Kalau kita mengamati kitab Kisah Para Rasul dan catatan sejarah gereja mula-mula sampai memasuki awal pertengahan -bahkan sampai abad 19- tidak muncul secara jelas tradisi perpuluhan ini. Dalam kehidupan dan pelayanan Yesus, serta para penerus-Nya -yaitu zaman rasul-rasul dan gereja mula-mula- tidak pernah terdapat bukti praktik perpuluhan. Justru yang ada adalah milik mereka dimiliki bersama-sama (Kis. 4:35). Mereka tidak mempersembahkan sepuluh persen dari harta mereka atau sebagian harta mereka, tetapi seluruh harta dan kehidupan mereka.
Di dalam sejarah gereja tidak tercatat mengenai perpuluhan dengan jelas. Seorang bapak gereja, Tertullianus, pada akhir abad kelima menjelaskan bahwa perpuluhan harus dilaksanakan secara sukarela, tetapi kemudian menjadi kewajiban bagi setiap orang Kristen. Sinode Von Macon, Perancis, yang dilaksanakan pada tahun 585 memutuskan tentang perpuluhan sebagai berikut: “Hukum Ilahi memerintahkan semua bangsa memberikan perpuluhan dari buah-buah (penghasilan) mereka ke tempat suci”.
Selanjutnya, gereja abad keenam mengingatkan kembali umatnya untuk melaksanakan persembahan perpuluhan. Di Perancis telah diakui hak gereja secara hukum atas perpuluhan. Pada zaman Reformasi pun perpuluhan tidak digoyang oleh pembaharuan. Martin Luther sendiri mengakui bahwa hukum tentang perpuluhan itu adalah suatu hukum yang benar-benar indah ditinjau dari segi pergerakannya, dimana dia berkata: “Karena kalau banyak tumbuh di ladang, saya berikan banyak, kalau sedikit, saya berikan sedikit”. Tetapi Martin Luther tidak menganjurkan atau memberi perhatian atasnya.
Dalam sejarah gereja, gereja Katolik tidak mempraktikkan perpuluhan, umat Katolik tidak dikenakan kewajiban membayar perpuluhan. Namun pernah terjadi dalam Konsili Trente, Gereja Katolik mewajibkan umat Katolik untuk membayar perpuluhan. Tetapi, praktik membayar perpuluhan itu lenyap secara perlahan-lahan sejak Revolusi Perancis pada abad ke-XVIII. Keputusan Konsili Trente itu rupanya bukanlah keputusan yang bersifat dogmatis, oleh sebab itu bisa saja diubah oleh pemimpin gereja berikutnya.
Secara umum praktik perpuluhan bukan sesuatu yang melekat dalam kehidupan gereja. Menurut catatan ada yang menyatakan bahwa baru setelah memasuki awal abad ke-20 sampai sekarang persembahan perpuluhan merambah ke dalam beberapa aliran gereja tertentu. Seorang penulis buku sejarah gereja, Dr. H.Berkhof dan Dr. I.H. Enklaar, menulis bahwa perpuluhan baru muncul di Korea Selatan, ketika memasuki awal abad ke-20, yaitu sekitar tahun 1930. Sejak itu banyak gereja mempraktikkan perpuluhan.
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, perpuluhan diajarkan secara ketat, menjadi semacam Taurat baru di gereja, berangkat dari penafsiran yang kurang tepat. Penafsiran yang tidak memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan hal tersebut. Inilah penafsiran yang dikembangkan di kalangan gereja-gereja aliran Pentakosta, Kharismatik, dan sejenisnya. Sering kita temukan penafsiran yang kurang memperhatikan konteks budaya, latar belakang, konsistensi analisa, dan lain sebagainya terhadap Alkitab, khususnya Alkitab Perjanjian Lama.
Kita tidak boleh atau tidak bisa mengenakan praktik perpuluhan ala Taurat atau bangsa Yahudi pada kehidupan umat Perjanjian Baru. Bagi umat Perjanjian Baru, bila praktik perpuluhan didasarkan pada Taurat, maka hal ini akan mengacaukan pola hidup yang benar, yang harus dikenakan oleh umat Perjanjian Baru. Kenyataan ini tidak disadari oleh banyak gereja dan orang Kristen secara pribadi. Mestinya, umat Perjanjian Baru memiliki pola hidup yang jauh lebih unggul daripada umat Perjanjian Lama; bukan hanya dalam beberapa tindakan moral, tetapi juga dalam hal memberi atau mengembalikan kepada Tuhan dan dalam segala hal menyangkut moral dan hubungannya dengan Tuhan.
Umat Perjanjian baru adalah umat yang harus masuk kepada wilayah hidup “tidak memiliki diri sendiri”. Kebenaran ini terdapat dalam berbagai bagian dalam A...