Hamba Tuhan atau pendeta pemula di kalangan gereja-gereja tertentu, khususnya aliran Kharismatik dan Pentakosta, hampir selalu memberitakan Injil dalam porsi sederhana, pemberitaan Firman yang disampaikan tidak mendalam. Pemberitaan Firman yang disampaikan biasanya sekitar memperkenalkan Yesus sebagai Juruselamat dan biasanya juga disertai dengan penekanan kepada mukjizat. Selain itu, biasanya juga memperkenalkan Tuhan sebagai pemberi berkat jasmani atau pemenuhan kebutuhan jasmani serta jalan keluar dari berbagai masalah kehidupan yang sukar.
Kalau mereka berbicara mengenai moral, maka kebaikan moral yang ditawarkan dan diajarkan adalah kebaikan moral secara umum, yang biasanya mengacu pada hukum-hukum yang dikenal dalam Alkitab, yang landasannya adalah Sepuluh Perintah Allah. Tetapi kalau hamba Tuhan tersebut bertumbuh, maka yang diajarkan mulai berubah. Tentu saja berubah progresif, lebih maju, dan mendalam. Pemberitaannya mulai lebih mendalam, yaitu sekitar kesucian hidup, memindahkan hati ke Kerajaan Surga, tidak terikat oleh dunia ini, kesiapan bertemu dengan Tuhan, dan hidup bertanggung jawab meneruskan proyek penyelamatan atas dunia. Hamba-hamba Tuhan seperti ini sudah tidak lagi melihat uang atau bayaran sebagai upah. Mereka akan berjuang tanpa batas untuk mengajarkan kebenaran Injil yang murni. Pada dasarnya Injil yang murni adalah proses kehidupan dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula; menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus.
Khotbah-khotbahnya tidak lagi menekankan penyelesaian masalah dengan mukjizat, tetapi usaha dan kerja keras. Pendeta atau hamba-hamba Tuhan yang bertumbuh di dalam Tuhan secara benar, akan mendorong orang lain untuk berusaha sempurna, sementara dirinya sendiri berjuang untuk menjadi teladan bagi orang percaya, bagaimana memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Memang hamba Tuhan tersebut terkesan menjadi sombong dan seakan-akan paling benar sendiri. Tidak heran kalau banyak penyerang mulai menyerang ajarannya yang dianggap keras, ekstrem, “tidak menginjak tanah”, dan sederetan kritikan lainnya. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali.
Seharusnya hamba-hamba Tuhan yang pada mulanya mengajarkan mukjizat, kemudian berhasil menghimpun massa dalam jumlah besar, bahkan berhasil membangun gereja besar, sekarang harus mengajarkan kebenaran Injil secara murni dan utuh untuk mewujudkan keselamatan yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Harus diingat bahwa mukjizat adalah tanda atau petunjuk arah, bukan goal atau tujuannya. Tuhan Yesus juga melakukan hal tersebut, kepada murid-murid-Nya di saat-saat tertentu tidak lagi berbicara mengenai mukjizat, tetapi mengajarkan mereka kebenaran agar mereka bisa diajak seperjuangan dengan Diri-Nya. Hal itu dimaksudkan agar pada akhirnya akan bersama-sama dengan Tuhan dalam Kerajaan-Nya (Luk. 22:24-30).
Kalau seorang hamba Tuhan bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang benar, sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, maka pastilah isi khotbahnya pun bertumbuh (progresif). Tetapi kalau seorang hamba Tuhan tidak bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang benar, sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, maka pastilah isi khotbahnya pun tidak bertumbuh. Jadi, kalau pemberitaan Firman yang disampaikan tidak berubah, berarti dia juga tidak mengalami perubahan atau pertumbuhan rohani. Faktanya, memang kita jumpai banyak pendeta atau hamba Tuhan yang khotbahnya tidak bertumbuh sama sekali. Biasanya mereka menjadi korban ajaran yang sedang marak atau digemari komunitas Kristen. Mereka jadi ikut-ikutan. Bagi seorang pendeta atau hamba Tuhan yang sudah menjadi “besar”, maka ia akan menciptakan “produk baru” dalam pelayanannya. Biasanya menggunakan landasan bahwa dirinya mendapat visi, pesan, atau wahyu dari Tuhan. Tanpa disadari dirinya telah menjadi nabi palsu.