Truth Daily Enlightenment

Salah Asuh


Listen Later

Dewasa ini, sering kali dikesankan oleh pembicara di mimbar bahwa karena Allah baik maka Allah pasti membawa orang percaya ke surga tanpa tatanan. Seperti seorang ayah yang ingin anaknya tidak celaka, maka ia mengusahakan bagaimana anaknya tidak mengalami kesulitan. Dicukupi kebutuhannya, bahagiakan hidupnya, dan kadang-kadang orangtua sampai memiliki beberapa pembantu untuk mengurus anak, memberikan mobil dan supir khusus, dan seterusnya. Allah digambarkan seperti itu. Ya, kalau anak-anak Allah tersebut masih belum dewasa, masih bisa dimaklumi. Tetapi ada saat dimana anak-anak harus menjadi dewasa, tidak lagi dimanja oleh orangtua. Anak-anak harus mulai memiliki kecerdasan rohani seperti Allah, pikiran dan perasaan seperti Allah, dan berkorban apa pun demi pekerjaan Bapanya.
Kalau dikesankan bahwa Allah selalu memperlakukan orang Kristen atau anak-anak Allah seperti seorang ayah di dunia ini yang memperlakukan anaknya dengan dimanja tersebut, itu menyesatkan. Banyak orangtua yang salah didik, overprotective atau terlalu berlebihan melindungi anak, sampai akhirnya anak tersebut tidak mandiri, malas, tidak memiliki drive perjuangan, dan itu mencelakai anak tersebut. Bapa di surga tidak akan melakukan hal ini karena Ia memiliki tatanan di dalam diri-Nya: apa yang kamu tabur, itu juga yang harus kamu tuai. Karena tatanan ini, maka Bapa di surga akan mulai ‘menghajar’ orang yang disebut-Nya sebagai anak-anak Allah.
Alkitab mengatakan jelas dalam Ibrani 12:7, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Kalau ada orangtua di dunia ini yang salah asuh terhadap anak dan akhirnya merusak karakter dan kepribadian maupun watak anak, Bapa di Surga tidak mungkin melakukan hal tersebut. Yang merusak itu adalah ketika seorang pembicara atau pengkhotbah mengajarkan seakan-akan Allah selalu bersikap seperti ayah di dunia ini yang selalu memanjakan anak. Siapa yang tidak mau?  Jemaat pasti senang punya Allah seperti itu. Dia baik, “tatkala aku lemah, dikuatkan; sakit, disembuhkan; kebutuhanku dipenuhi. Allah mengerti, Allah peduli.” Ini sebenarnya “membodohi” orang Kristen. Kalimat-kalimat lagu itu sendiri tidak salah, jika ditinjau dari umur rohani orang Kristen itu dan ditinjau dari isi kepeduliannya. “Allah mengerti, Allah peduli,” mengerti dan peduli dalam hal apa? Tentu Allah sangat peduli dengan kebutuhan jasmani kita—makan, minum, kesehatan, dll—tetapi Allah lebih peduli dengan keselamatan kekal kita.
Ketika diajarkan dengan penggambaran Allah yang salah—seperti orangtua yang selalu memanjakan anak-anaknya—maka orang Kristen tidak menjadi dewasa. Selalu berbicara mengenai berkat yang berlimpah, pemulihan ekonomi, mukjizat, dan sebagainya. Saya tidak katakan salah adanya mukjizat dan berkat jasmani, tetapi itu bukanlah inti dari hidup kekristenan. Inti dari hidup kekristenan adalah menjadi anak-anak Allah yang berkarakter seperti Bapa di surga. Ini yang benar. Dan untuk berkarakter seperti Bapa di surga, perlu belajar. Kita harus benar-benar kerja keras mempertaruhkan segenap hidup untuk memperoleh karakter seperti Bapa yang diperagakan oleh Tuhan Yesus Kristus.
Selanjutnya, kita harus berani menjadi anggur tercurah, roti yang terpecah seperti Tuhan Yesus, bukan hanya memberi perpuluhan lalu berharap dikembalikan berlipat kali ganda—tetapi bagaimana memiliki kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah, dimana sampai titik tertentu, kita merasa tidak memiliki kepentingan apa-apa lagi. “Kepentinganku hanya diri-Mu, ya Allah, melayani perasaan Bapa.” Akhirnya bisa sampai taraf atau tingkat itu.  Jadi, kekristenan itu memang harus progresif dan bertumbuh. Waktu baru menjadi Kristen, yang dipikirkan mukjizat, kesaksian-kesaksian, sampai hal-hal kecil pun disaksikan. Tetapi begitu kita bertumbuh dewasa, kita tidak lagi mempersoalkan apa penilaian orang lain terhadap kita, yang kita persoalkan adalah bagaimana penilaian Allah t...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings