Truth Daily Enlightenment

Perkara Kecil


Listen Later

Kita tidak boleh menyepelekan hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita, karena keagungan martabat dan moral kita dibangun dari hal-hal kecil yang terjadi dan berlangsung setiap hari. Ketika Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, dia juga setia dalam perkara besar,” memang konteks Lukas 16: 1-10 bukan bicara mengenai sesuatu yang lain, kecuali uang atau mamon (Luk. 16:10). Uang itu perkara kecil. Jadi, kalau soal uang sudah gagal atau tidak benar, maka soal yang lain juga tidak benar.  Dari perkara-perkara sederhana yang terjadi, kita membangun martabat yang agung dan karakter kita. Dari bangun tidur, kata apa yang kita ucapkan? Apa renungan hati kita? Apa rencana kita? Waktu istri lupa menyediakan kopi, misalnya, bagaimana reaksi kita? Pada waktu supir datang terlambat; anak menjatuhkan barang, apa reaksi kita? Mari kita belajar bahwa rambut kepala kita pun terhitung, artinya tidak ada satu pun perkara yang terjadi di luar kontrol dan kehendak Allah.
Burung pipit yang harganya sangat murah, berharga di mata Allah. Tidak dibiarkan jatuh, apalagi kita. Rambut di kepala kita pun terhitung, artinya Allah begitu teliti memerhatikan kita. Satu lembar rambut kita “ditandai” oleh Allah. Ketika orang menyisir rambut lalu rambutnya rontok, dianggap biasa saja, tidak masalah. Kecuali yang hampir botak, baru mungkin bisa meratapi. Tetapi pada umumnya, orang merasa biasa saja. Namun, Allah menghitung jumlah rambut kita. Sebenarnya, kalimat itu juga bisa berarti “Allah menandai segala hal di dalam hidup kita.” Jadi, setiap kejadian atau peristiwa itu pasti berharga di hadapan Allah untuk kebaikan kita. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28-29).
Menanggapi perhatian Allah atas hidup kita, maka kita harus benar-benar berhati-hati atas apa yang kita lakukan, reaksi kita terhadap setiap kejadian yang terjadi di dalam hidup ini. Misalnya, waktu kita bangun dikejutkan oleh benda yang jatuh atau pintu yang terbanting keras. Bagaimana reaksi kita? Itu sebenarnya akan menentukan atau ikut menentukan, membangun martabat dan karakter, watak kita. Pada waktu kita berkendara diperhadapkan orang yang mengendarai kendaraan ugal-ugalan, bagaimana reaksi kita? Belum lagi banyak kesempatan berbuat dosa, bagaimana reaksi kita?
Banyak orang tidak memedulikan hal-hal kecil yang terjadi di dalam hidupnya. Mereka menganggap hal-hal tersebut tidak penting. Berbohong sedikit-sedikit, melakukan tindakan yang tidak patut, merasa tidak ada yang melihat.  Padahal ini akan merusak bangunan karakter kita. Biasanya mereka sembarangan dalam bertindak.  Hal ini menyebabkan kecenderungan menolerir tindakan-tindakan yang bisa melukai orang lain, menyakiti sesama, dan merugikan diri sendiri. Apalagi kalau seseorang itu kuat secara materi, kekuasaan atau kedudukan, dia bisa berbuat apa saja sesukanya. Biasanya bisa sewenang-wenang terhadap orang lain. Padahal yang dilakukan, bisa mendukakan hati Tuhan, membangun kebiasaan yang buruk, dan kebiasaan tersebut akan membangun karakter permanen dalam dirinya. Orang-orang seperti ini mudah melepaskan atau meledakkan emosinya dengan kata-kata sembarangan.
Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga,” (Mat. 5:48). Sempurna seperti Bapa, artinya dalam segala perkara, tindakan kita selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya, Tuhan berkata “kamu harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela.” In everything we do, we say, we live in His perfect holiness; kita hidup dalam kesempurnaan karakter-Nya. Dalam segala hal kita hidup dalam kesucian-Nya. Kesucian yang sempurna. Kalau kita tidak memiliki tekad yang sungguh-sungguh, maka tindakan kita pasti meleset dari kekudusan Allah. Seharusnya begitu bangun tidur, kita harus berlutut dulu di kaki Tuhan. Kita bukan hanya mengucap syukur, memohon ampun dari Tuhan, kemudian buru-buru bangkit dan pergi ke kantor.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings