Pembenaran bagi orang percaya tidak sama dengan pembenaran bagi orang di luar orang percaya. Orang-orang di luar orang percaya dibenarkan hanya sampai batas dosa-dosa mereka dipikul oleh Tuhan Yesus, sehingga mereka dapat dihakimi menurut perbuatan yang standarnya adalah kebaikan secara umum. Jika didapati baik, maka mereka memperoleh kesempatan hidup di dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Dalam suratnya Paulus mengatakan: Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup (Rm. 5:8). Pembenaran di sini adalah pembenaran untuk hidup di dunia yang akan datang; bisa bagi orang percaya maupun orang yang tidak percaya kepada Yesus karena tidak mendengar Injil. Dalam hal ini nampak nyata keadilan Allah. Semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut karena dosa satu orang. Sekarang dalam keadilan-Nya, Allah memberi Putra Tunggal-Nya yang memikul semua dosa. Maka semua dosa manusia yang pernah lahir di bumi ini dipikul-Nya.
Pembenaran bagi orang percaya adalah pembenaran yang disertai dengan proses dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Ini berarti seorang yang mengenal Injil, percaya kepada Tuhan Yesus menerima pembenaran disertai panggilan untuk benar-benar berkeadaan benar seperti Dia yang benar adanya. Hal ini sama dengan menjadi sempurna seperti Bapa atau menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Jika orang percaya tidak masuk dalam pembenaran untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, maka berarti orang Kristen tersebut walaupun mengaku percaya Yesus, hanya masuk ke dalam pembenaran bagi orang yang tidak percaya. Pembenaran bagi orang yang tidak percaya hanya menerima pembebasan dari hukuman dosa, kemudian dihakimi menurut perbuatannya (Rm. 2:12-15)
Harus dipahami bahwa percaya berarti menyerah kepada obyek yang dipercaya. Orang percaya berarti mengikut Tuhan Yesus atau meneladani gaya hidup-nya. Orang yang tidak semakin serupa dengan Yesus berarti tidak percaya kepada-Nya. Orang yang tidak berjuang untuk menjadi serupa dengan Yesus berarti tidak memberi diri masuk dalam proses pembenaran bagi umat pilihan. Terkait dengan penjelasan ini, kalimat “menjadi orang benar” dalam Roma 5:19 harus dipahami secara lengkap dan utuh (Rm. 5:19, Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar). Bagi orang di luar Kristen, mereka menjadi orang benar dalam arti dipandang benar atau dianggap benar dalam standar kebaikan umum. Allah tidak memperhitungkan kesalahan yang mereka lakukan sepanjang hidup. Allah mempersoalkan atau memperkarakan apakah mereka layak masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakatnya, yaitu jika mereka mengasihi sesama seperti diri sendiri. Adapun bagi orang percaya “menjadi orang benar” berarti sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
Perlu diperhatikan kata “ketaatan” dalam ayat tersebut (Rm. 5:19 Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar). Tulisan Paulus dalam ayat ini menunjukkan bahwa untuk bisa dilakukan pembenaran atas manusia, Tuhan Yesus harus melakukan perjuangan, yaitu taat kepada Bapa; taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Karena ketaatan Tuhan Yesus, maka semua manusia memperoleh kebebasan dari hukuman dosa. Ini sebuah perjuangan yang tidak ternilai. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya, kita juga harus berjuang untuk dapat menjadi atau berkeadaan benar seperti Tuhan Yesus. Dengan demikian bagi orang percaya, proses pembenarannya harus sampai pada kesempurnaan seperti Yesus, sehingga orang percaya dapat serupa dengan Yesus; memiliki pikiran dan perasaan-Nya (Flp. 2:5-11).
Akhirnya, Roma 5 ini ditutup dengan pernyataan Paulus sebagai berikut: Tetapi hukum Taurat ditambahkan,