Truth Daily Enlightenment

PETA BURUK KOMUNITAS KRISTEN


Listen Later

Sejak konsili Nicea (tahun 325), para teolog menjadikan isi Alkitab sebagai bahan perdebatan yang melahirkan pertikaian dan percideraan. Hal ini bukan saja menyakiti sesama, tetapi juga menyakiti hati Tuhan. Ironisnya, hal tersebut terjadi justru ketika masa aniaya terhadap orang Kristen sudah mulai surut, ketika penguasa-penguasa dunia bersikap ramah terhadap kekristenan, yaitu dari awal abad ke-3. Kualitas kehidupan iman orang Kristen malah merosot. Kehidupan iman yang meneladani kehidupan Yesus dan pemberitaan Injil yang berani digantikan dengan perdebatan-perdebatan teologi, sampai hari ini diwarisi oleh orang-orang Kristen yang tidak mengalami Allah, yaitu orang-orang Kristen yang berurusan dengan Allah dalam fantasi. Sejak kekristenan menaklukkan Eropa—dimana kaisar-kaisarnya menjadi orang Kristen, dari Konstantinus sampai Theodosius Agung, yang menjadikan kekristenan sebagai agama negara (tahun 380)—Roma malah menjadi ambruk, dan gereja mengalami masa kegelapan.
Ketika suatu lembaga seperti gereja atau individu memiliki wewenang untuk menentukan seseorang sesat atau tidak dan kemudian memberikan hukuman, itu berarti ia mengambil alih wewenang Tuhan. Jika hal menyatakan seseorang salah atau sesat dilakukan oleh rasul-rasul—seperti Paulus—kita bisa menerimanya. Sebab, kita percaya mereka adalah orang-orang yang dipercayai Allah untuk menerima “tongkat estafet” dari Allah, guna meneruskan dan melegalkan ajaran Yesus. Merekapun melakukannya tidak disertai dengan hukuman secara fisik atau hukuman lain yang menyiratkan suatu kebencian. Hal ini sangat berbeda dengan gereja-gereja setelah abad ke-3, dimana teologi menjadi bahan perdebatan untuk memuaskan ambisi dan arogansi.
Hari ini, teologi juga menjadi komoditas untuk menjadikan seseorang memiliki prestise di kalangan orang beragama, khususnya pada kalangan akademisi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Dengan hal ini, tidak heran kalau teologi juga menjadi komoditas guna memperoleh uang semata-mata. Panggilan sebagai teolog sebenarnya sangat luar biasa, dimana seorang teolog bisa menjadi jurubicara Allah untuk memberi keterangan tentang Allah, dan bagaimana membangun hubungan dengan Dia. Tetapi, kalau hanya menjadi sarana untuk memperoleh uang, harga diri, dan jabatan di lingkungan komunitas Kristen—baik di gereja, yayasan Kristen, lembaga Kristen, dan seminari atau sekolah tinggi teologi—berarti sebuah pengkhianatan terhadap Allah. Tidaklah salah kalau seseorang yang dipanggil Tuhan untuk menjadi pengajar atau pengkhotbah dengan pengetahuan teologi mendapatkan nafkah dari panggilannya, tetapi bukan karena nafkah tersebut ia berteologi.
Orang-orang yang menjadikan teologi sebagai alat untuk “mengangkat diri” dan memperoleh uang, didorong oleh ketidakmatangan mental dan spiritualnya, dan menggunakan media sosial sebagai sarananya. Mereka mengisi media sosial dengan perkataan-perkataan tajam untuk menyerang gereja lain dan individu, dan sebisanya yang diserang adalah mereka yang sudah memiliki popularitas, demi memperoleh perhatian netizen dan sekaligus memperoleh uang. Tentu alasan mereka melakukan hal itu adalah untuk “meluruskan” ajaran. Untuk itu, mereka menilai pandangan orang lain dan tidak segan-segan mengomentarinya dengan tuduhan sesat. Perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak bermartabat sebagai teolog yang santun, yang kemudian memancing dan memicu orang lain melakukan hal sama. Sebagai akibatnya, kepercayaan jemaat kepada gereja dan jabatan pendeta menjadi rusak.
Akibat dari hal ini, pasti ada yang menjadi korban. Satu aspek, munculnya orang-orang yang suka menyerang ajaran orang lain bisa bernada positif—yaitu ketika pendeta-pendeta yang tidak mengajarkan kebenaran ditelanjangi—tetapi aspek yang lain, bisa juga terjadi penghakiman dan tuduhan yang menyesatkan terhadap pendeta-pendeta yang mengajarkan kebenaran. Orang-orang yang suka menghakimi orang lain di media sosial terkait dengan pengajaran menjadi lepas kendali,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings