Tuhan Yesus berkata: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan materai-Nya.” Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh. 6:27-29). Dalam pernyataan Tuhan Yesus di sini, percaya menunjukkan sesuatu pekerjaan. Kata “pekerjaan” dalam teks aslinya adalah ergon (ἔργον). Kata ergon menunjuk suatu kegiatan yang terus menerus secara berkesinambungan untuk memperoleh suatu hasil atau ada produknya. Demikianlah, percaya adalah suatu kegiatan yang terus menerus, yang dapat digambarkan sebagai suatu garis Panjang, bukan sebuah titik.
Banyak orang Kristen merasa sudah percaya kepada Yesus Kristus. Dari percaya tersebut mereka memperoleh keselamatan, merasa sudah menjadi anak Allah yang sah, merasa sudah berhak diberkati Tuhan dengan berkat jasmani dan berkat rohani dan kalau mati mereka boleh meyakini masuk surga. Mereka memandang percaya seperti sebuah titik. Bisa dilihat, bagaimana mereka tidak memiliki perjuangan yang proporsional untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Bagi mereka percaya itu sudah final. Titik. Padahal percaya adalah sebuah perjuangan dalam mengisi anugerah yang Tuhan berikan. Percaya yang mereka miliki adalah percaya yang tidak produktif, artinya tidak menghasilkan apa-apa. Percaya seperti itu adalah percaya semu atau percaya palsu. Iman seperti ini adalah iman yang tidak menyelamatkan.
Percaya adalah ergon atau pekerjaan yang akan menghasilkan sesuatu. Hasil dari percaya itu adalah semakin menemukan kemuliaan Allah yang hilang, yaitu semakin segambar dan serupa dengan Allah. Hal ini berarti menjadi anak-anak Allah, bukan saja statusnya tetapi keberadaannya. Keberadaan sebagai anak-anak Allah adalah mengenakan kodrat Ilahi, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, di mana seseorang menjadi semakin serupa dengan Yesus.
Jadi kalau seseorang mengaku percaya, maka ia harus berjuang untuk belajar mengenal kebenaran (secara Logos). Untuk ini harus mengalokasi waktu untuk datang ke gereja, ikut pendalaman Alkitab, mendengarkan khotbah melalui CD, youtube, radio, TV, literatur dan lain sebagainya. Selanjutnya orang percaya harus memperhatikan setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi. Melalui setiap kejadian tersebut Allah bekerja untuk mematangkan Firman atau Logos dalam kehidupan, sehingga Firman kebenaran menyatu dalam diri orang percaya. Tanpa melalui kejadian atau peristiwa, Firman Tuhan secara Logos hanya menjadi teori semata-mata. Selain itu, setiap orang percaya yang mengerjakan keselamatannya, harus menyediakan waktu setiap hari untuk bertemu dengan Tuhan dalam doa pribadi.
Dari hal ini kita mengerti mengapa kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13). Kata “kerjakanlah” dalam teks aslinya (Flp. 2:12) adalah katergazesthe (κατεργάζεσθε). “Kerjakanlah” merupakan kata perintah yang artinya juga menyelesaikan (to finish, work out), mencapai (achieve, accomplish). Ada pun kata mengerjakan dalam dalam Filipi 2:13 adalah energon (ἐνεργῶν), dari kata energeo (ἐνεργέω). Kata energeo bisa berarti to be operative (bisa digunakan), put forth power (menaruh atau memberikan daya), to work for one, aid one (mengerjakan atau membantu seseorang). Perbedaan kata mengerjakan di Filipi 2:12 dan di Filipi 1:13 tersebut harus diperhatikan dengan seksama. Manusia yang harus menyelesaikan dan Allah yang memberi daya.
Mengapa harus mengerjakan dengan takut dan gentar? Sebab perjuangan mengerjakan keselamatan -yaitu bagaimana memiliki pikiran dan perasaan Kristus- bukan hal yang mudah. Kalau mengerjakan keselamatan dapat dilakukan dengan mudah,