Kita harus selalu mempertimbangkan bahwa penyesatan dalam gerejasangat mungkin terjadi. Saluran penyesatan yang paling dominan dan paling berbahaya adalah melalui pengajaran yang tidak beralaskan pada kebenaran Firman Tuhan. Pengajar-pengajarnya berpikir bahwa kesimpulan dari idenya adalah suara Roh Kudus atau sebuah penemuan yang lahir dari hikmat Tuhan. Padahal sejatinya, tidaklah demikian. Kita harus waspada bahwa pikiran manusia dapat disesatkan oleh Iblis (2Kor. 11:2-3). Pikiran manusia atau idenya dapat menjadi kendaraan bagi pikiran Iblis untuk memenuhi rencananya (Mat. 16:21-23). Dalam hal ini, kita dapat menemukan bahwa seorang pengajar atau pembicara di mimbar memiliki tanggung jawab dan pergumulan yang berat. Pertumbuhan rohani dan kualitas iman jemaat tergantung dari isi pengajaran dari pembicara dalam gereja.
Tidak sedikit pembicara mengaku diri sebagai “penyambung lidah Allah,” padahal mereka tidak menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Ini sebuah penyesatan terselubung. Iblis datang untuk mengambil kehidupan dan membawa manusia kepada kemiskinan, terutama kualitas diri yang rendah sebagai umat pilihan. Inilah yang diusahakan oleh Iblis, yaitu membuat seseorang tanpa sadar mengkonsumsi racun di dalam hidupnya, yaitu pemberitaan firman palsu mengenai Yesus. Dalam kecerdikan dan kelicikannya yang luar biasa, Iblis merusak orang Kristen sehingga dalam taraf tertentu, jiwanya tidak bisa diperbaiki lagi (2Tim. 4:3-4).
Pemikiran yang bukan berasal dari Allah adalah dari Iblis. Dengan cara inilah nabi palsu memalsukan pengajaran. Pembicara atau pengkhotbah seperti ini biasanya menambahi Alkitab dengan pemikiran manusia. Memang tidak semua mereka bermaksud sengaja menyesatkan orang lain.Namun oleh karena tidak mengerti Alkitab dengan benar, pikiran Iblislah yang diajarkan sehingga terjadilah penyesatan. Dalam hal ini, sebagai pendengar, jemaat harus menguji roh dengan saksama. Jemaat harus menguji pengajaran yang disampaikan: apakah berasal dari Tuhan atau dari kuasa kegelapan. Tidak sedikit gereja menghadirkan “pikiran-pikiran” yang bukan dari kebenaran Alkitab yang murni. Hal ini tidak menggiring iman Kristen kepada kesetiaan yang sejati kepada Kristus (2Kor. 11:2-4). Dengan cara inilah, Iblis menyesatkan umat Allah. Oleh sebab itu, dibutuhkan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan yang diangkat dari Alkitab melalui proses pendalaman, eksplorasi, dan eksegesis alkitabiah yang benar. Inilah modal dasar bangunan hidup rohani kita.
Korban penyesatan ini terjadi pada orang-orang Kristen yang tidak bertumbuh dalam pengertian terhadap kebenaran, sehingga mereka tidak mampu lagi membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.Dalam lingkungan gereja, banyak jemaat telah diracuni dengan pengajaran yang salah dan spirit yang terpancar dari pembicara yang hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan. Dengan penjelasan ini, kiranya mulai sekarang jemaat memerhatikan dengan teliti apa yang didengar. Jangan mudah percaya dan menelan apa yang disajikan melalui mimbar gereja. Setiap individu harus memperkarakan hal ini dengan Tuhan untuk dapat menemukan pembicara yang benar-benar menyampaikan kebenaran.
Untuk dapat membedakan apakah seseorang membawa pengajaran yang sesat atau benar, kita harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab. Ukurannya bukanlah kelakuan lahiriah orang yang mengajarkan kebenaran tersebut semata-mata, sebab kita tidak hidup bersama dengan mereka setiap saat. Jadi, kita tidak tahu kehidupan mereka setiap hari. Pada akhirnya, kita memang dapat membedakan nabi palsu atau tidak tergantung dari “buahnya” (Mat.7:15-23). Namun dalam kondisi tertentu, kita membutuhkan klarifikasi segera atau secepatnya sebelum kita terjebak lebih jauh ke dalam penyesatannya. Untuk itu, kita harus menggunakan Alkitab sebagai tolok ukurnya.
Oleh sebab itu, setiap kita harus dengan jeli selalu mengawasi seorang pemimpin jemaat, pembicara, atau pengkhotbah yang menggunakan kebenaran Firman Tuhan sebaga...