Agar jemaat dapat mencapai kehidupan “sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah,” pemberitaan Firman harus bersifat rohani sepenuhnya. Karena banyak gereja telah dipengaruhi semangat zaman yang fasik, sehingga pemberitaan Firman sering hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Hal ini yang membuat seseorang tidak merasa haus dan lapar akan kebenaran. Kehausan jiwanya telah rusak, yaitu tertuju kepada segala keindahan dunia dengan segala hiburannya, sehingga percintaan dunia telah menguasai mereka. Mereka tidak peduli apakah Injil yang mereka dengar adalah Injil yang benar atau palsu.
Harus ditegaskan bahwa Injil yang murni yang diajarkan Tuhan Yesus tidak berunsur duniawi sama sekali. Hal ini berbeda dengan apa yang diajarkan banyak pendeta hari ini, yang menjurus kepada kemakmuran jasmani. Pengajaran yang menekankan kemakmuran jasmani, sesungguhnya pengajaran yang berpotensi besar merusak bangunan iman Kristiani yang benar. Kita harus tegas menolaknya, sebab Tuhan Yesus hanya mengajarkan ajaran yang menekankan hal-hal rohani saja. Hal-hal rohani adalah pokok-pokok ajaran yang pasti Tuhan Yesus kehendaki untuk diajarkan kepada orang percaya sekarang ini, tanpa merubahnya sama sekali. Jadi, apa yang harus diajarkan gereja hari ini harus sama seperti yang pernah diajarkan oleh Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu. Yaitu hal-hal rohani yang menyangkut kesempurnaan karakter, tidak terikat dengan percintaan dunia, hati yang mengasihi Tuhan, dan fokus pada Kerajaan Surga.
Injil yang benar pasti mengarah kepada kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Ini juga berarti orang percaya harus hidup dalam kesucian. Selanjutnya, fokus hidup harus diarahkan ke dunia, di mana orang percaya akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga. Dalam hal ini, orang percaya harus sudah memindahkan hatinya di surga sebelum meninggal dunia. Dengan demikian, hatinya tidak melekat pada dunia ini. Kalau orang percaya diberi kesempatan hidup, maka harus mengisinya hanya untuk melayani Tuhan. Dunia adalah tempat perjuangan untuk mengalami perubahan hidup dan menolong orang lain untuk mengalami perubahan hidup.
Kita harus dalam kesadaran dan penghayatan terus menerus bahwa dunia ini bukan rumah kita. Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, seperti Dia juga bukan dari dunia ini (Yoh. 17:15-16). Paulus mengatakan bahwa arena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat (Flp. 3:20). Orang percaya adalah orang yang menumpang sementara di bumi guna persiapan untuk menetap di Kerajaan Tuhan Yesus sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga. Ini berarti orang percaya bukan milik dunia, melainkan milik Allah.
Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Itulah kota yang dirindukan oleh Abraham. Oleh sebab itu, kalau mau menjadi seorang yang berasal dari atas, kita harus meninggalkan percintaan dengan dunia ini. Percintaan dunia artinya hasrat menikmati hidup di bumi sama seperti orang-orang pada umumnya. Kenikmatan mereka adalah kenikmatan yang ditopang oleh kekayaan dunia. Orang percaya hidup hanya untuk mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang di atas. Orang percaya seperti ini akan sangat merindukan hari kebangkitan dari antara orang mati.
Dewasa ini, ajaran tentang pengharapan kebangkitan dari antara orang mati sudah nyaris lenyap dari gereja. Pengharapan kebangkitan dari antara orang mati nyaris tidak pernah terdengar di gereja. Banyak orang Kristen tidak memahami pengajaran mengenai kebangkitan, sehingga tidak dapat mengajarkannya kepada orang lain. Mereka tidak mau belajar mengenai hal kebangkitan dengan sungguh-sungguh. Rasul-rasul, khususnya Paulus, menekankan hal kebangkitan ini dalam pemberitaannya. Dalam Alkitab Perjanjian Baru,