Tuhan Yesus mengatakan, “Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat. 24:12). Oleh karena itu, bisa dimengerti kalau di bagian lain dalam Alkitab, Yesus menyatakan keraguan, “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8). Setiap orang memiliki peta berpikir. Ini sama dengan paradigma atau pola berpikir atau sistem berpikir dari syaraf-syarafnya. Peta ini terbangun dari pengalaman hidup, filosofi hidup yang diserapnya, dan gen yang dimiliki masing-masing individu dengan karakteristiknya yang khusus dan khas. Kedatangan Tuhan Yesus hendak memperbarui peta berpikir atau cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang itu (1Ptr. 1:18-19). Tuhan melalui Roh Kudus menuntun orang percaya kepada segala kebenaran, bagi yang memberi diri, untuk diperbarui dari hari ke hari. Inilah yang menjadi isi mandat Tuhan Yesus dalam Matius 28:18-20.
Kedatangan Tuhan Yesus memberi gen baru dalam kehidupan orang percaya. Inilah kuasa” supaya dapat menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Roh Kudus yang dimeteraikan dalam diri orang percaya adalah gen baru (Ef. 1:13). Kalau orang percaya tidak aktif berjalan dalam pimpinan Roh melalui pembaruan Firman setiap hari, semua itu menjadi sia-sia. Talenta yang diberikan akan sia-sia (Mat. 25:14-30). Anugerah yang besar ini hendaknya tidak disia-siakan. Oleh sebab itu, kalau seorang Kristen mengerti anugerah yang besar ini, ia tidak akan memfokuskan dirinya pada perkara-perkara duniawi. Tuhan Yesus mengajarkan peta berpikir yang baru. Dengan peta baru tersebut seseorang akan dapat menyerap apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Namun kalau belum diubah petanya, ia tidak akan mengerti bahasa Tuhan (Yoh. 8:43). Seperti contohnya, Nikodemus tidak bisa mengerti apa yang diajarkan Tuhan Yesus sebab ia telah memiliki sistem dalam pola berpikir beragamanya (Yoh. 3).
Yang menjadi masalah terbesar dalam hidup sekarang ini adalah bagaimana kita dapat menerjemahkan iman dalam kehidupan bukan dalam pengakuan iman melalui acara liturgi yang menjadi bagian suatu ritual seperti yang dilakukan dalam agama-agama pada umumnya. Sesungguhnya, seluruh gerak hidup orang percaya adalah kebaktian dan penyembahan kepada Tuhan. Di dalam kehidupan setiap hari orang percaya, terdapat irama memuji dan menyembah Tuhan. Dalam Roma 12:1-2 sebenarnya sudah jelas tertulis bagaimana seharusnya menerjemahkan iman yang benar dalam kehidupan ini. Banyak orang yang ibadahnya masih dalam wujud ritual atau upacara. Liturgi orang percaya sesungguhnya adalah seluruh hidup ini. Ini berarti seluruh hidup orang percaya telah dimiliki Tuhan. Pengakuan ini ditandai dengan kesediaannya untuk tidak mencari penghormatan apa pun dari dunia ini. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia (Rm. 11:36). Kalau hidup orang percaya dimiliki Tuhan, tidak ada pujian dan sanjungan yang layak diterima untuk dirinya sendiri. Semuanya harus dikembalikan kepada Tuhan. Hal ini berbicara soal sikap hati. Oleh karena itu, yang penting adalah bagaimana hati anak- anak Allah memberi penghormatan kepada Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
Selanjutnya, seluruh gerak orang percaya adalah pengabdian kepada Allah. Ia bersedia menggunakan hidup ini untuk melayani Tuhan, untuk kesenangan hati-Nya. Inilah yang dikatakan Paulus bahwa apa pun yang dilakukan anak-anak Allah harus benar-benar memuliakan Tuhan (1Kor 10:31). Dan sejatinya, ini adalah irama hidup yang benar, di mana seluruh hidupnya adalah irama menyembah Tuhan (Luk. 4:8). Dalam Alkitab, kita dapat menemukan bagaimana Tuhan mengecam adanya kesalehan palsu dalam kehidupan umat Tuhan (Yes. 58:1-12). Kebenaran firman ini merupakan tamparan keras bagi banyak orang beragama yang tampak saleh dan bagi beragama, tetapi ternyata, kesalehannya palsu. Segala yang palsu tidak akan diterima Allah. Segala sesuatu yang palsu bukan berasal dari Allah, melainkan dari Iblis (Yoh. 8:44). Orang percaya harus memiliki hati nurani yang ber...