
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- Pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga Amerika Serikat diketahui telah melampaui dari yang diharapkan sebelumnya. Di tengah negosiasi perdagangan Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok yang akan digelar, Indeks Dow Jones dibuka melonjak ke titik tertinggi.
Perekonomian Negeri Paman Sam diketahui terus berkembang ke arah positif. Pada tanggal 27 November 2019, ekonomi Amerika Serikat di kuartal ketiga tahun 2019 diketahui meningkat 2,1%. Angka ini lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni 1,9%.
Badan riset perekonomian asal Britania Raya, Oxford Economics mengemukakan bahwa data terbaru memperlihatkan bahwa ekonomi Amerika Serikat tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun demikian, salah satu analisis Gregory Daco menyampaikan di tengah pertumbuhan ekonomi global yang memperlihatkan tendensi menurun dan ketidak-pastian negosiasi perdagangan, serta pertumbuhan gaji yang stagnan, mengakibatkan aktivitas pasar dalam beberapa bulan ke depan akan melemah.
Tingkat pertumbuhan 2,1% yang tercapai di luar perkiraan ini, disebabkan adanya revisi atas inventori investasi. Konsumsi pengeluaran menjadi sumbu pemantik yang berhasil menggerakkan roda perekonomian kuartal ketiga.
Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengemukakan pertumbuhan jumlah pesanan pelaku usaha menjadi pertanda baik bagi perkembangan ekonomi di kuartal keempat tahun 2019. Namun demikian, penasihat ekonomi makro (macroeconomic advisers) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat hanya akan berkisar 1,8 %. Sedangkan Oxford Economics menargertkan angka yang lebih sedikit, yakni 1,6%.
Yang perlu dijadikan perhatian adalah, meskipun pertumbuhan ekonomi dilaporkan stabil, namun laba perusahaan di kuartal ketiga diketahui menyusut 0.6%. Dan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencapai 3,3%, laba kali ini masih berada jauh di bawah. Departemen Perdagangan Amerika Serikat melanjutkan bahwa negosiasi perusahaan besar lokal; seperti Facebook, Google dan Alphabet; telah mengikis laba perusahaan secara mayoritas.
Tingkat investasi perusahaan di Amerika Serikat masih menjadi sisi yang rentan bagi perekonomian setempat. Hal ini memperlihatkan bahwa perusahaan lokal tidak mengutamakan sektor pembelian perangkat lunak, fasilitas dan anggaran penelitian. Hanya saja, selama kuartal ketiga ini, jumlah investasi di sektor properti dari para konsumen berhasil mengimbangi investasi di sektor industri, yang kali ini menyusut.
Laba perusahaan yang menurun masih memperlihatkan adanya keraguan pasar terhadap kemajuan perang dagang. Belum lagi dengan faktor-faktor lainnya yang juga menjadi penyebab ekonomi Amerika Serikat ikut terjerumus; misal kenaikan biaya tenaga kerja, harga sumber energi yang lesu dan pesimisnya ekonomi dunia.
Menurut perusahaan data keuangan global, Refinitiv, mengemukakan dividen dari saham perusahaan S&P 500 di kuartal ketiga diperkirakan akan menurun 0,4%. Ini juga menjadi kemerosotan pertama dari perusahaan tersebut, semenjak tahun 2016.
Ramalan Perekonomian di Kuartal Keempat
Hingga hari ini, data di kuartal 4 memperlihatkan masih tingginya tendensi pengusaha untuk menanamkan aset mereka dan tingkat pengeluaran konsumen yang tidak menurun, meskipun terjadi penurunan di sektor produksi.
Data pertumbuhan Amerika Serikat di kuartal ketiga, menjadi standar tolak ukur dari Bank Sentral FED untuk menetapkan kebijakan moneter mereka.
Sebelumnya, FED mencemaskan kondisi manufaktur, perdagangan dan investasi perusahaan yang memperlihatkan kecenderungan menurun, yang pada akhirnya membuat FED kembali menurunkan tingkat suku bunga. Ini merupakan ketiga kalinya FED menurunkan suku bunga mereka di tahun 2019.
Pada tanggal 25 November 2019, Ketua FED, Jerome Powell, mengemukakan bahwa ekonomi Amerika Serikat terus mengalami perkembangan selama 11 tahun terakhir. Ia juga memuji rekor yang berhasil dicetak Negeri Paman Sam.
Kepala Ekonom Bank MUFG New York, Chris Rupkey menyampaikan rasa syukurnya atas perkembangan ekonomi Amerika Serikat yang telah tumbuh dan mengarah ke sisi positif.
Menilik angka pengangguran yang berkurang dan jumlah pesanan yang bertambah, membuat Chris Rupkey optimis terhadap perkembangan ekonomi di tahun mendatang, yang diperkirakan oleh banyak pakar finansial akan terjadi resesi.
Ekonom Senior dari perusahaan Capital Ecomics, Michael Pearce mengemukakan bahwa secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi akan melambat dalam periode waktu yang singkat, tetapi proporsi tersebut akan lebih rendah dari yang semula diperkirakan.
By Yunus Hendry, Rti(Taiwan, ROC) --- Pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga Amerika Serikat diketahui telah melampaui dari yang diharapkan sebelumnya. Di tengah negosiasi perdagangan Amerika Serikat dan Daratan Tiongkok yang akan digelar, Indeks Dow Jones dibuka melonjak ke titik tertinggi.
Perekonomian Negeri Paman Sam diketahui terus berkembang ke arah positif. Pada tanggal 27 November 2019, ekonomi Amerika Serikat di kuartal ketiga tahun 2019 diketahui meningkat 2,1%. Angka ini lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni 1,9%.
Badan riset perekonomian asal Britania Raya, Oxford Economics mengemukakan bahwa data terbaru memperlihatkan bahwa ekonomi Amerika Serikat tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun demikian, salah satu analisis Gregory Daco menyampaikan di tengah pertumbuhan ekonomi global yang memperlihatkan tendensi menurun dan ketidak-pastian negosiasi perdagangan, serta pertumbuhan gaji yang stagnan, mengakibatkan aktivitas pasar dalam beberapa bulan ke depan akan melemah.
Tingkat pertumbuhan 2,1% yang tercapai di luar perkiraan ini, disebabkan adanya revisi atas inventori investasi. Konsumsi pengeluaran menjadi sumbu pemantik yang berhasil menggerakkan roda perekonomian kuartal ketiga.
Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengemukakan pertumbuhan jumlah pesanan pelaku usaha menjadi pertanda baik bagi perkembangan ekonomi di kuartal keempat tahun 2019. Namun demikian, penasihat ekonomi makro (macroeconomic advisers) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat hanya akan berkisar 1,8 %. Sedangkan Oxford Economics menargertkan angka yang lebih sedikit, yakni 1,6%.
Yang perlu dijadikan perhatian adalah, meskipun pertumbuhan ekonomi dilaporkan stabil, namun laba perusahaan di kuartal ketiga diketahui menyusut 0.6%. Dan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencapai 3,3%, laba kali ini masih berada jauh di bawah. Departemen Perdagangan Amerika Serikat melanjutkan bahwa negosiasi perusahaan besar lokal; seperti Facebook, Google dan Alphabet; telah mengikis laba perusahaan secara mayoritas.
Tingkat investasi perusahaan di Amerika Serikat masih menjadi sisi yang rentan bagi perekonomian setempat. Hal ini memperlihatkan bahwa perusahaan lokal tidak mengutamakan sektor pembelian perangkat lunak, fasilitas dan anggaran penelitian. Hanya saja, selama kuartal ketiga ini, jumlah investasi di sektor properti dari para konsumen berhasil mengimbangi investasi di sektor industri, yang kali ini menyusut.
Laba perusahaan yang menurun masih memperlihatkan adanya keraguan pasar terhadap kemajuan perang dagang. Belum lagi dengan faktor-faktor lainnya yang juga menjadi penyebab ekonomi Amerika Serikat ikut terjerumus; misal kenaikan biaya tenaga kerja, harga sumber energi yang lesu dan pesimisnya ekonomi dunia.
Menurut perusahaan data keuangan global, Refinitiv, mengemukakan dividen dari saham perusahaan S&P 500 di kuartal ketiga diperkirakan akan menurun 0,4%. Ini juga menjadi kemerosotan pertama dari perusahaan tersebut, semenjak tahun 2016.
Ramalan Perekonomian di Kuartal Keempat
Hingga hari ini, data di kuartal 4 memperlihatkan masih tingginya tendensi pengusaha untuk menanamkan aset mereka dan tingkat pengeluaran konsumen yang tidak menurun, meskipun terjadi penurunan di sektor produksi.
Data pertumbuhan Amerika Serikat di kuartal ketiga, menjadi standar tolak ukur dari Bank Sentral FED untuk menetapkan kebijakan moneter mereka.
Sebelumnya, FED mencemaskan kondisi manufaktur, perdagangan dan investasi perusahaan yang memperlihatkan kecenderungan menurun, yang pada akhirnya membuat FED kembali menurunkan tingkat suku bunga. Ini merupakan ketiga kalinya FED menurunkan suku bunga mereka di tahun 2019.
Pada tanggal 25 November 2019, Ketua FED, Jerome Powell, mengemukakan bahwa ekonomi Amerika Serikat terus mengalami perkembangan selama 11 tahun terakhir. Ia juga memuji rekor yang berhasil dicetak Negeri Paman Sam.
Kepala Ekonom Bank MUFG New York, Chris Rupkey menyampaikan rasa syukurnya atas perkembangan ekonomi Amerika Serikat yang telah tumbuh dan mengarah ke sisi positif.
Menilik angka pengangguran yang berkurang dan jumlah pesanan yang bertambah, membuat Chris Rupkey optimis terhadap perkembangan ekonomi di tahun mendatang, yang diperkirakan oleh banyak pakar finansial akan terjadi resesi.
Ekonom Senior dari perusahaan Capital Ecomics, Michael Pearce mengemukakan bahwa secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi akan melambat dalam periode waktu yang singkat, tetapi proporsi tersebut akan lebih rendah dari yang semula diperkirakan.