Banyak orang Kristen merasa sudah menerima Yesus hanya karena telah memeluk agama Kristen. Mereka menyamakan pengertian menerima Yesus dengan memeluk agama Kristen. Sejatinya, pengertian menerima Yesus tidaklah hanya demikian. Pernyataan menerima Yesus dengan ucapan bibir belumlah berarti telah menerima dengan benar. Hal ini sama kasusnya dengan fenomena kalau seseorang dalam pemberkatan nikah telah menyatakan mengaku menerima pasangannya, ini bukan berarti mereka sudah benar-benar saling menerima sebagai pasangan suami istri. Dalam perjalanan hidup, melewati segala kejadian dan masalah, barulah dapat dibuktikan bahwa mereka benar-benar saling menerima. Demikian pula dengan hal menerima Yesus, tidak cukup dengan pengakuan bibir.
Pertama, menerima Yesus berarti mengakui bahwa Dia adalah Penguasa yang dipercayai Allah (Ho Theos) atau Bapa memiliki jagat raya ini untuk memerintah sebagai Tuhan. Dalam Yohanes 1:11-12 tertulis: “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Dalam ayat ini terdapat kalimat “menerima-Nya.” Apa yang dimaksud dengan “menerima-Nya?” Tentu saja menerima Dia sebagai “Sang Logos” atau Firman yang bersama-sama dengan Bapa menciptakan langit dan bumi. Bahwa segala sesuatu diadakan karena Dia, atau diperuntukkan bagi Anak Tunggal Bapa ini. Sehingga dikatakan bahwa Dia adalah Pemilik dari segala sesuatu di jagat raya ini. Menerima Dia berarti mengakui bahwa Dia adalah Tuan atau Tuhan dan Majikan yang harus ditaati, yang kepada-Nya segenap hidup dipersembahkan untuk melayani Dia.
Orang yang menerima Yesus berarti bersedia melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Dia, sebab Dia adalah Tuan atau Majikan Agung yang harus dipatuhi dalam segala hal. Kalau hanya menerima Dia sebagai Tuhan dengan mulut, tidak ada artinya. Bagi Yang Mahamulia, patut kepada-Nya kita mempersembahkan hidup kita tanpa batas, Yesus Tuhan kita. Sebab Dia juga telah menebus orang percaya. Seperti budak yang ditebus, berarti budak tersebut tidak berhak lagi atas dirinya sendiri. Dalam 1 Korintus 6:19-20 Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang ditebus tidak lagi memiliki dirinya sendiri, seperti seorang budak yang telah kehilangan haknya atau harus melepaskan semua haknya. Tuan yang menebus dirinyalah yang berhak sepenuhnya atas diri seseorang yang telah ditebus.
Sebagai orang yang ditebus, orang percaya harus dimiliki sepenuhnya oleh Tuhan Yesus. Implikasi dari pemilikan Tuhan Yesus, orang percaya yang telah ditebus harus memiliki pikiran dan perasaan Yesus dan berperilaku seperti Dia. Sehingga seseorang sampai pada pengakuan “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Kristus di ayat ini maksudnya adalah spirit atau gairah dan moral atau karakter Yesus. Orang yang ditebus oleh Tuhan Yesus harus memperagakan hidup-Nya. Dengan demikian, orang percaya barulah dapat menjadi saksi Tuhan. Orang yang tidak memperagakan kehidupan Yesus tidak pernah menjadi saksi Tuhan. Orang-orang seperti ini sebenarnya belum menerima Yesus.
Kedua, menerima Yesus berarti mengenakan hidup yang pernah Dia jalani di dalam kehidupan kita hari ini. Yesus memberikan hidup-Nya bukan hanya berarti bahwa Ia telah mati di kayu salib. Pengorbanan-Nya adalah sebagai jalan keselamatan di mana dosa-dosa kita dipikul oleh Dia. Yesus memberikan hidup-Nya artinya juga bahwa Ia menghendaki agar orang percaya mengenakan hidup-Nya di dalam hidup masing-masing individu orang percaya. Dengan demikian orang yang menerima Yesus harus juga menerima karakter-Nya. Seseorang tidak dapat memiliki Yesus atau dimiliki oleh Yesus tanpa memiliki karakter-Nya. Tuhan Yesus tidak akan dimiliki dan memiliki orang yang tidak memiliki karakter-Nya. Dengan demikian,