Dalam Roma 8:15 Paulus mengatakan: Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh perbudakan dalam teks aslinya adalah pneuma douleias (πνεῦμα δουλείας). Roh perbudakan menunjuk gairah, spirit atau hasrat duniawi yang bertentangan dengan kehendak Allah. Roh perbudakan ini menguasai orang-orang yang tidak hidup menurut roh. Sejak kanak-kanak seorang anak manusia hidup dalam asuhan orang tua yang pada umumnya tidak mengenal kebenaran. Orang tua mengajarkan berbagai filosofi yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Ditambah lagi dengan lingkungan pendidikan, pergaulan dan berbagai masukan lainnya, seorang anak manusia dipenuhi oleh filosofi yang berasal dari dunia ini.
Biasanya filosofinya adalah materialisme, yaitu filosofi yang mengatakan bahwa nilai tertinggi kehidupan adalah materi, di dalamnya terdapat harta atau uang. Padahal cinta uang adalah akar segala kejahatan. Hal ini membuat seseorang jatuh dalam berbagai belenggu atau ikatan keinginan-keinginan. Hidupnya pasti dikontrol atau dikendalikan oleh dunia ini. Kontrol atau kendali tersebut dengan menggunakan barang-barang dunia dan kehormatan serta perasaan bahagia yang difasilitasi oleh kedua faktor tersebut. Inilah orang-orang yang menurut surat Yohanes sebagai orang-orang yang hidup dalam keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup. Orang-orang diperbudak oleh keinginan-keinginan tersebut. Orang-orang seperti ini ada di dalam roh perbudakan.
Kita harus memahami bahwa roh perbudakan ini sebenarnya hendak menunjuk kebalikan atau lawan dari roh Kristus (pneuma kristou; πνεῦμα Χριστοῦ). Dalam teks bahasa Yunani kata roh Kristus, tidak menggunakan huruf besar, sebab memang sebenarnya dalam bahasa Yunani selain huruf pertama dalam kalimat, semuanya huruf kecil. Jadi belum tentu salah kalau roh Kristus, huruf r nya ditulis dalam huruf kecil, sebab roh Kristus (dalam teks dan konteks ini) bisa menunjuk kepada gairah yang ada di dalam diri Tuhan Yesus, bukan menunjuk kepada Pribadi Tuhan Yesus. Ini disebut sebagai gairah anak Allah, artinya setiap orang percaya seharusnya memiliki gairah ini dalam kehidupan mereka. Jika tidak berarti mereka bukan anak Allah. Dalam hal ini “anak Allah” bukan sekedar sebutan, tetapi merupakan keberadaan.
Roh yang memuat gairah, spirit atau hasrat seperti yang ada pada Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti kita, tidak dapat diperoleh secara mudah apalagi otomatis. Harus diperjuangkan, yaitu melalui hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran melalui logos (konsep-konsep yang diterima melalui pengajaran) dan rhema yang diterima melalui segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini. Logos dan rhema membangun cara berpikir, dan cara berpikir membangun roh dalam arti gairah, spirit dan hasrat. Hidup dalam pimpinan Roh Kudus menghasilkan atau melahirkan roh tersebut. Selanjutnya setelah menemukan roh tersebut, orang percaya harus hidup menurut roh tersebut.
Orang-orang Kristen yang ada dalam roh perbudakan, tidak hidup menurut roh. Ini sama artinya tidak hidup dalam hasrat atau gairah Kristus, gairah yang dikenakan oleh Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti kita. Orang-orang yang tidak memiliki roh Kristus adalah orang-orang yang ada di dalam perbudakan, artinya dikuasai oleh hasrat atau gairah yang bertentangan dengan hasrat atau gairah Kristus. Orang-orang ini tidak pernah hidup dalam pimpinan Roh Kudus secara benar. Tentu saja mereka tidak hidup dalam kehendak Allah. Mereka hidup dalam kehendak diri sendiri atau kehendak yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keadaan ini adalah keadaan “diperbudak” atau hidup dalam perbudakan. Orang-orang yang ada dalam perbudakan ini adalah orang-orang yang tidak layak memanggil Allah sebagai Bapa. Mereka adalah anak-anak dunia,