Kita semua tentu tahu bahwa kita harus berubah. Perubahan adalah prinsip, hukum, tatanan yang harus terjadi atau berlangsung dalam kehidupan, bukan hanya pada manusia melainkan juga pada makhluk lain. Kehidupan kerohanian kita yang menyangkut moral, akhlak, kesucian hidup atau pendewasaan rohani harus juga mengalami perubahan. Kita tahu, kita setuju bahwa kita harus mengalami perubahan. Tetapi ironisnya, banyak kita yang tidak sungguh-sungguh memperkarakan hal ini; apakah dirinya benar-benar mengalami perubahan atau tidak. Sehingga, berbulan-bulan, bertahun-tahun tidak mengalami perubahan secara benar, ia tetap merasa sejahtera saja. Ia tidak menganggap itu sebagai bencana atau kerugian. Padahal, waktu yang Tuhan berikan kepada kita itu singkat. Ada titik atau ujung akhir perjalanan hidup ini. Kalau seseorang sudah sampai akhir perjalanan hidupnya, ia tidak akan pernah mengalami perubahan lagi.
Itulah sebabnya, di dalam kekristenan tidak ada doa untuk orang meninggal supaya orang meninggal yang tadinya masuk neraka bisa pindah masuk surga. Atau sudah masuk surga dengan tingkat rendah, bisa naik lagi ke tingkat tinggi karena didoakan orang yang masih hidup. Tidak ada. Tuhan tidak mengajarkan demikian. Tetapi Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menggunakan waktu. Selagi masih “siang,” kita harus bekerja untuk Tuhan atau harus bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Firman Tuhan mengatakan: “pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini jahat.” Kita harus memperhatikan bagaimana cara kita hidup supaya kita mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah itu. Semua itu berbicara mengenai perubahan yang harus terjadi atau berlangsung dalam hidup kita.
Demikian pula dalam Roma 12:2 dikatakan agar kita tidak sama dengan dunia, tetapi mengalami transformasi atau perubahan cara berpikir sehingga kita mengerti kehendak Allah; apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna. Dan tanda atau ciri dari perubahan yang benar adalah tidak serupa dengan dunia ini. Tetapi seperti yang tadi penulis kemukakan, bahwa banyak orang tidak memperkarakan hal perubahan ini di dalam hidupnya. Sehingga ketika keadaan dirinya yang sebenarnya masih serupa dengan dunia ini, dia tidak menyadari keserupaan tersebut. Dia merasa nyaman-nyaman saja. Suatu hari, ketika dia berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, dia baru tahu bahwa ternyata ia tidak memiliki wajah Tuhan di dalam hidupnya, tetapi wajah dunia. Dan tentu wajah dunia adalah wajah orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa. Dan kepada orang yang tidak melakukan kehendak Bapa ini, Yesus akan berkata: “Enyahlah kamu dari hadapan-Ku, kamu yang melakukan kejahatan.” “Kejahatan” di sini bukan hanya berarti melanggar hukum, tetapi tidak melakukan kehendak Allah pun sudah merupakan kemelesetan.
Oleh sebab itu, kita harus serius untuk mencari Tuhan. Hanya dengan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan menjumpai Dia, maka kita akan mengalami perubahan. Bukan hanya perubahan secara moral umum, melainkan perubahan sesuai dengan kesempurnaan Allah Bapa; perubahan keserupaan dengan Yesus. Dan ini adalah upah bagi orang yang mencari Dia. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:6, “tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ini hal yang luar biasa. Sering kali yang dipahami orang, “upah” adalah ekonomi membaik, kesehatan, kelimpahan berkat jasmani, dll. Atau apa pun yang dianggap sebagai kebutuhan. Sejatinya, “upah” yang dimaksud di sini adalah pengenalan akan Allah yang benar. Itu yang menjadi harta abadi. Sebab, kalau upah itu hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, itu tidak berkualitas. Sebab Allah itu kekal, maka berkat-Nya juga pasti bernilai atau terkait dengan kekekalan.
Kita harus berjuang untuk mengenal Allah; berjuang mencari Allah. Tentu saja sarananya adalah melalui kebenaran Firman yang...