Perspektif

Pertemuan Bilateral Korea Utara dan Rusia


Listen Later

(Taiwan, ROC) --- Pertemuan perdana antar penguasa Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berlangsung pada pekan lalu. Pertemuan keduanya berlangsung, setelah negosiasi nuklir Pyongyang dengan Washington menemui jalan buntu. Para pakar menganalisis, meskipun Rusia dan Korea Utara memiliki permintaan masing-masing, namun keduanya memiliki harapan utama, yakni Amerika Serikat dapat mengubah jalan pikirannya. Mereka berharap bahwa Amerika Serikat dapat melepaskan sanksi internasional atas Korea Utara secara bertahap, sejalan dengan pemberhentian nuklir oleh Pyonyang. 

Semenjak Korea Utara melancarkan strategi diplomatik mereka dan melangsungkan pertemuan dengan beberapa pemimpin dunia; meliputi Amerika Serikat, Daratan Tiongkok dan Korea Selatan; Rusia di lain pihak juga tidak ingin ketinggalan. Vladimir Putin mengundang Kim Jong Un untuk berkunjung ke Rusia, tepatnya di Vladivostok. Keduanya berjabat tangan, seakan-akan hendak memberitahukan Presiden Donald Trump akan dalamnya persahabatan Rusia dengan Korea Utara. 

Di tengah desakan untuk menghentikan seluruh aktivitas nuklirnya, Kim Jong Un saat tiba di Rusia mengemukakan bahwa sikap Negeri Paman Sam terlampau keras. Vladimir Putin menekankan jika ingin menyelesaikan isu denuklirisasi di Semenanjung Korea, maka jaminan keamanan Korea Utara harus ditingkatkan. Selain itu, Putin juga akan bergabung dengan kerangka kerja “Perundingan Enam Negara”.

Kerangka kerja “Perundingan Enam Negara” merupakan pembicaraan multilateral terkait isu denuklirisasi Semenanjung Korea, yang terdiri dari Amerika Serikat, Daratan Tiongkok, Rusia, Korea Selatan, Korea Utara dan Jepang. Namun pada tahun 2009, setelah Korea Utara menarik diri dari kerangka kerja tersebut, perundingan ini juga stagnan. Di tengah terhentinya pembicaraan antar Amerika Serikat dengan Korea Utara, Rusia mulai mengintervensi dan menggunakan waktu ini sebagai peluang emas untuk mengutarakan pendapatnya. 

 

Peluang Emas Rusia untuk Menyuarakan Suaranya

Rusia yang dulu dikenal sebagai Uni Soviet, merupakan sekutu penting Korea Utara. Semenjak Uni Soviet runtuh, Rusia pun mulai memperkuat hubungan ekonominya dengan Korea Selatan. Di lain pihak, ketika Korea Utara sering melancarkan aksi uji coba rudalnya di tahun 2016 da0 2017, Rusia memilih untuk bergabung dengan jajaran yang mendukung penerapan sanksi internasional atas Korea Utara. Menurut media The Moscow Times, nilai perdagangan antar Rusia dengan Korea Utara pada tahun lalu merosot hingga US$ 34 juta. Angka ini memperlihatkan bahwa hubungan perdagangan antar keduanya tidak memiliki prospek yang menjanjikan. 

Media Amerika Serikat, Voice of America (VOA) menganalisisotoritas Moskow tengah berusaha menaikkan pengaruhnya di Asia Timur, terutama selepas Perang Dingin berakhir. Guna untuk mencapai tujuannya, Rusia harus memperkuat hubungan bilateralnya dengan Korea Utara. Selain itu, dalam rangka untuk mengurangi kemungkinan terjadinya konflik dengan negara-negara tetangga atau berseteru dengan pasukan Amerika Serikat yang berada di kawasan tertentu, Rusia tidak boleh mengabaikan peran Korea Utara. Inilah alasan mengapa Rusia ingin menemui Kim Jong Un dan memperlihatkan kemampuan diplomasinya.

 

Pertemuan yang Sarat Kepentingan

Terkait pertemuannya dengan Kim Jong Un, Putin memiliki pendapat sendiri. Selain itu, Kim Jong Un pribadi, tentu juga memiliki banyak keinginan. Media Washington Post mengutip pendapat para pakar yang mengemukakan setelah pertemuannya dengan Donald Trump pada bulan Februari 2019 lalu gagal, Kim Jong Un sekali lagi ingin mengembalikan citra pemimpinnya, yakni dengan bertemu Vladimir Putin.

Terkait dengan permintaan Kim Jong Un kali ini, pakar menganalisispenguasa Korea Utara meminta kepada Putin untuk memberikan dukungan militernya dan bantuan diplomatik di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengingar Rusia merupakan salah satu anggota yang memiliki hak veto. 

Namun untuk sektor ekonomi, Kim Jong Un sepertinya harus gigit jari. Menurut kebijakan dari sanksi internasional, Rusia harus memulangkan sekitar 10.000 pekerja asal Korea Utara selambat-lambatnya pada bulan Desember mendatang. Hal ini tentu akan melemahkan kemampuan devisa dan pengembangan senjata nuklir milik Korea Utara. Di saat yang sama, Korea Utara dikabarkan juga hendak membeli pesawat penumpang milik Rusia. Namun berdasarkan peraturan sanksi internasional, segala transaksi penjualan kepada Korea Utara merupakan tindakan pelanggaran. Meski berita tentang pengiriman diam-diam minyak oleh Rusia kepada Korea Utara telah merebak.

 

 

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

PerspektifBy Yunus Hendry, Rti