Perumpamaan mengenai dasar atau pondasi kehidupan dalam Matius 7:24-27 memberikan beberapa pelajaran yang sangat penting dan berharga. Pertama, hanya ada dua jenis manusia yang mendengar perkataan Tuhan. Yang satu berkategori bijaksana dan yang lain bodoh. Kata “bijaksana” adalah phronimos (φρόνιμος) yang memiliki beberapa pengertian intelligent, wise, prudent, mindful of one’s interests sensible, thoughtful (cerdas, bijak, berhati-hati atau tidak ceroboh, sensitif untuk suatu kepentingan, masuk akal, bijaksana). Kata “bodoh” dalam teks ini adalah moros (μωρός), yang artinya adalah foolish, impious, godless, stupid (bodoh, fasik, murtad, tidak cerdas). Kata moros juga menunjukkan sesuatu yang tidak bergerak atau tidak berkembang. Kata yang sejajar dengan phronimos adalah sophos (σοφός), yang artinya adalah kebijaksanaan (Ef. 5:15).
Kata sophos memiliki keterkaitan dengan kemampuan berpikir hasil dari sebuah perjalanan bersama dengan Tuhan. Kata sophos lebih menunjuk kepada sesuatu yang memiliki unsur keahlian berdasarkan sebuah proses belajar. Kata ini dalam teks Yunani juga berarti skilled, expert, wise, cultivated, learned (terampil, ahli, bijak, dibudidayakan, belajar). Phronimos lebih memiliki unsur adikodrati -walaupun tidak mutlak- yang bertalian dengan kemampuan berpikir atau intelek, tentu juga hasil pimpinan Roh Kudus. Kebalikan kata sophos adalah asophos (ἄσοφος). Tetapi kebalikan dari kata phronimos adalah moros yang memiliki pengertian “tidak berkembang.”
Perkataan Tuhan adalah kebenaran Injil. Kalau seseorang mengerti kebenaran Injil tetapi tidak melakukannya, maka percuma saja apa yang didengarnya. Pada dasarnya apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah cara atau gaya hidup-Nya. Setiap orang yang mendengar kebenaran Injil pasti diberi pengertian lebih jauh dalam dirinya bagaimana mengikuti jejak-Nya. Masalahnya apakah kita bersedia kehilangan hidup kita sendiri untuk mengenakan kehidupan Tuhan Yesus atau tidak. Dalam hal ini dibutuhkan ketekunan yang tinggi.
Orang yang melepaskan diri dari segala miliknya dapat menjadi murid, artinya bisa berkembang (tidak moros) (Luk. 14:33). Pengiringan kita kepada Tuhan Yesus tidak dapat menjadi sambilan. Segenap hidup harus rela dirampas olehnya. Ketika seseorang berusaha mengenakan kebenaran Injil yang didengar -yaitu berusaha sesuai dengan gaya hidup-Nya- maka ia akan menjadi cerdas (phronimos). Hal ini akan dialami seseorang karena pengurapan Tuhan bekerja dalam diri seseorang (1Yoh. 2:27). Dengan hal ini Tuhan Yesus sebagai Guru akan dialami setiap individu. Ia mengajar kepada masing-masing pribadi melalui Roh Kudus.
Seseorang dapat menjadi bijaksana menurut Alkitab (phronimos) adalah sebuah perjalanan panjang yang diajar oleh Roh Kudus. Hal ini tidak bisa diperoleh dengan cepat. Pada suatu saat akan datang pengujian apakah seseorang bijaksana atau tidak. Tuhan Yesus memberi perumpamaan mengenai gadis bodoh dan bijaksana. Kata “bijaksana” dalam teks tersebut adalah phronimos (Mat. 25:2). Hujan, banjir, dan angin bertiup menunjuk kepada pengujian yang pasti akan dialami setiap individu (Yak. 1:12; 1Ptr. 1:6-7). Tuhan Yesus sendiri mengalami pengujian ini yang sama dengan baptisan api (Luk. 12:50; Mrk. 10:38). Demikian pula dunia akan dibawa ke masa pengujian atau yang sama dengan penampian. Yohanes Pembaptis berbicara mengenai penampian ini. Yohanes Pembaptis berbicara kepada orang-orang yang kelihatannya mau menjadi pengikut Tuhan tetapi tidak sungguh-sungguh mau bertobat, bahwa mereka akan ditampi (Mat. 3:7-12). Penampian itu akan membuktikan apakah mereka sungguh-sungguh bertobat atau tidak.
Yohanes Pembaptis mengajak setiap pendengarnya untuk memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini sejajar dengan spirit Perjanjian Baru yang menuntut orang percaya sungguh-sungguh berkualitas sebagai anak Allah. Status sudah tidak perlu lagi,