Masalah penting yang harus dipersoalkan adalah bagaimana proses “pengerasan hati” Firaun zaman Musa tersebut. Kita tidak boleh memandang pengerasan hati Firaun secara mistik. Ternyata Tuhan menggunakan sarana untuk mengeraskan hati Firaun, bukan intervensi ke dalam hati atau batin Firaun. Pada umumnya orang berpikir bahwa cara Tuhan mengeraskan hati Firaun adalah dengan mengubah hatinya. Seakan-akan Tuhan intervensi ke dalam jiwa Firaun dan membuat hatinya menjadi keras hati.
Pandangan di atas tersebut adalah salah. Kalau seseorang berpandangan atau berpikir bahwa Tuhan mengintervensi ke dalam batin manusia dan mengubahnya tanpa alasan, itu adalah tuduhan terhadap Tuhan bahwa Tuhan melakukan pelanggaran terhadap hakikat-Nya sendiri dan merusak hakikat manusia. Alkitab jelas menunjukkan bahwa sejak semula Allah menciptakan manusia, Ia memberikan independensi kepada manusia, sehingga manusia harus mengarahkan sendiri jiwanya atau mengendalikannya. Jadi, kalau seseorang berpandangan bahwa Allah berintervensi ke dalam jiwa manusia, ini adalah pandangan yang benar-benar menyesatkan.
Firaun zaman Abraham bukan Firaun yang jahat, sebelum ia mengambil Sara sebagai istri, ia bertanya baik-baik siapa Sara itu. Ia tidak langsung mengambil dan membunuh Abraham. Seandainya ia tahu bahwa Sara adalah istri Abraham, ia tidak akan atau belum tentu mengambil untuk menjadi istrinya (Kej. 12:16-20). Karena Abraham mengaku Sara sebagai saudaranya, maka Firaun bermaksud mengambilnya untuk dijadikan istrinya. Hal ini menunjukkan bahwa Firaun zaman Abraham tersebut baik. Paling tidak berbeda atau lebih baik dibanding dengan Firaun yang memerintah pada zaman Musa. Firaun yang memerintah zaman Musa ini adalah Firaun yang jahat, sudah tidak bisa diperbaiki dan pantas untuk dihukum. Ia mempekerjakan paksa bangsa Israel dan menekan mereka dengan semena-mena.
Itulah sebabnya Tuhan mengadakan banyak peristiwa, seperti kejaiban tongkat menjadi ular dan sepuluh tulah yang membuat Firaun bukannya bertobat, tetapi hatinya semakin keras. Firaun zaman Abraham dihantam sekali dengan “tulah yang hebat”, dan menjadi bertobat. Tetapi Firaun zaman Musa diberi tulah secara bertahap pun masih tetap tidak bertobat. Ternyata tulah bertahap tersebut membuat Firaun ini semakin keras hati, sampai immune (kebal) terhadap peringatan dari Tuhan. Hal ini bukan bentuk diskriminasi, dimana Tuhan tidak mengeraskan hati Firaun zaman Abraham, tetapi mengeraskan Firaun zaman Musa. Dalam hal ini keras hati Firaun tidak terjadi oleh tindakan Tuhan yang mistis, tetapi melalui proses natural yang dapat kita mengerti. Kalau Tuhan tidak bermaksud mengeraskan hati Firaun, maka Tuhan tidak akan menyediakan peristiwa-peristiwa sehingga Firaun bertobat dan menjadi baik. Sebaliknya, Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa terjadi dalam hidupnya membuat dirinya semakin immune terhadap peringatan dan teguran dari Tuhan.
Hendaknya kita tidak berpikir bahwa secara mendadak hati Firaun dibuat menjadi keras, sebagai akibatnya Firaun ini tidak melepaskan bangsa Israel keluar dari Mesir. Seakan-akan hal tersebut mirip dengan orang yang dihipnosis. Jadi, menurut banyak orang, Firaun disentuh oleh Tuhan secara mistis seperti orang dihipnosis agar hatinya menjadi keras. Sehingga seandainya Firaun ditanya: Mengapa hatinya menjadi keras sehingga tidak mau melepaskan bangsa Israel? Kalau Firaun jujur, ia dapat menjawab bahwa dirinya “tidak tahu” entah mengapa hatinya menjadi keras.
Jadi, sangat keliru pandangan yang mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun secara mistis. Ini adalah pandangan yang tidak tepat. Tuhan tidak akan pernah berbuat demikian. Tidak mungkin hati seseorang menjadi keras, tanpa ada alasannya sama sekali untuk menjadi keras. Firaun zaman Musa menjadi keras hati, karena memang keadaan hatinya berpotensi menjadi keras akibat dari pilihan demi pilihan, dan tindakan demi tindakan yang pernah dilakukannya.
Harus diingat,