Manusia bukanlah hasil proses evolusi, yaitu suatu proses perubahan yang tidak disengaja pada makhluk hidup secara bertahap dalam kurun waktu yang panjang, dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks, atau dari binatang tingkat rendah kepada bentuk binatang tingkat tinggi. Teori Evolusi Ilmiah (Naturalis Evolution) adalah teori yang menyesatkan dan memicu orang menjadi ateis atau tidak percaya terhadap eksistensi Allah. Sejatinya, manusia adalah hasil karya—dengan sengaja dan terencana—tangan Allah yang luar biasa, yaitu Elohim Yahweh. Manusia diciptakan dengan cara yang sangat unik dan istimewa, tidak seperti ciptaan-Nya yang lain. Ini adalah sebuah penciptaan teistis yang bertentangan dengan konsep teori evolusi ateis.
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kata-kata yang digunakan untuk “gambar” dan “rupa” di dalam teks Ibrani adalah tselem demuth (צַלְמֵ֖ דְמוּתֵּ֑). Tselem berarti gambar, sedangkan demuth menunjuk kepada keserupaan. Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Penciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah rancangan.
Kata tselem menunjuk kepada “gambar,” maksudnya bahwa manusia diciptakan dengan keadaan memiliki komponen-komponen yang juga dimiliki oleh Allah, yaitu pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan tersebut, dapat dilahirkan kehendak. Adapun demuth menunjuk kualitas dari pikiran dan perasaan tersebut. Kalau pikiran dan perasaan manusia berkualitas sesuai kehendak Allah, maka kehendaknya juga sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini menunjuk keserupaannya. Allah merancang agar manusia dapat mengembangkan diri sehingga dapat memiliki kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
Keserupaan dengan Allah yang dimiliki manusia bukan sesuatu yang sifatnya statis, melainkan progresif. Manusia pertama, Adam, harus mengembangkan keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Keserupaan mengalami proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia adalah kesegambaran-Nya (tselem) saja, yaitu komponen-komponen yang ada pada Allah, yang juga dimiliki manusia, yaitu pikiran dan perasaan (Kej. 1:27). Adapun kualitas komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth), menjadi tanggung jawab manusia untuk mengembangkannya. Kalau manusia mengembangkannya dengan baik, pikiran dan perasaannya selalu dapat melahirkan kehendak yang sesuai dengan Allah. Dalam hal ini, manusia bisa mencapai keserupaan dengan Allah.
Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah, berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas diri manusia. Dalam teks bahasa Yunani, kata “kehilangan” adalah yustereo (ὑστερέω; Rm. 3:23). Kata yustereo sebenarnya berarti “kurang” atau “tidak mencapai.” Dengan demikian, yang kurang atau hilang—tepatnya yang tidak “tercapai”—adalah keserupaannya, bukan gambar-Nya. Sampai kapan pun, gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu—yaitu pikiran dan perasaan—tidak hilang, tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah. Manusia tidak mampu memiliki kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini berarti, Adam gagal menemukan gambar diri yang ideal menurut Allah.
Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi kualitasnya berkeadaan tidak seperti yang Allah kehendaki. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah dalam kehidupan umat pilihan. Di sini, dapatlah kita pahami bahwa kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang.