Fluent Fiction - Indonesian:
Rainy Day Resilience: Overcoming Exam Anxiety Find the full episode transcript, vocabulary words, and more:
fluentfiction.com/id/episode/2026-06-05-22-34-01-id
Story Transcript:
Id: Di tengah hujan deras yang terus menerus menyiram atap sekolah, Bintang duduk di pojok kantin.
En: In the middle of the heavy rain continuously pouring down on the school roof, Bintang sat in the corner of the canteen.
Id: Tangannya gemetar memegang selembar kertas penuh soal matematika.
En: His hands trembled as he held a sheet full of math problems.
Id: Sejak pagi, Ayu duduk menemani.
En: Since morning, Ayu had been sitting with him.
Id: "Santai, Bintang.
En: "Relax, Bintang.
Id: Kita bisa belajar bersama.
En: We can study together.
Id: Ingat, kita harus tetap tenang," kata Ayu dengan senyum menenangkan.
En: Remember, we have to stay calm," said Ayu with a calming smile.
Id: Meski begitu, kata-kata Wira terus bergema di kepala Bintang.
En: Even so, Wira's words kept echoing in Bintang's head.
Id: "Nilai ujian akhir ini penting banget!
En: "The final exam score is really important!
Id: Kalau gagal, kita bisa nggak lulus…" kata Wira kemarin saat di kelas.
En: If we fail, we might not graduate…" Wira said yesterday in class.
Id: Bintang menghela napas berat.
En: Bintang took a deep breath.
Id: Dia tahu, untuk mengatasi rasa cemasnya, dia harus mencari tempat lain untuk belajar.
En: He knew that to overcome his anxiety, he needed to find another place to study.
Id: Dia merindukan kehangatan dan kedamaian yang terkadang ditemukannya di bangsal psikiatri ketika mengunjungi bibinya.
En: He missed the warmth and peace he sometimes found in the psychiatric ward when visiting his aunt.
Id: Setelah sekolah, Bintang dan Ayu berjalan menuju rumah sakit.
En: After school, Bintang and Ayu walked toward the hospital.
Id: Bangsal psikiatri itu terletak di sudut bangunan, agak sunyi dari hiruk pikuk.
En: The psychiatric ward was located in a corner of the building, somewhat quiet from the hustle and bustle.
Id: Huja deras menciptakan irama menenangkan di atap.
En: The heavy rain created a soothing rhythm on the roof.
Id: Suara hujan ini menjadi terapi yang aneh bagi Bintang.
En: This sound of rain became a strange kind of therapy for Bintang.
Id: Di sana, Bintang duduk di bangku panjang di depan kamar bibinya.
En: There, Bintang sat on a long bench in front of his aunt’s room.
Id: Bibinya tersenyum tipis begitu melihat Bintang dan Ayu masuk.
En: His aunt gave a faint smile as soon as she saw Bintang and Ayu enter.
Id: "Bagaimana kabar sekolah, Bintang?
En: "How's school, Bintang?"
Id: " tanya bibinya lembut, sambil menepuk-nepuk bantal di sampingnya untuk mengajak Bintang duduk.
En: his aunt asked gently, patting the pillow beside her to invite Bintang to sit.
Id: Setelah beberapa menit, Bintang mulai merasa berat di dadanya.
En: After a few minutes, Bintang began to feel a heaviness in his chest.
Id: Nafasnya pendek dan cepat.
En: His breaths were short and quick.
Id: Ayu cepat sigap, menggenggam tangan Bintang.
En: Ayu quickly reacted, holding Bintang's hand.
Id: "Ingat, kita di sini.
En: "Remember, we are here.
Id: Bibimu adalah wanita terkuat yang pernah kamu kenal.
En: Your aunt is the strongest woman you’ve ever known.
Id: Kamu bisa menjadi kuat seperti dia.
En: You can be strong like her."
Id: "Kata-kata Ayu memberi ketenangan pada Bintang.
En: Ayu's words provided Bintang with calm.
Id: Nafasnya perlahan mulai teratur.
En: His breath slowly became regular.
Id: Bibinya tersenyum lembut dan berkata, "Kadang, kita harus mengingat bahwa semua badai pasti berlalu.
En: His aunt smiled softly and said, "Sometimes, we have to remember that every storm will pass.
Id: Yang penting adalah bertahan di tengahnya.
En: What's important is to endure through it.
Id: Semua yang kamu kerja keras untuknya akan terbayar.
En: Everything you work hard for will be worth it."
Id: "Kata-kata itu menancap dalam pada Bintang.
En: Those words struck deeply within Bintang.
Id: Dia sadar, mungkin dirinya bisa bertahan, seperti bibinya, meski di tengah badai kecemasan.
En: He realized that maybe he could endure, like his aunt, even in the midst of an anxiety storm.
Id: Dengan perasaan baru yang lebih tenang, Bintang kembali belajar.
En: With a newfound sense of calm, Bintang resumed studying.
Id: Ketika hari ujian tiba, Bintang duduk di kelas dengan lebih percaya diri.
En: When the exam day arrived, Bintang sat in class with more confidence.
Id: Meskipun hujan di luar masih deras, dalam hatinya, dia merasa lebih damai.
En: Although the rain outside was still pouring heavily, in his heart, he felt more at peace.
Id: Dia tahu, seperti hujan yang terus turun lalu berlalu, demikian pula dengan kecemasannya.
En: He knew, just as the rain continues to fall and then passes, so too would his anxiety.
Id: Bintang mungkin tidak pernah sepenuhnya bebas dari cemas, tetapi dia telah menemukan cara untuk menghadapinya.
En: Bintang may never be entirely free from anxiety, but he had found a way to face it.
Id: Dengan keyakinan tersebut, ia menyelesaikan ujian akhirnya, siap menghadapi apa pun yang datang—dengan tenang dan penuh keberanian.
En: With that conviction, he completed his final exam, ready to face whatever comes—with calmness and bravery.
Vocabulary Words:
- trembled: gemetar
- anxiety: kecemasan
- endure: bertahan
- peace: kedamaian
- calming: menenangkan
- exam: ujian
- heavy: deras
- sheet: selembar
- overcome: mengatasi
- confidence: percaya diri
- psychiatric: psikiatri
- soothing: menenangkan
- hustle and bustle: hiruk pikuk
- faint: tipis
- breath: nafas
- conviction: keyakinan
- calm: tenang
- rhythm: irama
- storm: badai
- roof: atap
- struck: menancap
- graduated: lulus
- therapy: terapi
- worth: terbayar
- face: menghadapi
- deeply: dalam
- bravery: keberanian
- amidst: di tengah
- heaviness: berat
- final: akhir