
Sign up to save your podcasts
Or


KATAREADS #8 : Love for Imperfect Things: Menerima dan Mencintai Diri di Dunia Penuh Kesempurnaan
Nah, kali ini kita akan bahas salah satu buku favoritku mengenai self-development, yang ga lain dari “Love for Imperfect Things: How to Accept Yourself in a World Striving for Perfection” karya Haemin Sunim.
KATAIN #13: Perfeksionisme; Emang boleh seperfect itu?
Halo sobat KATA gimana nii kabarnya? yuk yuk ngobrol bareng dengan KARSACITA lagi
oiya, sobat KATA tau ga? Perfectionist adalah seseorang yang memiliki kecenderungan untuk mengejar atau mengharapkan standar yang sangat tinggi dalam pekerjaan, penampilan, atau hasil mereka sendiri. Mereka cenderung sangat memperhatikan detail dan sering kali sulit untuk puas dengan hasil yang kurang dari sempurna. Meskipun ada keuntungan dalam memiliki standar yang tinggi dan tekun dalam mencapai hasil terbaik, kecenderungan untuk menjadi perfectionist juga bisa memiliki dampak negatif pada kesejahteraan mental dan emosional seseorang. Terkadang, penting untuk belajar menerima bahwa kesempurnaan absolut mungkin tidak selalu dapat dicapai dan bahwa kegagalan atau kesalahan juga merupakan bagian dari proses belajar dan pertumbuhan.
Ingin tahu kelanjutannya? yuk dengerin podcast KARSACITA KATAIN #13: Perfeksionisme; Emang boleh seperfect itu? agar kita bisa berkembang bersama.
[KATAREADS #7: Overthinking? Yuk damai sama mereka!]
Hai-hai sobat Kata, gimana kabarnya?? 🙋🏻♀👋🏻
Sobat KATA pernah ga sih mengalami overthinking? Apakah overthinking relate dengan keadaan sobat KATA sekarang? Kalau relate, berarti pembahasan kita hari ini akan cocok nih buat sobat KATA karena aku mau bahas salah satu buku yang berjudul “Berdamai dengan Overthinking” karya kak Rahma Kusharjanti. Yuk mari belajar bersama mengenai dampak dan ketahui juga apa itu overthinking sobat KATA!
Untuk informasi lebih lanjut:
@karsacita.id : https://instagram.com/karsacita.id?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
[KATALOG #18:The Importance of Time Management for Mental Health] Halo-halo Soba Kata ! 👋
Apakah kamu tau kalau kita cuma punya waktu 24 jam untuk bisa membagi semua aktivitas yang kita lakukan, mulai dari sekolah, bekerja, bermain, berkumpul dengan keluarga, bahkan sampai waktu tidur pun sebisa mungkin harus dilakukan dalam kurun waktu tersebut. Ketika mengelola waktu dengan baik, kita dapat mengurangi stres, meningkatkan keseimbangan dalam hidup, dan menjaga kesehatan mental kita dengan lebih baik.
Pada segmen kali ini kita akan sama-sama membahas bagaimana cara manajemen waktu yang baik agar semua aktivitas itu berjalan dengan optimal. Enjoy your day ! ✨
Untuk informasi lebih lanjut: @karsacita.id : https://instagram.com/karsacita.id?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
[KATAIN #11: Gratitude Journalling: Sudahkah Kita Bersyukur]
Halo-halo sobat KATA ! 👋
Di segmen kali ini kita akan sama-sama mengupas pembahasan mengenai Gratitude Journalling: Sudahkah Kita Bersyukur. Membahas bagaimana cara kita mengungkapkan rasa syukur melalui tulisan. Cuss langsung aja kita dengarkan podcast KATAIN #11: Gratitude Journalling: Sudahkah Kita Bersyukur, agar kita semakin paham dan bisa mengaplikasikannya ke diri kita. Enjoy your day ! ✨
Untuk informasi lebih lanjut: @karsacita.id : https://instagram.com/karsacita.id?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
[Katareads #6: Bangkit dari Trauma Bersama “Moga Bunda Disayang Allah”]
Hai-hai sobat Kata, gimana kabarnya?? 🙋🏻♀👋🏻
Merupakan salah satu kutipan dari sebuah novel. Karya Tere Liye " Moga Bunda Disayang Allah". Dalam novel ini mengisahkan seorang anak perempuan bernama Melati, yang berusia 6 tahun. Pada awalnya Melati adalah anak yang periang dan lucu. Ia mengalami kebutaan dan tuli sejak berusia 3 tahun, dan selama 3 tahun itu pula dunia Melati sangat gelap. Dia tidak memiliki akses sama sekali untuk bisa mengenal dunia dan seisinya. Mata, telinga, dan semuanya seakan tertutup baginya.Melati sendiri tidak pernah mendapatkan cara untuk bisa mengenal apa yang selama ini ingin dikenal olehnya. Rasa ingin tahu yang sudah Melati pendam selama bertahun-tahun itu pada akhirnya memuncak, menjadikan Melati mengalami frustasi dan sulit untuk dikendalikan. Orang tua Melati sudah melakukan berbagai macam usaha dan cara untuk bisa mengembalikan Melati. Bahkan Tim dokter ahli yang diundang langsung oleh kedua orang tuanya juga tetap tidak berhasil mengendalikan gadis kecil tersebut.Tidak hanya menceritakan Melati saja, novel ini juga akan menceritakan tentang seorang pemuda bernama Karang, yang berjuang untuk bisa keluar dari perasaan bersalah setelah kematian 18 anak didiknya dalam sebuah kecelakaan kapal.
Novel ini mengajarkan bagaimana kita menghadapi masa lalu yang begitu rumit, bagaimana cara berdamai dan bersyukur mengenai apa yang telah di berikan Tuhan. Oleh karena itu, yuk sama-sama kita mengupas isi dan pelajaran dari novel ini, agar kita bisa memahami bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan dan jangan jadikan kekurangan tersebut menjadikan kamu berputus asa dalam menjalani kehidupan. 😄
@karsacita.id : https://instagram.com/karsacita.id?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
KATACANG #4 : Suviving Your Quarter-life Crisis: Menjaga Keseimbangan dan Berdamai dengan Quarter-life Crisis
Halo-halo sobat Kata !!! 🙋🏻♀👋🏻
Salah satu lirik lagu yang sering kita dengar, mungkin cocok dengan istilah Quarter-life Crisis. Saat memasuki dewasa awal, saat itulah mulai muncul rasa kekhawatiran mengenai masa depan, merasa kurang pede, ragu dan tidak puas akan diri kita saat ini. Hal ini terjadi ketika ada sebuah tuntutan dan ketidakpastian.
Lalu bagaimana agar kita mengatasi dan menghadapi tantangan Quarter-life Crisis? Penasaran kan? yuk mari sama-sama kita mengupas topik QLS: Menjaga Keseimbangan dan Berdamai dengan Quarter-life Crisis. Bersama psikolog hebat kita kak Andita Faradilla, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Untuk informasi lebih lanjut :
@karsacita.id : https://instagram.com/karsacita.id?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
[Katareads #5: Berdamai dengan Luka Batin Bersama Temporary Papa]
Halo-halo sobat Kata !!! 🙋🏻♀👋🏻
"Kesedihan kita hari ini bisa menjadi inspirasi bagi orang lain di masa depan. Barangkali bukan untuk satu-dua tahun, tetapi setelah kita mati."
Salah satu kutipan dari buku karya kak Latifah Maurinta yang berjudul "Berdamai dengan Luka Batin Bersama Temporary Papa". Buku ini mengisahkan seorang pria yang bernama Yuke Ia diminta menjadi Papa sementara bagi Monic, anak sahabatnya. Garry, ayah Monic, tak bisa mendampingi putrinya lantaran harus fokus dengan penyembuhan penyakitnya. Sedangkan Monic mengalami gangguan kepribadian dependent. Hal itu membuatnya sulit berpisah dengan Garry. Lama Yuke mempertimbangkan permintaan itu. Ia bukan mempermasalahkan keadaan Monic. Justru ia tak ingin membesarkan Monic dengan luka batin.
Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari buku ini, gimana? penasaran kan? Yuk mari bersama-sama kita kupas tuntas bagaimana kak Latifah Maurinta menjelaskan cerita dan menggarap buku ini.
From the publisher's feed