Malaise budaya (moral) berarti orang Jawa sedang ada proses pergeseran etika yang luar biasa. Hal ini memang sulit dipungkiri, karena di Jawa sedang terjadi tawar menawar budaya. Budaya lain baik yang mendukung maupun yang meracuni, tetap menggeser sikap dan perilaku. Budaya konsutivisme, materialism, individualism, dan paham0paham isme lainnya. Selalu menerjang kehidupan orang Jawa. Akibatnya Etika Jawa yang dulunya amat luhur mulai kehilangan nyalinya. Proses perubahan etika itu harus terjadi. Karenanya, tak mengherankan jika kelak muncul etika Jawa yang asli dan jjuga etika Jawa tiruan (yang terpengaruh).
Etika Sosial setiap strata sosial memiliki etika yang berbeda. Perbeedaan ini didasarkan pada “unen-unen” negara mawa tata, desa mawa cara, artinya masing-masing tempat memiliki etika yang berbeda-beda. Etika ini menyangkut sikap, tingkah laku, etika bahasa, dan etika pertemuan. Etika sosial biasanya berbentuk anjuran-anjuran dan larangan-larangan untuk bersikap dan berbuat sesuatu.
Pada masa modernitas saat ini, semakin meluasnya budaya-budaya luar yang masuk ke masyaraka Jawa, membuat masyarakat lokal sendiri semakin abai dengan konsep budayanya sendiri termasuk tidak lagi menerapkan esensi utama dari etika budaya Jawa.
Sehingga etika jawa yang dibangun sejak masa leluhur pun pada akhirnya terancam punah dan ditambah lagi tidak adanya filter budaya asing yang begitu diterima oleh masyarakat sehingga masyarakat kehilangan esensi moralnya.
Untuk lebih jelasnya tentang penjelasan Etika Jawa dala pandangan Budayawan dan Filsafat. Simak Podcast Sarang Kodok bersama dua Narasumber. Damar Shashangka (Budayawan dan Penulis) dan Anton Ardiansyah (Akademisi dan Dosen Ilmu komunikasi, Universitas Mercu Buana Jakarta). dipandu oleh Host Radita Gora.