Kesalahan memahami pengajaran mengenai kasih karunia membuat banyak orang Kristen menganggap bahwa masuk surga atau memperoleh keselamatan adalah sesuatu yang mudah. Ini pandangan yang salah. Sesungguhnya, untuk memiliki keselamatan, harus ada perjuangan. Orang percaya harus memiliki perjuangan untuk dapat memiliki anugerah yang Allah sediakan dengan cuma-cuma. Dalam mewujudkan keselamatan dalam hidup ini, harus ada perjuangan. Setelah Allah menyediakan keselamatan melalui karya Kristus di kayu salib, selanjutnya Allah tidak bertindak sendiri secara sepihak untuk mewujudkan keselamatan tersebut. Umat pilihan dituntut untuk memberi respons yang proporsional sebagai usaha menanggapi kasih karunia yang Allah sediakan.
Sejatinya, kasih karunia tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Allah memiliki bagian yang hanya Dia saja yang bisa memenuhinya, dan manusia memiliki bagian yang harus dipenuhi. Bagian Allah menyediakan keselamatan, bagian manusia merespons keselamatan tersebut. Melalui segala hal, Roh Kudus bekerja menawarkan keselamatan, dengan memerhatikan kehendak bebas manusia dalam merespons kasih karunia Allah. Kesalahan memahami pengertian kasih karunia bisa mengakibatkan orang percaya tidak menggunakan tanggung jawabnya sebagai umat pilihan, sehingga mereka tidak merespons kasih karunia secara proporsional. Hal ini bisa berakibat keselamatan tidak terwujud dalam kehidupannya.
Pada intinya, berbicara mengenai kasih karunia, orientasinya adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang jatuh dalam dosa telah menjadi manusia yang tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Keadaan ini adalah keadaan dimana manusia tidak memiliki kemuliaan Allah, atau keagungan pribadi sebagai anak-anak Allah. Keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan semula, sehingga manusia dapat kembali bersekutu dengan Penciptanya, yaitu menemukan tempatnya di hadapan-Nya dan dapat menempatkan Allah secara benar di dalam hidupnya.
Keselamatan menciptakan pemulihan hubungan manusia dengan Allah yang telah putus. Dalam hal ini, manusia yang terhilang dapat ditemukan kembali untuk bersekutu dengan Dia. Untuk itu, harus ada pemulihan gambar Allah yang rusak, sehingga manusia dapat mengimbangi keagungan Pribadi Allah. Pemulihan gambar Allah ini sama dengan “mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar” (Flp. 2:12), sehingga dapat mengenakan kehidupan Yesus (Gal. 2:19-20; Kol. 3:1-4). Tentu saja nanti di balik kubur, buahnya adalah manusia terhindar dari api kekal dan diperkenan masuk surga. Bagi umat pilihan, mereka akan dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus atau memerintah bersama dengan Dia dalam Kerajaan-Nya (Mat. 20:23; Luk. 22:29; Rm. 8:17, 30).
Dengan dikembalikannya manusia serupa dengan gambar-Nya, berarti manusia bisa berdamai dengan Allah. Berdamai bukan hanya dalam arti statusnya atau secara hukum (de jure), melainkan juga secara de facto, artinya manusia bisa bersekutu dengan Dia. Hanya manusia yang bermoral Allah—yaitu yang menanggalkan kodrat dosanya (sinful nature) dan mengenakan kodrat ilahi (divine nature)—yang bisa berjalan atau bersekutu (fellowship) dengan Allah. Inilah sebenarnya yang dikehendaki dan dirancang oleh Allah ketika manusia diciptakan, yaitu manusia diciptakan untuk menjadi sekutu Allah di keabadian, karena Allah adalah Allah yang kekal. Hanya manusia yang berkeadaan seperti rancangan Allah semula yang dapat bersekutu dengan Allah secara benar.
Dengan demikian, sebutan “anak-anak Allah” bukan hanya status yang diyakini, melainkan benar-benar merupakan keberadaan karakter atau moral seseorang. Dengan memiliki keberadaan karakter sebagai anak-anak Allah yang agung seperti Yesus, umat pilihan dapat bersekutu dalam hubungan yang harmonis dengan Allah, yang adalah Bapanya. Ini adalah sebuah pengalaman riil yang harus dialami orang Kristen yang ...