia adalah oknum yang telah bersalah yang telah membangkitkan murka Allah. Namun, oleh anugerah-Nya, manusia menerima tindakan yudisial Allah sebagai orang yang dideklarasikan tidak bersalah. Pembenaran ini semata-mataberangkat dari anugerah yang diberikan oleh Tuhan (Ti. 3:7; Rm. 3:24-28; 5:1; Gal. 2:16). Dengan pembenaran oleh kurban Tuhan Yesus ini, tidak ada manusia yang bisa membanggakan kesalehannya, sebab kesalehan manusia bukanlah sesuatu yang bernilai tanpa pengurbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Kalau tidak ada pembenaran, perbuatan baik bagaimanapun tidak berarti sama sekali (Yes. 64:6). Namun, orang yang dibenarkan bukan berarti berkeadaan benar-benar sudah benar. Manusia yang dibenarkan masih berkodrat dosa.
Pembenaran itu memiliki beberapa dimensi. Pertama, dimensi masa lalu (past).Artinya, bahwa kurban yang dikerjakan oleh Tuhan di kayu salib dua ribu tahun yang lalu merupakan tindakan sekali untuk selamanya bagi pembenaran manusia yang berdosa. Kedua, pembenaran aspek sekarang (present), yaitu bagi mereka yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia menerima pembenaran yang terjadi berjalan seiring dengan proses keselamatan. Ketiga,pembenaran dari dimensi yang akan datang (future). Artinya, suatu kali akan dinyatakan bahwa orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan.
Adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab kalau diajarkan doktrin bahwa pembenaran adalah tindakan seketika dan sepihak Allah kepada manusia yang mengaku percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus sebagai manusia yang dianggap benar (Rm. 3:28; 5:1; Gal. 3:24).Dalam hal ini, harus dijabarkan apa yang dimaksud dengan “beriman” itu. Dalam memahami kata “iman” dengan tepat menurut Alkitab, kita perlu memerhatikan bukan saja aspekkepercayaan secara pikiran atau persetujuan secara pikiran, melainkan juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan. Kalau “iman” hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran, itu belumlah dapat mencakup pengertian “iman” secara lengkap. Objek iman kita pada prinsipnya bukan sejumlah keinginan atau cita-cita kita, melainkankan pribadi Tuhan. Hal ini sesuai dengan pengertian “iman” dalam bahasa Alkitab yaitu aman (Ibrani) dan pisteuo (Yunani),yaitu menyerahkan diri kepada sesuatu atau seseorang yang bersifat tetap atau teguh. Pembenaran bisa terjadi kalau seseorang memiliki “iman.”
Pembenaran ini mengandung konsekuensi, sebab dengan menerima pembenaran, seseorang harus masuk kedalam proses untuk diubah terus agar benar-benar menjadi benar. Adalah kejahatan kalau Allah hanya membenarkan atau menganggap seseorang tidak bersalah, setelah itu manusia dibiarkan berpesta merayakan dan menikmati pembenarannya tanpa tanggung jawab. Pembenaran yang diberikan kepada manusia adalah pembenaran dengan tanggung jawab.