Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Harus dipahami, bahwa menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah rancangan dari Allah Tritunggal. Kata-kata yang digunakan untuk gambar dan rupa di dalam teks asli Alkitab dalam bahasa Ibrani adalah tselem demuth (תוּמדְ םלֶצֶ). Dua kata ini digabung tanpa kata penghubung, tetapi kalau secara terpisah tselem sering diartikan sebagai gambar. Kata tselem hendak menunjuk gambar dalam arti bahwa komponen-komponen yang dimiliki Allah yang juga dimiliki manusia yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Sedangkan demuth artinya keserupaan atau kemiripan, hal ini menunjuk kualitas. Kemudian dalam Kejadian 1:27 tertulis: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Di ayat ini Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem), tidak ada kata keserupaan (demuth).
Adapun demuth adalah keserupaan yang menunjuk kepada kualitas atas komponen-komponennya (pikiran, perasan dan kehendak). Kata demuth lebih menunjuk kepada kemiripan (Ing. fashion, like, similitude). Keserupaan dengan Allah yang dimiliki manusia ini bukan sesuatu yang sifatnya statis, tetapi progresif. Dan manusia pertama, Adam harus mengembangkan sendiri keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Kemiripan ini (demuth) mengalami proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia adalah segambarannya (demuth) saja, yaitu manusia memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah, yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Adapun kualitas komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth) menjadi tanggung jawab manusia.
Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa Yunani kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω; Rm. 3:23). Sampai kapanpun gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu tidak hilang yaitu pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat lagi bisa mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah. Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak mencapai. Hal ini sama artinya, bahwa Adam belum menemukan gambar diri yang benar atau ideal menurut Tuhan. Adam belum pernah menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam sudah mencapai kemuliaan yang dikehendaki Allah, berarti Adam mampu memiliki moral seperti Allah, sehingga Adam hidup dalam penurutan dan penghormatan yang pantas terhadap Allah. Ini juga berarti Adam berhasil menjadi corpus delicti.
Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah tersebut dalam kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut. Kemuliaan Allah itu terdapat pada moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum, tetapi memiliki cara berpikir dan nurani seperti Allah.
Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepada-nya.