Tidak mungkin seseorang bisa hidup di hadirat Allah kalau tidak menjadi anak-anak Allah yang sah. Setiap orang Kristen pasti mengaku sebagai anak-anak Allah, padahal belum tentu demikian. Dalam Roma 8:14, Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak Allah. Pada zaman anugerah ini, Tuhan membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu dengan hidup dalam pimpinan Roh Allah. Umat pilihan adalah orang-orang yang sungguh beruntung karena menjadi orang yang terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga dapat menjadi anak-anak Allah. Berbicara mengenai anak-anak Allah, kita perlu meninjau Yohanes 1:12, “Mereka yang percaya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Kata “kuasa” itu dari teks aslinya adalah exousia (ἐξουσία). Kata ini berarti hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah penebusan, Roh Kudus, Firman, dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia. Jadi, kuasa tersebut tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak-anak Allah. Kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah.
Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, barulah seseorang mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Seseorang hanya dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Setiap orang percaya harus mengalami proses perubahan status dari anak gampang (anak yang tidak sah) atau nothos (Yun. νόθος), menjadi anak yang sah atau huios (Yun. υἱός). Kata nothos berarti anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate child, a child born to unmarried parents). Penjelasan mengenai nothos dan huios ini tertulis di dalam Ibrani 12:4-10. Inilah perjuangan yang harus dijalani oleh setiap orang percaya untuk menjadi anak-anak Allah yang sah.
Memang semua manusia pada dasarnya adalah anak-anak Allah, sebab roh yang ada pada manusia adalah roh yang berasal dari Allah. Namun, mereka yang rohnya (neshamah) belum didewasakan atau belum disempurnakan, masih berstatus anak gampang atau anak yang tidak sah. Keselamatan merupakan proses mengubah manusia dari anak gampang menjadi anak yang sah. Pengesahan sebagai anak yang sah ditentukan oleh apakah seseorang mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau berkodrat ilahi, atau tidak. Mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat ilahi berarti memiliki karakter seperti Bapa sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan Bapa; hidup di hadirat Allah.
Firman Tuhan berkata kalau seseorang tidak menerima didikan Bapa, berarti ia adalah anak gampang. Tentu saja orang-orang Kristen seperti ini tidak mengerti hak dan kewajibannya sebagai anak-anak Allah. Mereka pasti hidup dalam percintaan dunia. Mereka tidak serius dan tidak tekun belajar kebenaran Firman Tuhan dan bertumbuh dewasa. Orang-orang Kristen seperti ini tenggelam dalam kenyamanan menikmati rumah, mobil, hiburan dunia, perhiasan, barang branded, wisata, dan kesenangan dunia lainnya yang dianggap merupakan hal penting dan utama dalam hidup. Mereka akan berusaha menambah kekayaan mereka sebagai kesenangan atau kebahagiaan dan jaminan ketenangan hidup. Dengan cara hidup demikian, mereka merendahkan nilai-nilai rohani dan kekekalan. Inilah orang-orang yang dimaksud Paulus sebagai seteru salib Kristus karena pikiran mereka hanya tertuju kepada perkara-perkara duniawi.
Banyak gereja yang dengan mudah mengajarkan bahwa kalau seseorang sudah mengaku Yesus sebagai Juruselamat, maka secara otomatis sudah berstatus sebagai anak-anak Allah yang sah. Mereka boleh mengklaim berhak hidup di hadirat Allah atau bersekutu dengan Allah. Kesalahan ini juga disebabkan karena pengertian yang salah mengenai konsep anugerah.