Teladan kita adalah Yesus. Kita harus seperti Dia. Kurang dari itu, kita tidak mengalami keselamatan yang sesungguhnya yang Allah berikan. Oleh sebab itu, kita harus berjuang untuk bisa bersikap defensif dan ofensif. Keduanya harus berjalan paralel. Kalau kita makin suci, Allah pasti memercayakan kepada kita hal-hal besar untukkita lakukan. Jika kita makin suci, Allah akan menambahkan kepercayaan-Nya kepada kita. Kita harus berjuang sampai hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita diharapkan untuk terus berjuang, sehingga tidak ada masalah dosa lagi. Dosa sangat melelahkan dan sangat mengganggu pertumbuhan kesempurnaan kita menjadi anak-anak Allahyang berstandar Yesus.
Kalau kita bisa melewati tahapan-tahapan defensif dan masuk ke tahapan ofensif, masalah kita bukan lagi masalah-masalah yang menyangkut kesenangan kita pribadi dan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Kita tidak lagi mempersoalkan kesenangan-kesenangan hidup seperti yang dipersoalkan oleh anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran. Kita tidak lagi disibukkan dengan masalah-masalah dunia fana.Namun, masalah-masalah yang kita hadapi adalah hal-hal yang harus kita tunaikan terkait dengan pekerjaan Allah. Kalau kita mengerti hal ini, dunia tidak akan menarik lagi bagi Kita. Kita tidak hidup untuk dunia lagi; kita hidup hanya untuk Allah. Semakin sucihidupkita, Allah akan semakin memercayakan hal-hal yang harus kita tunaikan; pekerjaan Allah yang diberikan kepada kita.
Untukitu dibutuhkan perjuangan berat, sebab untuk perjuangan defensif saja, kadang-kadang orang masih bermental blok, apalagi untukmasuk perjuangan ofensif. Namun, kita harus terus berjuang untuk mencapai tingkat kedewasaan seperti yang Tuhan kehendaki. Inilah sesungguhnya bekal pelayanan penting yang harusdimiliki mereka yang mau melayani pekerjaan Tuhan. Oleh sebab itu, pelayanan sebenarnya tidak dimulai dari sekolah Alkitab dan tidak dimulai dari pendeta yang disahkan oleh sinode. Pelayanan itu dimulai dari kesucian hidup, yaitu melayani perasaan Allah. Itu barulah benar-benar pelayanan yang menyukakan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Kalau pelayanan dimulai dari sekolah Alkitab, banyak orang akan memanipulasinya. Kalau pelayanan dimulai dari sinode dengan disahkan seseorang sebagai pendeta, ada banyak intrik, vested interest, dan segala motivasi lainnya. Pelayanan harus dimulai dari menyenangkan perasaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Jadi, kesucian standar yang dikehendaki oleh Allah adalah keniscayaan sesuatu yang sangat mungkin bisa dicapai. Kita harus bersemangat untuk mencapai kesucian itu demi pelayanan pekerjaan-Nya juga.
Sewaktu kita berjuang untuk menjadi kesukaan Bapa, ada beberapa pengalaman perasaan yang kita alami: Pertama, kita akan melewati saat-saat kesepian hebat. Kita melihat orang di sekitar kita tidak mempersoalkan hal ini. Mereka hidup secara wajar. Mereka bukan hanya orang-orang non-Kristen awam, tetapi mungkinjuga aktivis gereja dan para pendeta. Sebagian mereka ternyata masih hidup dalam kewajaran seperti manusia pada umumnya. Kewajaran hidup adalah musuh terselubung yang membahayakan. Mereka memang tidak berbuat jahat, tetappergi ke gereja, mengambil bagian dalam pelayanan, bahkan menjadi pendeta. Mereka semua hidup dalam kewajaran. Kita akan kesepian hebat. Orang lain tidak berbuat demikian, mengapa kita harus hidupekstrem.
Yang kedua, kita akan merasakan kadang-kadang Allah seperti meninggalkan kita. Kita seperti benar-benar ditinggalkan. Memang, tidak ada mukjizat; tidak ada kehadiran-Nya. Kita mempunyai masalah, tetapi kita tidak ditolong; kita susah, tetapi Allah seperti tidak menghibur; kita stres, tetapi Allah tidak berbisik yang membuat kita terhibur. Allah tidak memberi mimpi yang menguatkan. Tidak ada semua itu. Kita akan mengalami saat-saat seperti ini. Kadang-kadang Allah membiarkan kita ditindas, dan Allah seakan-akan tidak membela kita sama sekali. Keadaan kitamenjadi semakin sulit,