Meskipun Yosua tanpa sepengetahuannya sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi penerus Musa. Tetapi tetap saja pada saat Yosua memimpin tiba, ia sempat merasa ragu dengan kesanggupannya. Hal memasuki tanah Kanaan bukanlah perkara yang mudah, sebab untuk bisa memasuki tanah tersebut, bangsa Israel harus menaklukkan penduduk-penduduk yang ada di sekitarnya. Sebagai seorang manusia, Yosua merasa cemas, gelisah dan kuatir. Namun demikian, panggilan Tuhan atas Yosua tidak pernah salah. Di saat perasaan gentar dialami Yosua, Firman Tuhan datang untuk menguatkan hatinya.
Dan Tuhan pun memberi perkataan kepadanya seperti yang tertera pada awal kitab Yosua ini (ayat 8). Dan disinilah kita kemudian menemukan kata ‘berhasil dan beruntung’, yang ternyata bukan sekedar kata-kata hiasan atau penghiburan semata-mata bagi Yosua, namun perkataan yang mengandung makna suatu pencapaian yang Tuhan janjikan kepada umat-Nya. Di saat Yosua sedang mengalami kegentaran, justru disitu Tuhan memberikan kunci kemenangan. Apa yang ditakutkan oleh Yosua sehingga Tuhan menjanjikan keberhasilan dan keberuntungan? Yosua takut ia tidak bisa memimpin secakap Musa pendahulunya. Ia juga takut tidak bisa membawa bangsa Israel menduduki tanah yang dijanjikan Tuhan. Dan sejumlah rasa takut lainnya.