Dalam Galatia 1:6-10, Paulus menunjukkan adanya “Injil yang lain” (Yun. eis heteron euanggelion; a different gospel). Orang yang mengajarkan Injil yang lain, pasti juga mengajarkan Yesus yang lain. Banyak pembicara dewasa ini yang tidak mengerti kebenaran Injil yang murni tanpa sadar mengkhotbahkan Injil yang lain dan mengajarkan pula Yesus yang lain. Mereka merasa yakin sedang memberitakan Injil yang benar dan Yesus yang asli, padahal sebenarnya mereka sedang menyesatkan umat Tuhan. Di antara mereka adalah pembicara-pembicara yang memiliki pendengar atau jemaat dalam jumlah yang besar. Ini berarti korbannya sangat banyak. Kenyataan ini memberi gambaran gereja yang tidak meneruskan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengaku gereja dari Tuhan Yesus, padahal bukan Yesus yang benar, tetapi Yesus yang lain.
Paulus mengatakan Injil yang diajarkan pengajar-pengajar palsu ini sesungguhnya “bukan Injil”. Maksud Paulus mengemukakan adanya “Injil yang lain” mengisyaratkan jelas adanya suatu Injil palsu yang dianggap sebagai Injil yang benar. Injil palsu tersebut telah diterima oleh banyak orang Kristen. Di antara mereka yang menerima Injil yang palsu atau Yesus yang lain tersebut adalah orang-orang Kristen yang tulus yang mau belajar mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mereka yang disesatkan tersebut merasa sudah mengenal dan menerima Yesus Kristus dan sudah menjadi umat yang benar, padahal mereka telah disesatkan.
Oleh sebab itu, para pemberita Firman harus mengenal Injil yang benar dan Yesus yang asli, dan mengajarkannya kepada umat. Bila tidak, maka tindakan mereka memberitakan injil yang tidak benar tersebut merupakan pekerjaan Iblis yang menyesatkan umat-Nya. Demikianlah kenyataan yang terjadi dewasa ini, banyak pemberitaan Firman yang tidak membangun iman, tetapi membinasakan. Inilah pekerjaan kuasa kegelapan yang sangat cerdas dan sudah banyak yang berhasil membinasakan orang Kristen. Malangnya, banyak orang Kristen tidak menyadarinya, bahkan para pendeta yang seharusnya menjaga umat dan mengarahkan umat kepada kebenaran. Bodohnya, mereka berpikir bahwa Iblis sudah kalah dan tidak berdaya sama sekali, sehingga mereka tidak mewaspadai gerakan kuasa kegelapan yang menipu dan menyesatkan mereka.
Dalam 2 Korintus 11:2-4 ditunjukkan kenyataan adanya penyesatan di dalam gereja yang menyesatkan jemaat dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus oleh “Injil yang lain” tersebut. Dalam hal ini kuasa kegelapan masuk ke dalam pusat kegiatan orang Kristen. Iblis mampu memalsukan pemberitaan Firman Tuhan di mimbar-mimbar gereja dan menyatakannya sebagai “suara Tuhan”. Sudah sejak zaman Paulus hal ini eksis dalam kehidupan umat Tuhan. Dalam tulisannya, Paulus juga memperingatkan bahwa Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang. Oleh sebab itu, orang percaya harus teliti untuk dapat mengenali bukan hanya mereka yang mengajarkan ajaran sesat di luar gereja, tetapi juga mereka mengajarkan ajaran dengan menggunakan nama Tuhan dan Alkitab, tetapi sebenarnya menyesatkan. Sesungguhnya, penyesatan di dalam gereja lebih berbahaya dari ajaran sesat yang ada di luar gereja.
Penyesatan ini mengakibatkan banyak orang Kristen binasa di dalam gereja. Mereka merasa sudah memiliki Tuhan Yesus dan percaya kepada-Nya, tetapi sebenarnya belum sama sekali. Mereka merasa telah memiliki dan mengenal Injil yang benar, padahal Injil yang mereka kenali adalah Injil yang palsu. Dengan keadaan ini sebenarnya mereka tidak mengenal keselamatan dengan benar. Mereka masih termasuk orang-orang yang terhilang. Sayang sekali, mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak mengenal Yesus yang sejati. Yesus yang mereka kenal sebenarnya adalah Yesus fantasi.