Allah itu hidup dan harus diperlakukan sebagai Pribadi yang hidup. Allah menjadi semakin nyata hidup dalam kehidupan ini, kalau kita semakin mengalami kematian dari manusia lama. Semakin kita mati—yaitu meninggalkan cara hidup kita yang lama—Yesus semakin hidup dalam hidup kita dan Allah makin nyata dalam kehidupan ini. Dalam Efesus 4:21-22 tertulis,“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Jangan sampai terjadi keadaan dimana gereja memiliki puji-pujian yang bagus, memiliki musik yang bagus, gedungnya juga bagus, tetapi manusianya tidak mengalami perubahan menuju kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Jangan sampai juga gereja memiliki organisasi yang bagus, manajemen yang bagus, tetapi manusianya tidak berubah sebagai anak-anak Allah yang mengenakan kodrat ilahi. Lebih baik kita tidak mempunyai fasilitas apapun, tetapi kita mengalami perubahan sesuai yang dikehendaki oleh Bapa.
Hendaknya kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan banyak gereja hari ini. Manusia lama kita harus dimatikan. Percuma dan sia-sia belaka semua kegiatan pelayanan gereja kalau maksud keselamatan, yaitu perubahan, tidak berlangsung atau terjadi dalam hidup para pelayan dan jemaatnya. Kalau kita tidak berjuang keras, manusia lama kita itu tidak akan mati. Manusia lama tidak bisa mati dengan mudah. Kita semua harus sadar sesadar-sadarnya betapa hebat perjuangan untuk dapat mematikan manusia lama ini. Kesempatan untuk berubah yang Allah berikan ini berharga sekali. Oleh sebab itu kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Terkait dengan hal itu, Firman Allah mengatakan,“… Kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan” (Ef. 4:22). Efesus 4:23juga menegaskan, “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.” Di sini, gereja harus serius melayani demi memberikan Firman yang memperbarui roh dan pikiran. Roh, spirit, itu bisa menunjuk pada hati; dan pikiran itu menunjuk pada rasio. Firman Allah yang murni berkuasa mengubah roh dan pikiran kita. Oleh sebab itu, kebenaran yang diajarkan haruslah Injil yang murni yang diajarkan Yesus tanpa sikap konformitas (menyesuaikan dengankeadaan).
Pelayanan yang mengubah manusia tidak bisa dibayar dengan uang. Kolekte, persembahan persepuluhan, dan buah suluh, semuanya tidak ada artinya tanpa perjuangan masing-masing individu untuk berubah. Oleh sebab itu, gereja tidak boleh sibuk memikirkan keuangan sampai mengabaikan hal yang lebih penting. Untukhal ini, gereja tidak perlu khawatir sama sekali. Allah pasti mencukupi dan tidak mempermalukan gereja milik-Nya. Kalau kita sudah menyadari bahwa semua hartakitaadalahmilik Allah, gereja itu akan berlimpah untuk bisa menjadi berkat bagi gereja lain atau masyarakat yang lemah dan yang tidak berdaya. Jadi, kalau belum sanggup memberi dengan tulus, gerejatidak boleh memaksa anggotajemaat untukmemberi uang. Kita harus berani menunggu hingga jemaatsudah memiliki kesadaran mengenai hal tersebut.Dengandemikian, mereka barulah akanmengembalikan milik Allah dengan sikap hati yang benar. Persembahan uang yang dibawa ke gereja sangat kecil jika dibanding dengan keselamatan. Allah menghendaki sikap hati yang benar. Jadi, yang benar haruslah hati yang terlebih dahulu dipersembahkan. Hati yang dipersembahkan kepada Allah harus sampai pada pengakuan, “Hidupku bukannya aku lagi, melainkanKristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Hal ini sama maknanya dengan pernyataan Paulus dalam suratnya,“… Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:24).
Harus dipahami bahwa yang harus diperjuangkan dalam pelayanan adalah kehidupan Yesus...