Suatu hari nanti, ketika bumi dihujani api dan belerang dari langit, langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat, dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api. Dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, akan hilang lenyap seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 3:10-13. Maka barulah manusia menyadari betapa beruntungnya orang yang diingat oleh Allah. Diingat oleh Allah, artinya Allah memerhatikan orang-orang tertentu, melindungi, dan membawanya ke langit baru dan bumi yang baru. Oleh sebab itu, sejak sekarang ini, kita seharusnya dapat memiliki pengharapan yang kita ucapkan dengan kalimat “Tuhan, Engkau mengingat aku.” Tetapi seseorang tidak pantas atau tidak layak mengucapkan kalimat “Tuhan, Engkau mengingat aku,” kalau sejak sekarang hidup di bumi ini tidak meninggalkan percintaan dunia. Tuhan hanya mengingat orang-orang yang sejak hidup di bumi selalu mengingat Dia. Tuhan hanya mengingat orang-orang yang sejak hidup di bumi melayani dan mengabdi kepada Allah sebagai satu-satunya isi dan tujuan hidup ini, yaitu orang-orang yang selama hidup di dunia memiliki sikap hormat dan takut akan Allah secara patut.
Hanya orang-orang yang mengasihi Allah dan meninggalkan percintaan dunia yang patut mengucapkan kalimat “Tuhan, Engkau mengingat aku.” Orang yang meninggalkan percintaan dunia adalah orang yang tidak lagi dapat dibahagiakan oleh apa pun dari fasilitas yang ada di bumi ini. Sesungguhnya, orang-orang seperti inilah yang dapat berinteraksi dengan Allah, atau berdoa, memuji, dan menyembah Allah dengan benar. Sebenarnya, inilah “mahal” atau “sukarnya” hidup di dalam doa. Mahal dan sukarnya bukan terletak pada saat kita menyediakan waktu untuk berdoa pada jam-jam tertentu, melainkan bagaimana kita dapat melepaskan diri dari percintaan dunia sehingga kita tidak terikat lagi oleh harta atau kekayaan dunia.
Meninggalkan percintaan dunia memang bukan sesuatu yang mudah. Ini adalah perjalanan yang terberat di dalam hidup. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa studi, berkarier, dan mencari uang lebih mudah daripada meninggalkan percintaan dunia. Pada kenyataannya, justru kegiatan hidup seperti studi, karier, dan mencari uang menjadi penyebab seseorang terbelenggu dalam percintaan dunia. Harus diingat, bahwa tidak sedikit para aktivis gereja—bahkan pendeta—terjerat oleh percintaan dunia. Ironisnya, mereka dengan lancar mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami, padahal kalau seseorang masih hidup dalam percintaan dunia, ia tidak pantas mengucapkan Doa Bapa Kami. Banyak orang Kristen yang pikiran dan perasaannya telah menjadi tumpul. Walaupun dalam keadaan yang sebenarnya tidak pantas mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami, namun tetap mengucapkannya dengan sikap dan perasaan yang tidak memahami perasaan Allah.
Kita harus selalu mengingat bahwa suatu hari nanti, kita akan dibawa ke hadapan pengadilan Allah. Semua kita akan telanjang di hadapan Allah, tidak ada yang dapat ditutup-tutupi. Betapa mengerikan kalau seseorang dalam keadaan masih memiliki percintaan dunia tetapi tidak menyadari keadaan tersebut, sementara bibirnya begitu hafal mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami tanpa mengerti isinya; dan tentu tanpa menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Sejujurnya, lebih banyak orang Kristen yang sebenarnya hanya bisa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami tanpa mengerti isinya, apalagi menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Banyak gereja tidak memberi pengajaran yang benar mengenai Doa Bapa Kami, sehingga banyak jemaat dalam bahaya yang sangat mengerikan, yaitu ditolak oleh Allah karena tidak melakukan kehendak Bapa. Banyak gereja hanya membuat jemaat mengalami euforia dalam liturgi tanpa mengajak mereka dengan sungguh-sungguh memeriksa diri dengan benar, bagaimana menjalani hidup keseharian mereka. Akibatnya, terjadi penyesatan yang sangat mengerikan. Dalam hal ini, yang paling bertanggung jawab adalah pimpinan gereja dan para teolog.