Tuhan Yesus adalah Allah Anak yang memilki segala kemuliaan, kekuasaan dan kehormatan sebagai Tuhan. Kesediaan meninggalkan takhta kemuliaan-Nya adalah kerelaan kehilangan hak-hak-Nya. Dalam sejarah kehidupan Tuhan Yesus selama dalam dunia ini dengan memakai tubuh daging (sarkos), Ia menampilkan kehidupan yang diwarnai dengan penderitaan, baik secara fisik maupun psikis, yang semua itu merupakan ekspresi dari kerelaan kehilangan hak-hak-Nya. Dalam perjalanan hidup-Nya selama tiga setengah tahun, Ia juga telah kehilangan kehormatan-Nya di mata sebagian besar orang-orang Yahudi. Dalam suatu kesempatan Ia dituduh sebagai orang gila (Mrk. 3:21), juga dituduh menggunakan kuasa Beelzebul dalam mengusir setan (Luk. 11:15). Dengan tuduhan tersebut, maka Yesus telah didakwa sebagai kerasukan setan. Kehormatan-Nya di mata manusia menjadi hancur sama sekali ketika Ia harus menghadapi pengadilan Pilatus, imam besar dan Herodes (Mat. 26:48-75). Penduduk Yerusalem meneriakkan seruan yang sangat menyakitkan, agar Yesus disalibkan. Akhirnya Ia disalib dengan tuduhan sebagai penghujat Allah dan penyesat rakyat agar melawan Kaisar. Ia disalib dengan penilaian publik sebagai penjahat besar dan dipandang sebagai terkutuk (Gal. 3:13). Dalam hal ini jelas bahwa Ia merelakan kemuliaan-Nya hilang untuk sementara waktu. Yesus benar-benar rela kehilangan reputasi, harga diri dan prestis.
Dalam suatu percakapan Yesus berkata: “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” Dari pernyataan Yesus ini jelas sekali menunjukkan bahwa Ia rela kehilangan hak kehormatan yang dimiliki-Nya sebagai Tuhan yang datang dari tempat Yang Mahatinggi. Keunggulan-Nya sebagai Allah Yang Mahatinggi tidak menahan-Nya untuk merendahkan diri. Ekspresi kerelaan kehilangan hak dihormati manusia juga ditunjukkan dengan tindakan-Nya mencuci kaki murid-murid-Nya dalam suatu perjamuan terakhir sebelum Yesus menghadapi penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya (Yoh. 13). Narasi pembasuhan kaki sungguh mengejutkan. Narasi ini berlatar belakang pra paskah. Robert Kysar menyatakan bahwa peristiwa pembebasan yang Allah kerjakan bagi umat-Nya dalam beberapa hal merupakan sebuah pratanda bagi makna tindakan Allah dalam Kristus.
Sikap Tuhan Yesus yang merendahkan diri sedemikian rupa itu, dinyatakan oleh Donald S. Whitney sebagai Hamba Yang Sempurna. Hamba Yang Sempurna ditunjukkan dengan kesediaan-Nya melakukan segala sesuatu guna memenuhi tugas yang dipercayakan kepada-Nya. Hal ini dinyatakan oleh Paulus dalam pernyataannya: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Salib adalah realitas praksis dan praktis dari kerelaan Yesus kehilangan hak untuk dihormati. Di sinilah dapat ditemukan puncak pengabdian Yesus. Jadi puncak pengabdian Yesus, adalah tatkala Ia rela kehilangan segala kehormatan-Nya yang dipresentasikan dengan kayu salib.
Paulus sebagai model seorang pelayan Tuhan yang telah menunjukkan kepiawaiannya sebagai pemimpin yang melayani, mengemukakan kesaksian hidupnya bahwa ia rela menjadi hamba bagi semua orang karena Kristus (1Kor. 9:19). Menjadi hamba berarti rela direndahkan, kehilangan kehormatan. Sikap hati seperti Yesus yang telah dijelaskan di atas adalah sikap hati yang harus diteladani oleh setiap pengikut-Nya yang melayani Dia. Para pelayan Tuhan harus rela kehilangan kehormatan di mata manusia demi tugas yang harus diemban. Tidak ada sesuatu yang boleh dapat menjadi nilai lebih dalam kehidupan seorang pelayan, yang oleh karenanya ia merasa memiliki hak untuk menjadi terhormat.
Jabatan sebagai pelayan gereja atau pelayan jemaat bukanlah jabatan yang lebih tinggi dari jabatan yang lain, sebab nilai atau kualitas jabatan bukan terletak kepada jenis jabatan tersebut semata-mata, tetapi motivasi terdalam seseorang melakukan suatu pekerjaan. Jadi,