Setiap orang memiliki keunikan, kekhasan dalam bersekutu dengan Tuhan. Yang penting di sini adalah seberapa bulat, utuh dan kuat kita mau mencari Tuhan. Ada bagian yang harus kita penuhi untuk membulatkan, membuat utuh pencarian kita akan Allah. Itu bagian kita yang Tuhan tidak akan kerjakan di dalam diri kita. Kita yang harus membuatnya sendiri. Ketika kita mengambil keputusan untuk meninggalkan semua kesenangan dunia—semua hal yang dulu menyenangkan, membahagiakan kita, yang sekarang pada umumnya orang memandang itu sebagai kebahagiaan atau kesenangan—itu sepenuhnya bagian kita.
Kita harus dengan sadar, rela, memiliki prinsip bahwa hanya Tuhan yang kita butuhkan. Memang mungkin kita belum merasa penuh, tetapi harus berani mengambil keputusan dulu, karena kita belajar dari firman Tuhan, bahwa Tuhan adalah air kehidupan. Hanya Tuhan kita butuhkan. Sebagaimana ditulis dalam Mazmur 73, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Juga di Mazmur 42, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan Engkau.” Tentu banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa Tuhan adalah kebutuhan utama dan satu-satunya.
Jangan kita menunggu jadi ekstrem, fanatik, sungguh-sungguh, menyala-nyala di dalam Tuhan. Jika kita hanya menunggu hal itu, selamanya kita tidak akan pernah mengalami. Memang, kadang-kadang Tuhan memberikan kejutan. Entah firman Tuhan yang menyentuh kita, mukjizat yang kita lihat atau alami, lalu mendorong kita untuk mencari Tuhan. Memang bisa, tetapi tidak selalu begitu. Yang pasti, kita yang harus membuat diri kita membara mencari Tuhan. Kita yang harus membuat diri kita ekstrem dan fanatik, yaitu dengan menanggalkan semua yang menurut konsep umum membahagiakan. Kita tanggalkan dan berkata, “Hanya Engkau, Tuhan, yang kuperlukan.”
Saat kita masuk ke wilayah itu, kita bisa merasa terus bertumbuh dan membuktikan ternyata Dia kita butuhkan lebih dari nafas dan darah kita. Jangan terlambat, sebab kalau sampai terlambat, hati kita sudah biasa terbagi dengan dunia, kita tidak bisa mencintai Tuhan lagi. Jadi, jangan pikir bertobat hari ini dengan minggu depan, bulan depan, atau tahun depan, sama. Tidak sama. Semakin cepat kita bertobat, semakin dini kita melepaskan percintaan dunia, maka semakin cepat pula kita membangun diri.
Jangan menunggu waktu itu, tetapi kita yang harus menciptakannya. Itulah sebabnya Tuhan memberi kehendak bebas atas kita. Supaya dengan kehendak bebas itu, kita memetakan hidup kita. Bukan Tuhan yang memetakan hidup kita. Memang Tuhan memiliki rancangan-rancangan yang indah, menyediakan peta-peta kehidupan yang indah, tetapi kita yang harus menentukan; apakah kita menerima pemetaan Tuhan atau membuat pemetaan sendiri. Betapa luar biasa, indah, dan hebatnya kalau kita berani mengambil keputusan: “Hanya Engkau, Tuhan, yang kubutuhkan. Tidak ada yang lain.”
Kita akan bisa mengecap Tuhan, mengalami Tuhan, bahwa Dia hidup, Dia hadir. Sampai terjadi perjumpaan antara perasaan kita dengan perasaan Tuhan. Ada perjumpaan antara pikiran kita dengan pikiran Tuhan, ketika kita menemukan apa yang Allah rancang di dalam hidup kita. Betapa indahnya hidup seperti ini. Kita bisa mengalami kemuliaan Tuhan, bahwa Allah itu dahsyat. Tidak usah menunggu kita meninggal dunia, sekarang pun kita sudah bisa melihat dan mengalami kemuliaan Allah dan gemetar. Waktu kita doa menghadap Tuhan, kita gemetar. Allah itu dahsyat. Seharusnya, itu bukan satu pengalaman yang istimewa, melainkan suatu hal standar bahwa Allah yang hidup dan hadir, bisa menyentuh kita. Itulah sebabnya kita harus sungguh-sungguh mencari Tuhan.
Sediakanlah waktu setiap hari 1 jam, 30 menit paling sedikit, duduk diam di hadapan Tuhan. Pikirkan Tuhan siang dan malam. Kita bekerja atau melakukan segala sesuatu, kita lakukan untuk Tuhan. Meyakini Dia Allah yang hidup dan nyata. Meyakini bahwa kita akan menemukan Dia.