Kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita adalah anugerah, sekaligus kehormatan. Tentu anugerah yang di dalamnya termuat tanggung jawab. Dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita diberikan Tuhan opsi atau pilihan. Di situlah letaknya kita harus bertanggung jawab. Di dalam keputusan-keputusan yang kita ambil, di situ kita mengarahkan hidup dan kita menentukan “nasib” kita. Kita menentukan “keadaan kekal” kita dan itu harus selalu kita ingat. Dalam kisah Adam dan Hawa, sepertinya Allah membiarkan Adam dan Hawa memetik buah yang dilarang dikonsumsi, tetapi Allah sudah menasehati lebih dahulu. Ingat, Allah sudah memberi peringatan. Selanjutnya, Allah memberi kebebasan dan sebenarnya itu kehormatan.
Masalahnya, apakah kita menggunakan kehendak bebas kita untuk menjadi manusia yang terhormat atau terhina? Kuasa kegelapan berusaha membuat orang tidak memperhatikan hal ini dengan serius. Kita juga sering dibawa dalam keadaan pasif, artinya pasivitas. Kepasifan itu sebenarnya juga pilihan. Ketika seseorang tidak bermaksud memilih—sejatinya itu pun pilihan—pasti ia terhanyut oleh dunia. Ingat, kita tidak bisa netral, maka kita harus memilih hal yang benar dan sesuai kehendak Tuhan. Orang yang pasif atau netral artinya seperti tidak menghargai kehormatan yang diberikan oleh Tuhan dan sekaligus dia tidak bertanggung jawab atas kehendak bebas yang dimilikinya.
Ironis, banyak orang dalam keadaan pasif tanpa dia sadari. Maka, kita harus memilih. Masalahnya, apa pilihan dalam kita menggunakan kehendak bebas? Kalau pilihan studi, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan jodoh, itu sebenarnya masih opsi yang tidak berisiko tinggi. Namun, opsi atau pilihan utama yang kita harus pilih, dan mengarahkan diri pada opsi itu adalah kekekalan dalam kemuliaan atau kekekalan dalam kehinaaan. Memang, tidak ada seorang pun yang bermaksud untuk masuk ke dalam kehinaan yang kekal, tetapi ketika seseorang bersikap pasif, sebenarnya ia membawa diri, tergiring, terkondisi atau terhanyut ke dalam kekekalan yang menuju kehinaan. Kuasa gelap dengan sangat cerdik dapat membuat seseorang lupa opsi yang terpenting ini yaitu opsi utama ini dengan berbagai kesibukan yang dijalani setiap orang.
Gadget, tontonan yang tidak memiliki manfaaat kedewasaan rohani, hobi-hobi yang tidak membuat kita bertumbuh dalam iman, sebenarnya semua hal itu dapat membuat kita menjadi pasif. Belum lagi, masalah-masalah yang menguras perhatian, yang menusuk tajam perasaan, yang membuat gelora emosi, maka kita dibuat hanyut dan pasif. Ingat, setan selalu membuat gerakan-gerakan yang membuat kita lupa bahwa kita ada di dalam persimpangan opsi kekekalan; dalam kemuliaan atau dalam kehinaan. Karenanya, kita harus memetakan hidup kita. Bukan hanya 24 jam 1 hari, melainkan dari menit ke menit, dari detik ke detik kita mengarahkan hidup kita. Jadi, begitu kita buka mata pada pagi hari, sejatinya kita sudah dibawa ke medan pemilihan itu.
Doa itu penting, ke gereja itu penting, membaca Alkitab itu penting, mendengar khotbah itu penting. Kita harus dengan serius memetakan waktu kita. Maka sekarang yang harus kita lakukan adalah membuat hati kita membara untuk mencintai Tuhan. Jangan menunda untuk menjadi seorang yang berkenan di hadapan Tuhan. Jangan tunggu nanti. Dalam doa kita berkata, “Tidak ada hal besar dalam hidupku kecuali Engkau, Tuhan; kecuali berkenan di hadapan-Mu, menyenangkan Engkau, memuaskan Engkau. Satu-satunya hal besarku, hanya Engkau, Tuhan.” Jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang sangat berharga ini. Kita harus sangat serius agar kita punya akselerasi menuju kekekalan kemuliaan itu cepat.
Kita tidak boleh tenggelam, bukan hanya ketika kita berada di dalam masalah, tetapi juga ketika kita sedang kelimpahan harta, terhormat, naik pangkat, itu pun kita tidak boleh tenggelam. Roh Kudus pasti akan menolong kita. Waktu kita pasif, Tuhan bisa tegur kita. Namun, kadang kita tidak mau dengar ‘alarm’ Tuhan, maka kita digebuk lewat masalah.