Ps. Samuel Anton membahas “Preaching while we are wounded.” Bagaimana kita bisa berkhotbah ketika kita sendiri sedang mengalami krisis: kehilangan iman, berduka, bergumul berat dengan masalah hidup kita? Ps. Samuel Anton mengingatkan, “Our greatest ministry comes from our greatest pain.” Ada kalanya pengkhotbah mengalami krisis yang merontokkan imannya dan membuat kelu atau marah. Bahkan ingin meninggalkan pelayanan. Masalah berat membuat pengkhotbah enggan dan berat untuk sampaikan Firman apalagi tatkala ia sendiri tak sanggup menguatkan dirinya. Ps. Anton berpesan, “Lembah ada untuk dilalui bukan ditinggali.”