Membahas mengenai oknum setan atau Iblis ini, kita harus mengerti apa yang dimaksud dengan jahat. Dalam pengertian umum, “jahat” artinya keadaan yang sangat buruk. Jika dikaitkan dengan perbuatan atau perilaku jahat, artinya perbuatan yang melanggar hukum atau perbuatan yang merugikan, menyakiti, dan melukai sesama, paling tidak perbuatan yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Tetapi dalam konteks kebenaran Alkitab, keadaan yang buruk adalah keadaan manusia yang terpisah dari Allah; tidak ada keadaan yang lebih buruk daripada keadaan seseorang yang terpisah dari Allah. Ini berarti jahat adalah keadaan terpisah dari Allah. Dengan demikian, perbuatan jahat adalah perbuatan yang membuat orang lain terpisah dari Allah. Oknum yang jahat adalah oknum yang mengakibatkan atau menyebabkan manusia terpisah dari Allah. Oknum tersebut adalah setan atau Iblis, itulah sebabnya setan atau Iblis disebut sebagai “Si Jahat.”
Dalam 1 Yohanes 3:8 tertulis: “… barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” Kalimat “Iblis berbuat dosa dari mulanya” secara tidak langsung menunjukkan bahwa oknum ini telah melanggar kekudusan Allah. Ini berarti bahwa dalam Alkitab, pasti ada catatan mengenai oknum yang melawan Allah secara langsung. Melawan Allah secara langsung artinya berhadapan head-to-head dengan Allah secara frontal. Dalam hal ini, kita harus mengeksplorasi seluruh isi Alkitab untuk mendapatkan landasan yang kokoh mengenai kebenaran ini.
Begitu besar peran oknum ini dalam sejarah kehidupan—baik di surga maupun di bumi—maka tidak mungkin Alkitab tidak mencatat atau menunjukkan asal-muasal oknum tersebut. Alkitab pasti memberi informasi mengenai asal-muasal dan keberadaan setan atau Iblis ini, demi melengkapi pemahaman orang percaya mengenai kehidupan yang harus dijalani secara utuh. Oleh kemurahan Allah, kita dapat menemukan kebenaran terkait dengan keberadaan setan atau Iblis tersebut. Dalam hal ini, dibutuhkan kerendahan hati, hidup yang kudus, hati yang tidak mencintai dunia, serta hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Allah pasti membukakan rahasia Firman-Nya mengenai segala hal yang dibutuhkan bagi kehidupan iman kita, di dalamnya termasuk mengenai oknum setan atau Iblis ini.
Jika kita membaca Alkitab Perjanjian Baru, Yesus dan para rasul-Nya sudah tidak lagi mempersoalkan latar belakang setan. Mereka sudah memiliki persepsi yang kuat dan permanen mengenai setan atau Iblis sebagai musuh Allah. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa baik Yesus maupun para rasul sudah sangat mengerti apa yang sudah dilakukan oknum ini, sehingga oknum ini dikenal sebagai musuh Allah. Ada indikasi yang sangat jelas bahwa hal pemberontakan setan atau Iblis kepada Allah bukan sesuatu yang asing dipahami oleh mereka. Tentu saja pemahaman mereka didasarkan pada Alkitab Perjanjian Lama. Dengan demikian, tidak mungkin Alkitab Perjanjian Lama tidak mengungkapkan dengan jelas siapa oknum ini dan apa yang telah dilakukannya sehingga ia dinyatakan sebagai oknum musuh Allah, seperti yang Yohanes katakan sebagai “berbuat dosa dari mulanya.” Tidak ada catatan apa pun yang Alkitab kemukakan mengenai hal ini di Perjanjian Lama selain dalam Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Mempelajari apa yang dicatat Alkitab mengenai setan, maka dapat ditemukan bukti bahwa oknum yang dimaksud dalam Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 adalah setan atau Iblis itu.
Kejahatan oknum setan ini terhadap manusia dimulai dari kisah di Taman Eden (Kej. 3). Oknum inilah yang menjadi kausalitas prima dan satu-satunya penyebab manusia memberontak kepada Allah sehingga terusir dari hadapan Allah. Oknum inilah yang mengakibatkan manusia mengalami kematian, baik kematian jasmani maupun kematian kekal. Banyak ayat Alkitab di Perjanjian Baru yang menjuluki oknum ini sebagai si jahat (Mat.