Secara khusus, di sub bab ini kita membahas mengenai perpuluhan dalam kitab Maleakhi. Karena dari kitab ini, sering banyak orang mendasari pandangannya mengenai perpuluhan. Ayat-ayat yang sering ditampilkan untuk menjadi dasar atau landasan praktik perpuluhan dari kitab ini biasanya diambil dari Maleakhi 3:10-11 – Bawalah seluruh persembahan perpuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.
Satu hal yang harus kita ketahui bahwa sebenarnya Kitab Maleakhi adalah kitab yang memuat kemarahan Tuhan terhadap bangsa Israel, yang tidak melakukan perintah Taurat dengan benar, khususnya soal persembahan kepada Tuhan dan perkawinan campur dengan bangsa kafir. Kitab ini tidak ditujukan kepada bangsa manapun, tetapi kepada bangsa Israel yang memiliki Taurat dan yang seharusnya hidup dalam penurutan terhadap Taurat. Dalam Maleakhi 1:1 tertulis: Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi. Oleh sebab itu ayat ini tidak boleh secara “hurufiah” dan “mentah” dikenakan kepada bangsa lain atau kepada siapa pun tanpa melihat konteksnya. Juga bukan untuk umat Perjanjian Baru.
Tuhan marah terhadap bangsa Israel, sebab mereka tidak menghormati Allah, seperti Esau tidak menghormati orang tuanya dan hak kesulungan yang dimilikinya (Mal. 1:2-3 “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.”). Melalui pernyataan Tuhan ini, bangsa Israel diancam, jika mereka tidak menghormati Allah, seperti Esau yang tidak menghormati orang tuanya, maka Allah akan menghukum mereka.
Selanjutnya dalam kitab Maleakhi tersebut, Tuhan menunjukkan bagaimana bangsa Israel bersikap tidak hormat kepada Elohim Yahweh, yang membuat Tuhan merasa tidak dihormati secara patut. Bangsa Israel mencemarkan korban yang dipersembahkan kepada Tuhan. Seperti misalnya, mereka tidak memberikan persembahan yang baik, tetapi hewan yang buta dan yang bercacat. Seharusnya mereka tidak boleh menukar hewan yang layak dipersembahkan bagi Tuhan, dengan hewan yang buta dan yang pincang atau bercacat (Mal. 1:8). Dengan cara demikian, berarti pula imam-imam menghina Tuhan (Mal. 1:6). Dalam pernyataan-Nya, Tuhan tidak senang atas persembahan yang mereka bawa tersebut (Mal. 1:10).
Selanjutnya dalam Maleakhi 2, memuat kata-kata tegas dan tajam dari Tuhan kepada bangsa Israel, khususnya kepada para imam yang menerima korban dan persembahan, termasuk perpuluhan. Tuhan murka terhadap mereka, sebab mereka menjadi perantara Firman Tuhan kepada bangsa Israel, tetapi ternyata mereka sendiri menyimpang (Mal. 2:7-8). Kitab Maleakhi juga menunjukkan kemarahan Tuhan atas kesalahan bangsa Israel, karena melakukan kawin campur dengan bangsa lain, jadi mereka secara terang-terangan memberontak kepada Elohim Yahweh (Mal. 2:10-16). Karena kesalahan tersebut, maka Tuhan mengancam akan menghukum mereka.
Kemarahan Tuhan dimaksudkan atau bertujuan agar umat Israel disucikan dan diluruskan atau ditobatkan. Tuhan menghendaki agar bangsa Israel menjadi orang-orang yang tidak menyalahgunakan kurban dan persembahan bagi Tuhan. Tentu dalam hal ini juga, agar tidak terjadi penyalahgunaan perpuluhan oleh para imam. Sehingga para orang upahan, janda dan yatim piatu, serta orang asing tidak tertindas dan terabaikan. Karena maksud persembahan perpuluhan, juga untuk memberi mereka kesejahteraan, selain untuk penyelenggaraan ibadah di Bait Allah, imam,