Pandemi Covid-19 sudah setahun melanda dunia. Hingga sampai saat ini, belum dipastikan kapan akan berakhir. Pandemi ini pun telah menginfeksi lebih dari 122 juta jiwa penduduk bumi. Lebih dari 2.7 juta orang meninggal dunia. Minimal ini adalah data yang ter-record. Kenyataan sebenarnya, bisa jauh lebih banyak lagi.
Selain berdampak buruk pada sektor kesehatan, pandemi ini juga telah memporak-porandakan tatanan dunia. Mulai dari ekonomi, pendidikan hingga tatanan sosial budaya masyarakat global pun terdampak dan dipaksa agar menjalani kenormalan baru - New Normal. Mulai dari cara dan bentuk-bentuk interaksi sosial ekonomi, bahkan beberapa praktek dari ritus agama pun harus menyesuaikan dengan kenormalan baru ini.
Tak terkecuali, sektor pemerintahan pun juga menyesuaikan kenormalan baru tersebut. Berbagai bentuk kegiatan pelayanan publik pun menerapkan protokoler kesehatan guna mencegah penyebaran Covid-19. Diantaranya penerapan pembatasan sosial, pemberlakuan wajib pakai masker, wajib jaga jarak, serta beragam bentuk-bentuk dari protokol kesehatan lainnya.
Namun disayangkan, dari penerapan kenormalan baru - New Normal - ini, ada yang luput dari perhatian banyak kalangan, terutama sebagian dari praktek pelayanan publik di lingkungan pemerintah. Dimana selama pandemi berlangsung, ada kelompok rentan yang banyak yang terabaikan hak-haknya. Terutama berkaitan dengan hak kesetaraan dalam pelayanan publik di lingkungan pemerintah. Ada salah seorang jurnalis telah menangkap fenomena permasalahan ini, serta berhasil membuat laporan khusus tentang potret diskriminasi dalam pelayanan publik, yang dialami oleh penyandang disabilitas-sobat Tuli, saat pandemi.
Nah, PRCi Podcast kali ini mencoba membincang berbagai bentuk-bentuk kesenjangan yang terjadi selama pandemi dalam bidang pelayanan publik, terutama bagi para penyandang disabilitas. Untuk tema obrolan ini, kami mengundang salah seorang jurnalis yang sangat memiliki interest terhadap isu-isu yang berkaitan dengan gender dan social inclusion, Sdr. Bagas Dhani Purwoko, seorang jurnalis Radar Bojonegoro, yang juga merupakan anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Bojonegoro serta seorang pegiat komunitas literasi "Guneman". Bagas, panggilan akrabnya, ini juga yang telah membuat liputan khusus tentang nasib sahabat Tuli di kala pandemi berlangsung. Obrolan Podcast ini dipandu Sdr. Tulus Adarrma (Host).