Bila kita mengingat kembali penyertaan Tuhan sejak kita dilahirkan, melewati masa kanak-kanak, masa remaja, pemuda, dewasa, dan sampai hari ini. Kalau kita sungguh-sungguh menyadari betapa besar kasih Tuhan, betapa sempurna pemeliharaan-Nya atas hidup kita, maka kita tidak berani lagi menuntut apa-apa kepada-Nya. Kita tidak berani lagi mencoba mengatur Tuhan. Tetapi yang kita lakukan adalah menyerahkan hidup kita, dan memberi diri untuk diatur Tuhan, sesuka hati Tuhan. Atau yang sama dengan kita menyediakan diri untuk hidup di dalam kedaulatan Allah. Kebaikan Tuhan atas kita tidak akan pernah bisa kita hitung, baik yang kelihatan, yang kita tahu, maupun yang tidak kita sadari. Terlalu banyak berkat dan pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Sejak kita dirajut oleh Tuhan, di dalam kandungan ibu, kita dilahirkan dengan sempurna. Masa kanak-kanak kita di dalam pimpinan Tuhan, lalu memasuki remaja, dan seterusnya. Kita berutang kebaikan dari Tuhan.
Belum lagi kalau kita menyadari betapa besar harga keselamatan yang Allah Bapa berikan, dengan memberikan Putra Tunggal-Nya kepada kita. Sungguh, kita tidak akan pernah bisa menghitung jumlah berkat Tuhan. Dan kita tidak pernah akan bisa dapat membalas atau mengembalikan kebaikan Tuhan. Tetapi kita bisa bersyukur dengan tulus. Dan ucapan syukur kita bukan hanya dengan kata-kata, dengan ucapan, melainkan kita bisa mengucap syukur dengan tindakan, dengan perbuatan, yaitu menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, hidup di dalam pengaturan Tuhan, untuk hidup dalam kedaulatan Tuhan (1Kor. 10:31).
Sikap kita membalas kebaikan Tuhan dengan menyerahkan hidup agar kita hidup di dalam kedaulatan Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya, juga merupakan langkah untuk menyelamatkan diri kita, supaya kasih yang Allah sediakan kepada kita akan lebih lengkap, lebih sempurna, lebih utuh kita terima. Sebab, berkat yang Allah sediakan bagi kita juga tidak terbatas. Tidak hanya sampai pada saat ini di bumi. Sejujurnya, banyak berkat Tuhan yang telah kita sia-siakan. Seandainya dari dulu kita hidup di dalam kebenaran Tuhan, dalam kesucian, dalam kekudusan Tuhan, dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan, pastilah lebih lengkap, lebih banyak, lebih utuh berkat yang Allah sediakan bagi kita. Tetapi kita telah banyak mengambil langkah yang salah. Kita sering mengambil keputusan yang keliru, bahkan kita juga sempat menjadi domba yang terhilang.
Sejatinya, pada saat-saat kita tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, banyak berkat Tuhan yang terbuang sia-sia yang mestinya bisa kita miliki. Tetapi, bersyukur Tuhan membawa kita kembali kepada-Nya. Masih banyak berkat yang Allah sediakan, terutama berkat kekekalan. Jika kita menyerahkan diri kepada Tuhan—untuk hidup di dalam kedaulatan Tuhan, hidup di dalam penyerahan diri sepenuh kepada-Nya, dan hidup di dalam pengabdian kepada Tuhan—itu semua sesungguhnya adalah langkah-langkah untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Agar kita bisa memiliki kehidupan yang diberkati Tuhan lebih limpah lagi. Jadi, jangan kita mengambil langkah yang keliru lagi. Mulai sekarang, kita mau menyerahkan hidup kita sepenuh kepada Tuhan, untuk hidup di dalam kedaulatan Tuhan, yaitu untuk hidup di dalam penurutan kepada kehendak Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya. Walaupun itu tidak mudah kita raih, namun kita harus berjalan bersama Tuhan. Kita harus belajar mengenal kebenaran, dan hidup di dalam kebenaran tersebut.
Melalui pemberitaan Suara Kebenaran yang kita dengar, melalui doa-doa yang kita lakukan, kita mencari wajah Tuhan. Kita mau mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Kita bisa tahu rencana Allah dalam hidup kita yang harus kita penuhi atau tugas khusus atau tugas istimewa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing untuk kita lakukan. Kita akan sangat menyesal kalau suatu saat di hadapan Allah, baru sadar sepenuhnya ternyata kita menyia-nyiakan berkat-berkat yang lebih besar, yang Allah sediakan bagi kita.