Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kita harus berjaga-jaga berkenaan dengan adanya ancaman dalam bentuk pengaruh jahat yang merusak pikiran oleh karena suatu pengajaran (Mat. 16:6). Pengajaran dan pola hidup yang jahat dapat ditularkan oleh tokoh agama seperti ragi (Yun. zume ζύμη; Ing. leaven). Ragi, meskipun volumenya kecil, namun dapat memengaruhi atau mengubah sesuatu yang besar atau luas. Ragi orang Farisi dalam teks ini menunjuk pengaruh negatif melalui pengajaran dan sikap hidup yang ditunjukkan oleh “rohaniwan-rohaniwan palsu.” Ragi orang Farisi dapat digambarkan seperti kaleng racun yang diberi label ‘susu’ pada kemasannya. Ini merupakan sesuatu yang sangat membahayakan. Demikianlah orang Farisi yang dianggap sebagai rohaniwan, ternyata mereka mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Keadaan ini membuat semakin banyak rakyat Israel menjadi sesat. Kasus tersebut juga bisa terjadi di zaman sekarang. Tidak sedikit pembicara yang diakui sebagai “penyambung lidah Allah,” padahal ia tidak menyampaikan kebenaran Firman Tuhan yang murni.
Hal ragi orang Farisi yang menyesatkan bertalian dengan apa yang dikemukakan oleh Tuhan dalam Yohanes 10:10. Tuhan menyebut musuh itu adalah pencuri (thief), dalam bahasa Yunani kleptes (κλέπτης), kata kerjanya adalah klepto (κλέπτω). Mencuri artinya mengambil milik orang lain dengan diam-diam tanpa sepengetahuan pemiliknya. Lalu, apa maksud Tuhan bahwa Iblis itu sebagai pencuri? Iblis digambarkan sebagai sosok pencuri yang dengan diam-diam dan dengan cara yang cerdas memakai orang-orang yang diakui sebagai hamba Tuhan atau rohaniwan memberitakan pengajaran yang palsu. Tuhan Yesus datang untuk memberi hidup supaya mereka memilikinya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10). Kelimpahan tersebut adalah kelimpahan rohani melalu kuasa Injil-Nya (Rm. 1:16-17).
Iblis datang untuk mengambil kehidupan dan membawa manusia kepada kemiskinan. Kemiskinan di sini tekanannya bukan materi, melainkan kualitas diri di hadapan Allah. Iblis berusaha membuat banyak orang tanpa sadar mengonsumsi pemberitaan pengajaran yang palsu. Dalam kecerdikan dan kelicikannya, Iblis membentuk karakter seseorang dalam waktu panjang sehingga orang tersebut tidak dapat diperbaiki lagi. Tanpa disadari oleh banyak orang, melalui segala sesuatu yang didengar, dilihat, dan diajarkannya, mereka mengonsumsi racun yang membawa diri mereka kepada kematian. Dalam taraf tertentu, jiwanya tidak bisa diperbaiki lagi (2Tim. 4:3-4). Fenomena ini terjadi pada orang-orang Kristen yang sudah lama hidup dengan cara berpikir anak-anak dunia, sehingga mereka tidak mampu lagi mengenakan kebenaran Tuhan. Dalam lingkungan gereja, banyak jemaat telah diracuni oleh pengajaran yang salah dan tertulari spirit yang terpancar dari pembicara yang hidupnya tidak sesuai dengan kesucian Tuhan. Ini yang disebut sebagai ragi.
Dalam kegiatannya, Iblis mencuri dengan memakai orang-orang sebagai pelaksananya. Pada zaman Yesus, Iblis bisa memakai para rohaniwan agama seperti orang-orang Farisi untuk mengarahkan umat ke jalan yang salah. Dalam pernyataan-Nya Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka” (Yoh. 10:7-8). Dalam pernyataan Yesus tersebut, Yesus membandingkan diri-Nya dengan orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang tidak melalui jalur yang benar dalam mengajar umat.
Untuk dapat membedakan apakah seseorang membawa pengajaran yang sehat atau tidak, sesat atau benar, harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab. Ukurannya bukanlah kelakuan lahiriah orang yang mengajarkan kebenaran tersebut semata-mata. Memang pada akhirnya, kita dapat membedakan nabi palsu atau tidak, tergantung dari “buahnya” (Mat. 7:15-23). Namun, dalam kondisi tertentu, kita membutuhkan klarifikasi segera atau secepatnya sebelum kita terjebak lebih parah ke dalam penyesatannya....