Dalam Alkitab kita dapat menemukan kenyataan adanya penolakan yang dialami Yesus dari banyak pihak terjadi sejak kedatangan-Nya ke dalam dunia (Yoh. 1:11). Sejak dalam kandungan Ia tertolak. Pertama kali penolakan itu datang dari Yusuf, tunangan Maria. Walau pada akhirnya Yusuf menerima Maria setelah diberitahukan oleh Malaikat perihal kehamilan Maria, tetapi Yusuf sempat menolak kehadiran Yesus dalam rahim Maria (Mat. 1:19-20). Penolakan berikut terjadi oleh penduduk Bethlehem yang tidak menerima Maria dalam rumah mereka. Penolakan yang paling berbahaya adalah perlawanan Herodes yang sangat bengis, karena merasa terancam dengan kedatangan-Nya. Herodes terancam karena dengan kedatangan sosok yang diakui sebagai Raja, kedudukannya ada dalam posisi berbahaya.
Karena orang-orang tahu masa kecil Yesus, bahwa Ia adalah anak pasangan Yusuf dan Maria dari Nazaret, maka Ia tidak dihargai sama sekali, mereka menolak kehadiran Yesus sama sekali di kota tersebut. Sebagai sosok yang menampilkan kehidupan yang berbeda dengan guru-guru agama dan ahli-ahli Taurat, Yesus sering tertolak oleh lingkungan-Nya (Luk. 17:25). Untuk menyukakan Bapa-Nya Yesus menyerahkan seluruh hak hidup-Nya. Dalam salah satu tulisannya Paulus mengatakan: “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:6-7).
Sikap Yesus yang dapat dilihat dalam peristiwa salib, terkandung banyak hal kerelaan kehilangan hak untuk diterima. Yesus yang adalah Allah itu sendiri di dalam keserupaan-Nya dengan manusia, berani untuk tidak membela diri ketika seorang berkata kepada-Nya “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” (Mrk. 15:29-30). Kerelaan seperti ini adalah bentuk wujud yang dicontohkan Yesus untuk memberikan teladan kepada semua murid-murid-Nya.
Dalam kisah yang bertalian dengan kelahiran Yesus, Maria ibu Yesus menunjukkan kerelaannya untuk tidak diterima oleh lingkungannya. Penyerahan sebagai budak yang hidup untuk kepentingan majikannya juga ditunjukkan oleh Maria ketika ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah pelayan Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:18). Dapat diperhitungkan, kalau Maria hamil tanpa suami, menimbulkan penolakan yang hebat dari masyarakat Yahudi yang sangat moralis pada zamannya. Dalam hal tersebut Maria rela kalaupun harus diasingkan dari masyarakatnya, dirajam batu atau segala resiko yang lain yang harus diterimanya. Hal ini menunjukkan sikap yang sangat luar biasa dari wanita muda ini. Bisa dimengerti mengapa Allah memilih dirinya menjadi ibunda dari Mesias.
Kerelaan untuk tidak diterima tersebut, merupakan ciri dari kehidupan seorang pelayan Tuhan yang rela berjiwa hamba seperti Yesus Kristus. Jabatan pelayan Tuhan dalam gereja bukanlah jabatan yang menuntut untuk dihargai dalam bentuk perlakuan khusus. Untuk ini seorang pelayan Tuhan tidak harus atau tidak perlu memiliki atribut-atribut tertentu yang memberikan pancaran agar diterima sebagai orang istimewa dengan kewibawaan seorang rohaniwan. Dalam hal ini seorang pelayan Tuhan tidak menuntut mendapat tempat di hati jemaat yang dilayani. Bahkan sekalipun kehadirannya di suatu tempat tidak diterima, maka ia harus menerima realitas tersebut sebagai hal yang wajar. Tentu saja seorang pelayan Tuhan menghindari tindakan salah yang tidak terpuji, yang membuat dirinya tertolak oleh masyarakatnya.
Di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya dan lain-lain, di mana filosofi materialisme begitu kuat dan ditambah teologi kemakmuran yang diakui sebagai kebenaran oleh sebagian orang Kristen, keadaan ekonomi yang lemah seorang pelayan Tuhan dapat dicurigai atau dianggap sebagai “tidak diberkati” Tuhan. Hal ini akan menciptakan perasaan inferiority complex atau rendah diri.