Truth Daily Enlightenment

Proses Meniru


Listen Later

Apa yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah proses meniru. Proses ini berlangsung secara otomatis dari generasi ke generasi. Pola pikir dan gaya hidup seseorang pada umumnya meniru apa yang sudah dilakukan orang sebelumnya dan apa yang dilihat dari lingkungannya. Ini yang disebut oleh Petrus sebagai cara hidup yang diwariskan oleh nenek moyang (1Ptr. 1:18-19). Manusia pertama yang mewariskan pola pikir dan gaya hidupnya adalah Adam. Adam mewariskan bukan saja gen kepada keturunannya, tetapi juga cara berpikir dan gaya hidup yang bersumber pada buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat menunjuk atau gambaran dari asumsi yang baik dan jahat dari sumber yang bukan dari Allah. Hal ini mengakibatkan manusia kekurangan kemuliaan Allah. Manusia tidak mencapai standar kesucian Allah. Memang Adam tidak menjadi manusia keji dan jahat seperti hewan, tetapi keturunannya bisa berpotensi menjadi jahat, sejahat-jahatnya. Seperti Kain membunuh adiknya Habel. Hal ini membuktikan fakta ini.
Adam telah gagal menurunkan gen yang baik. Adam tidak mencapai standar segambar dan serupa dengan Allah, sehingga anak-anaknya juga tidak segambar dan serupa dengan Allah, tetapi serupa dan segambar dengan dirinya (Kej. 5:3). Tentu saja Adam juga tidak mewariskan lingkungan yang baik sebagai warisan bagi anak cucu keturunannya. Dalam hal ini Adam gagal menjadi pokok keselamatan (Yun. aitios) yang artinya gagal sebagai penggubah (Ing. composer). Secara logis bisa dimengerti kalau perjalanan hidup manusia berikutnya menunjukkan bahwa manusia semakin rusak akhlaknya.  Sampai pada titik klimaks akhir sejarah manusia, kejahatan akan semakin bertambah-tambah sesuai dengan yang dikatakan oleh Firman Tuhan (Dan. 12:10; Mat. 24:12-13; 2Tim. 3:1-5). Karena akhlak manusia dari satu ke generasi berikut semakin buruk, maka keadaan manusia semakin rusak.
Seiring dengan perjalanan waktu, nilai-nilai yang dimiliki manusia semakin jauh dari standar kesucian Allah. Hal ini menjadi penyebab pembangunan gambar diri yang salah, sebab manusia terus bergerak hanya untuk menjadi seseorang seperti yang diidolakan. Idola manusia pada umumnya adalah menjadi orang yang berlimpah harta, berpendidikan tinggi, berpangkat, berpenampilan menarik, cantik atau ganteng dan lain sebagainya. Itulah yang menjadi nilai tertinggi kehidupan manusia pada umumnya, yang akhirnya menjadi tujuan hidup. Dari sejak kecil, masa kanak-kanak sampai dewasa, dunia membangun cara berpikir dan gaya hidup yang orientasinya hanya pada hal-hal tersebut sampai menjadi seperti sistem kehidupan yang permanen atas mereka. Manusia hanya berorientasi pada keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh.  2:15-17). Manusia pada umumnya telah terjerat dengan sistem kehidupan seperti ini. Cara berpikir dan gaya hidup tersebut sudah dianggap sebagai cara berpikir dan gaya hidup yang wajar, padahal ditinjau dari kebenaran Allah, itu adalah cara hidup anak-anak dunia yang tidak memiliki kasih Allah, artinya tidak dapat mengasihi dan menghormati Allah.
Pada umumnya orang tua juga mendorong anak-anaknya untuk mengidolakan apa yang orang tua idola. Kalau orang tua mengidolakan profesi dokter, maka anaknya diusahakan untuk menjadi dokter. Kalau orang tua mengidolakan ilmu, maka ia mendesain anaknya untuk menjadi ilmuwan. Kalau orang tua mengidolakan seorang konglomerat atau menjadi orang kaya, maka ia mengarahkan anaknya untuk menjadi orang kaya. Semua itu didasarkan pada nilai-nilai yang ada dalam pikiran orang tua. Nilai-nilai yang dipandangnya dapat menciptakan harga diri, martabat, kebahagiaan, keamanan, ketenangan dan kenyamanan. Dalam hal ini anak-anak menjadi obyek keluarga, yaitu  sebagai alat untuk mendatangkan kemuliaan manusia, atau nama besar keluarga serta kepuasan hati orang tua. Anak-anak tidak dilatih sejak kecil untuk hidup bagi kemuliaan nama Tuhan dan kepentingan Kerajaan Surga.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings