Kata “prestasi” dalam bahasa Indonesia artinya hasil yang telah dicapai. Sejak kanak-kanak, telah diajar dan didorong oleh orangtua dan lingkungan kita untuk mencapai prestasi yang terbaik, baik dalam studi maupun karier, dan berbagai bidang hidup lainnya. Telah terpatri dalam jiwa bahwa hidup ini untuk mengejar prestasi. Demikianlah semua manusia menghabiskan umur hidupnya, mengerahkan segala tenaga dan usaha untuk mencapai prestasi yang terbaik menurut versinya. Dalam filosofi hidup manusia pada umumnya, prestasi yang baik adalah kebahagiaan, kebanggaan pribadi dan orangtua, serta tujuan hidup. Semua ini berorientasi pada hal-hal yang fana di dunia.
Konsep prestasi yang dikemukakan di atas ini telah mengakar di dalam pikiran hampir semua orang hari ini. Banyak orang Kristen, aktivis, bahkan pejabat sinode gereja masih terbelenggu oleh konsep yang salah ini. Walaupun bibirnya membicarakan kebenaran Firman Allah bahkan mengkhotbahkannya, tetapi konsep di atas telah kuat melekat dalam jiwa, sehingga mereka tidak pernah berpikir mengenai prestasi di alam keabadian. Padahal, semua kita akan dan harus mati, dan setiap kita harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang kita lakukan selama kita hidup di dunia ini. Alkitab memperingatkan bahwa semua manusia harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau pun jahat (2Kor. 5:10).
Segala sesuatu yang kita upayakan di bumi ini, dari sekolah, kuliah, berkarier, bekerja atau bisnis, dan segala hal, semata-mata sebagai pengabdian kita kepada Tuhan. Kita tidak mengumpulkan harta di bumi, tetapi menggunakan semua untuk kepentingan Tuhan. Dengan cara demikian, kita mengumpulkan harta di surga. Jadi, sekaya apa pun seorang anak Tuhan yang benar, ia tidak merasa kaya sebab segala sesuatu yang ada padanya bukan miliknya sendiri. Ia hanya sebagai pengelola semata-mata. Dengan kehidupan seperti itu, seseorang dapat memadamkan semua keinginan, nafsu, dan segala ambisinya. Perjalanan hidup di bumi hanyalah perjuangan untuk melakukan kehendak Bapa dan memenuhi rencana-Nya. Inilah prestasi yang mestinya dicapai manusia.
Sayangnya, pada umumnya prestasi yang tinggi biasanya diukur dengan berhasilnya mencapai gelar, meraih kedudukan yang tinggi dalam jabatan, baik jabatan di kantor swasta maupun gelanggang politik dan pemerintahan. Prestasi yang tinggi juga diukur dari kebahagiaan berumah tangga, banyaknya uang yang dimiliki, yang terwujud dalam bentuk rumah mewah, mobil bagus, perhiasan yang melekat di tubuh, dan lain sebagainya. Dalam lingkungan gereja yang tidak mengajarkan kebenaran yang murni, konsep prestasi ini masih menjadi ukuran apakah seseorang terberkati oleh Tuhan atau tidak.
Prestasi yang benar adalah prestasi di kekekalan, tidak menyangkut masalah berapa tinggi pendidikan yang telah diraih, kedudukan yang dicapai, kekayaan yang dapat dihimpun, kebahagiaan berkeluarga yang telah dinikmati, dan kehormatan yang telah diterima dari manusia. Prestasi di kekekalan menyangkut apakah kita telah mengisi tahun-tahun hidup kita dengan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak Bapa. Sebagai orang percaya, prestasi di kekekalan diukur dengan ukuran seberapa kita telah melakukan kehendak Bapa. Menyadari hal ini, Paulus berprinsip hidup: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya” (2Kor. 5:9).
Prestasi yang menjadi target yang seharusnya dicapai adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, sehingga kita layak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Karena tidak ada target prestasi tersebut, tidak ada dorongan yang kuat dan usaha serta perjuangan menjadi sempurna. Tetapi kalau jangkauan pandang dan fokus hidup orang percaya kepada kemuliaan bersama dengan Kristus di Kerajaan-Nya nanti,