“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu” ... Memantapkan diri hingga mampu bertahan sampai di detik ini tidak mudah. Jatuh bangun mental, merasa diasingkan, keharusan meruntuhkan idealisme, demotivasi, hingga kerinduan mendalam pada kampung halaman, semuanya mengacau dalam perjalanan mencari makna dewasa dalam profesi terpilih ini. Tubuhku menggigil tiap hendak mencari tahu aku ini siapa. Lidahku kelu tiap mencari jawaban aku disini untuk apa. Terlebih, akalku kebas tiap memikirkan bagaimana aku harus bertahan. Kecamuk pikiran dari dua sisi membelenggu pikiranku, antara memikirkan bagaimana cara mampu mengatasi semua kegelisahan atas pencapaian diri ini dan bagaimana cara melanjutkan hidup hingga dapat berkembang serta memberikan peran terbaik untuk organisasi. Terlihat berat memang, untukku yang harus menyelesaikan masa remajaku dengan kurang sempurna. Bagaimana tidak, rekan sejawat semasa sekolah, di masa remajanya telah mampu mendengung-dengungkan tuntutan keadilan pada pemerintah. Kolega lain berhasil menyelesaikan ekspedisi di tanah timur. Bahkan kawan seperantauan lainnya berhasil meraih sembilan-sepuluh penghargaan atas bakat dan minatnya yang telah digeluti bertahun-tahun lamanya. Kemudian aku, merenung, mematung, berpikir, membiarkan batang otak berkarat. Masih tidak tahu hendak melakukan apa. Sampai akhirnya . . .
Salam kenal, kami Team Juri. JURI merupakan singkatan dari Jujur Pada Diri Sendiri, tim yang membantu gengges Juri untuk mengaktualisasi diri dan mengumprovisasi bakat yang dimiliki. Kami memberikan informasi serta tips&trick di bidang self development secara berkesinambungan setiap hari. Selain itu, kami juga mengangkat isu-isu terkini terkait pandangan psikologi disertai monochrome visual yang agar lebih menjiwai. Setiap informasi yang kami dapatkan, bersumber baik dari teori maupun pengalaman hidup kita semua.